Cerpen: Pesan yang Tak Terbaca

(Kisah dari Relawan Dirahmati) Di beranda rumah tua di pinggir kota Kuningan, sebuah ponsel tergeletak di atas meja kayu. Layarnya retak di ujung, tapi masih menyala, menampilkan deretan pesan yang belum pernah dibuka. “Selamat pagi, Pak. Kami hanya ingin bertemu sebentar.” “Bagaimana kabar Bupati? Kami rindu berdiskusi seperti dulu.” “Pak, relawan di desa mulai kecewa. … Baca Selengkapnya

Cerpen: Lawan Sebelum Mati

KUNINGAN (MASS) – Aku sedang menyimak seorang pemuda yang sedang berorator penuh semangat di depan gedung DPR, banyak mahasiswa dan masyarakat sipil di sana tapi mataku dan telingaku hanya berfokus padanya. Sambil ditemani satu mangkuk baso yang sudah mau habis, siapa dia namanya? Tanyaku pada Kang Baso yang sedang mencuci mangkuk. “Bara, dia ketua BEM … Baca Selengkapnya

Perjuangan dan Keyakinan

KUNINGAN (MASS) – Kenalkan namaku Jia. Aku anak ke-tiga dari tiga bersaudara. Aku mempunyai kakak laki-laki dan kakak perempuan. Kakakku yang pertama bernama Jefri, kakak perempuan ku yang kedua namanya Jeliyah dan kakak tertuaku sekarang sedang sibuk bekerja, saat ini kakak kedua ku sibuk dengan pendidikannya, anaknya rajin dan pandai. Terkadang ketika aku mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran sekolah, dia yang … Baca Selengkapnya

Ayah, Aku Ingin Beli Buku Baru!

“Bangun, sudah siang!,” Suara Ibuku lantang di telinga. Waktu masih pukul 5 pagi, tapi kata Ibu sudah terlalu siang. Aku lantas pergi ke tempat mandi. Tempat mandi umum. Jaraknya sekitar 30 meter dari rumah. Pagi buta tempat ini sudah menjadi yang paling ramai di kampungku. Meski kantuk masih terasa tapi aku paksa untuk mandi. Sambil … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bintang Dangdut

KUNINGAN (MASS) – Menjadi artis adalah cita-cita Lasmi saat masih muda. Ia ingin menjadi penyanyi dangdut yang terkenal seperti idolanya. Tetapi sekian lama mengolah suara dan mendendangkan lagu di tengah khalayak, tak juga membuatnya naik daun dan selevel dengan artis ibu kota. Ia hanya berakhir sebagai biduan orkes di panggung-panggung hajatan.  Setiap kali menonton acara … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kelas Daring Pertamaku

KUNINGAN (MASS) – Biasanya dimusim penghujan begini, pagi-pagi pun kumpulan awan mendung sudah mengepung seluruh penjuru desa dengan gelapnya. Namun pagi ini langit terlihat begitu cerah berwarna biru tanpa awan sedikitpun. Suara burung di atas ranting-ranting pepohonan mulai saut menyaut beriringan menciptakan harmonisasi lagu yang membuat suasana kedamaian di pagi ini. Matahari yang mulai muncul … Baca Selengkapnya

Cerpen: Kursi Peninggalan Kakek (Bagian II)

Sruputt… Kopi yang sudah dingin pun tetap enak diminum.Pikirannya kembali teringat pada kejadian awal sebelum tertidur. Ia pun bertanya pada dirinya sendiri kemana perginya orang gila itu?…. “Ke arah barat,” kata sebuah suara besar yang datang dari arah kanan.Serentak bulukuduknya berdiri. Tubuhnya kali ini benar-benar kaku. Keringat dinginnya lagi-lagi mengucur deras. Ia pun tak berani … Baca Selengkapnya

Mentari Jingga (Cerpen)

KUNINGAN (MASS) – Mata tak berkedip. Terfokus begitu kuat pada daftar hadir siswa baru. Tepat pada urutan ke tujuh belas sebelum kusebut namanya, aku tengadah. Padangan langsung diarahkan secara saksama pada wajah-wajah siswa kelas tujuh baru itu. Pada pengabsenan nama siswa deretan awal aku tidak terlalu memerhatikan nama dengan wajah anak-anak baru tersebut. Namun untuk … Baca Selengkapnya

Cerpen : Negri Pura-Pura

Kini aku hidup di sebuah negri yang jauh dari planet asalku, Bumi. Disini, negri yang dihuni para aktor. Semua aktor, tentu saja punya keahlian yang sama. Pura-pura. Akting. Seolah-olah. Hanya aku yang belum bisa. Maklum, aku adalah orang pindahan. Orang baru di negri ini. Masih banyak perlu penyesuaian, pikirku. Seperti di muka bumi. Semua penghuni … Baca Selengkapnya

Melupakan Namamu

Daun pintu dan kusen jendela rumah ini memang berwarna putih. Tetapi ketika melangkah keluar, dan sesampainya di ujung beranda, pintu itu seolah-olah menjadi hitam. Entah syarafku yang rusak atau penglihatanku yang tidak baik-baik saja. Kendati demikian, aku membiarkannya saja, “Biarlah,” ucapku dalam hati. Aku menganggapnya sebagai kesempurnaan dan keseimbangan, “Semoga saja aku menemukan makna adil … Baca Selengkapnya