Saptonan, Kesenian Khas Kota Kuda

KUNINGAN (Mass) – Pemerintah Kabupaten Kuningan kembali menggelar lomba ketangkasan berkuda tradisi Saptonan, dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Kuningan ke 518 di Lapangan Ancaran Kuningan, Kamis (1/9). Lomba ketangkasan berkuda Saptonan ini merupakan sebuah tradisi yang rutin digelar setahun sekali.

Tradisi saptonan tersebut dikemas dengan pagelaran tradisional seba atau penyerahan upeti, serta lomba panahan tradisional. Hadir dalam kesempatan itu Bupati Kuningan H Acep Purnama SH MH, para pejabat, camat, dan kepala desa, serta unsur pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Kuningan.

Ribuan warga tampak antusias menonton aksi para joki yang memacu kudanya, sekaligus dengan membawa tombak untuk dilontarkan pada sasaran lubang kecil di bawah ember berisi air, yang digantungkan pada mistar gawang setinggi sekitar 3 meter.

Belasan penunggang kuda Saptonan, sebagian besar merupakan para kusir delman. Peserta Saptonan secara bergantian adu cepat memacu kudanya mengarah ke mistar gawang lalu menghunuskan sebatang tombak ke titik sasaran.

Tak jarang, para penunggang kuda akhirnya gagal mencapai gawang mistar karena kuda yang ditungganginya sulit dikendalikan hingga akhirnya berbelok arah. Bahkan, cukup banyak juga yang meleset saat melontarkan tombak ke titik sasaran.

Bupati Kuningan H Acep Purnama SH MH mengatakan, acara tradisional ini merupakan warisan leluhur Kuningan ratusan tahun silam. Karena, ditandai dengan penyerahan aneka hasil bumi dari para tumenggung kepada kerajaan untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat.

“Saptonan dan tradisi panahan ini merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh para pendahulu kami, para pendiri Kabupaten Kuningan. Dimana, salah satunya yakni ciri khasnya dengan berkendaraan kuda, sesuai dengan kondisi jaman dulu berkendara dengan kuda,” katanya.

Tradisi yang terus dijaga kelestariannya ini kata Acep, disamping ada pembinaan juga untuk diikut sertakan dalam perlombaan ketangkasan berkuda. Ketangkasan itu berupa memacu kuda dengan cepat, sambil melemparkan tombak ke titik sasaran yang ditentukan.

“Ini semata-mata sebagai rasa ungkapan syukur terhadap kelimpahan rizki dan anugrah yang diberikan Allah SWT. Disamping itu mengangkat nilai-nilai kebiasaan yang dilakukan para pendahulu kami, dan kami wajib melestarikan,” pungkasnya.(andri)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com