Ayah, Aku Ingin Beli Buku Baru!

“Bangun, sudah siang!,” Suara Ibuku lantang di telinga. Waktu masih pukul 5 pagi, tapi kata Ibu sudah terlalu siang. Aku lantas pergi ke tempat mandi. Tempat mandi umum. Jaraknya sekitar 30 meter dari rumah. Pagi buta tempat ini sudah menjadi yang paling ramai di kampungku. Meski kantuk masih terasa tapi aku paksa untuk mandi. Sambil … Baca Selengkapnya

Cerpen: Kursi Peninggalan Kakek (Bagian II)

Sruputt… Kopi yang sudah dingin pun tetap enak diminum.Pikirannya kembali teringat pada kejadian awal sebelum tertidur. Ia pun bertanya pada dirinya sendiri kemana perginya orang gila itu?…. “Ke arah barat,” kata sebuah suara besar yang datang dari arah kanan.Serentak bulukuduknya berdiri. Tubuhnya kali ini benar-benar kaku. Keringat dinginnya lagi-lagi mengucur deras. Ia pun tak berani … Baca Selengkapnya

Cerpen: Kursi Peninggalan Kakek

Hari sudah usai. Burung-burung telah tiba di peraduan. Sinar mentari samar-samar terpancar dari pekatnya langit senja. Diantara suara adzan Ilham berjalan tergesa-gesa. Tas ransel yang digendong di pundak sebelah kiri sesekali dibenarkan supaya tidak jatuh. Baju flannelnya agak basah bercampur keringat. Sesekali ia melompat melewati genangan air. Atau berhenti sejenak karena sorot lampu kendaraan yang … Baca Selengkapnya

Cerpen: Gara-gara Kopi dan Catur

Burung walet yang terlihat di langit biru terbang menukik tajam ke bawah, kemudian bermanuver dan kembali lagi terbang ke atas. Berlenggak-lenggok di awang-awang menembus cakrawala melintasi lintasan angin. Sayapnya kadang dikepakan dengan cepat, kadang pula ditekuk. Atraksilah dia bak pesawat tempur yang siap menembus wilayah kekuasaan lawan. Pilotnya begitu mahir mengendalikan sayap dan mesin alamiah … Baca Selengkapnya