Fenomena AI dan Potret Pendidikan Indonesia, Wina: Tak Cukup Cetak Orang Pintar Tapi Butuh Manusia Berkarakter

KUNINGAN(MASS) – Tolak ukur negara maju sering kali hanya dilihat dari kecanggihan teknologi, kekuatan ekonomi, atau modernisasi infrastruktur. Namun, esensi utama yang menjadi fondasi paling mendasar sebenarnya terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter.

Hal tersebut ditegaskan oleh Wina Juliana, seorang mahasiswi program studi Hukum Ekonomi Syariah dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah Kuningan (STISHK). Ia menyoroti adanya ketimpangan antara kemajuan teknologi dan perkembangan moral bangsa saat ini.

“Ketika berbicara tentang negara maju, banyak orang langsung membayangkan teknologi canggih, ekonomi kuat, atau infrastruktur modern, Ketika berbicara tentang negara maju, banyak orang langsung membayangkan teknologi canggih, ekonomi kuat, atau infrastruktur modern,” tuturnya kepada kuninganmass.com Rabu (3/6/2026).

Menurut Wina, di era kecerdasan buatan (AI) sekarang, manusia memang semakin mudah untuk memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan. Namun ironisnya, kemajuan teknologi ini tidak diikuti oleh kemajuan karakter, yang dibuktikan dengan masih maraknya korupsi, krisis integritas, hingga menjamurnya ujaran kebencian di media sosial.

“Apalagi di era kecerdasan buatan (AI) ini, manusia semakin mudah memperoleh informasi dan pengetahuan. Namun ironisnya, kemajuan teknologi ini tidak diikuti oleh kemajuan karakter,” paparnya.

Pandangannya senada dengan pernyataan figur publik Dokter Tirta dalam sebuah podcast. Dokter Tirta sempat menyatakan jika dirinya diberi kesempatan menjadi pejabat negara, ia lebih memilih menjadi Menteri Pendidikan karena kemajuan bangsa mutlak berawal dari kualitas manusianya.

“Dokter Tirta dalam sebuah podcast yang menyebut bahwa jika diberi kesempatan menjadi pejabat negara, ia lebih memilih menjadi Menteri Pendidikan. Alasannya sederhana: kemajuan bangsa berawal dari kualitas manusianya, dan pendidikan merupakan kunci utama pembentuk kualitas tersebut,” tandasnya.

Wina menilai, pendidikan formal saja saat ini belum cukup karena kecerdasan intelektual tidak selalu sejalan dengan kualitas moral. Banyak kasus korupsi di Indonesia berdasarkan data Corruption Perceptions Index (CPI) 2024, Indonesia berada di peringkat 99 dari 180 negara dengan skor 37 dari 100, yang menandakan korupsi masih menjadi persoalan besar.

“Berdasarkan Corruption Perceptions Index (CPI) 2024 yang dirilis oleh Transparency International, Indonesia memperoleh skor 37 dari 100 dan berada di peringkat 99 dari 180 negara,” tambahnya.

Oleh karena itu, Wina menekankan pentingnya peran dakwah sebagai pilar pendukung pendidikan karakter di tengah masyarakat. Ia meluruskan bahwa dakwah jangan hanya dipandang sempit sebagai ceramah di masjid, melainkan sebuah proses nyata dalam mengajak manusia menuju perubahan sosial yang positif.

“Pendidikan berfungsi mencerdaskan manusia, sedangkan dakwah membantu membentuk karakter dan kesadaran moralnya, pendidikan tanpa karakter berpotensi melahirkan kecerdasan yang disalahgunakan,” pungkasnya. (raqib)