KUNINGAN (MASS) – Kalau pemerintah sudah bekerja sepanjang akhir pekan, kenapa IHSG tetap jatuh pada hari Senin?
Pertanyaan ini muncul di kepala banyak orang ketika Indeks Harga Saham Gabungan pada Senin, 2 Februari 2026, hingga jelang tengah hari ambles lebih dari 5 persen ke level sekitar 7.884.
Angka ini bukan sekadar statistik pasar. Ia adalah sinyal keras bahwa kepercayaan belum pulih.
Padahal, Sabtu dan Minggu sebelumnya negara tidak diam. Pemerintah bergerak cepat. Koordinasi lintas lembaga dilakukan.
Pernyataan penenang disampaikan. Wacana reformasi pasar modal digulirkan. Bahkan nama Danantara dan dana institusi besar ikut disebut sebagai penopang. Dari sisi niat, negara sudah hadir.
Namun pasar tetap jatuh. Artinya, ada jarak antara apa yang dikatakan negara dan apa yang diyakini pelaku pasar.
Langkah Akhir Pekan Layak Dihargai
Kita harus jujur mengakui, langkah pemerintah pada Sabtu dan Minggu patut diapresiasi. Dalam banyak kasus, justru kepanikan muncul karena negara lambat atau saling lempar tanggung jawab.
Kali ini tidak. Negara hadir, berbicara, dan mencoba memimpin narasi.
Pesan yang disampaikan jelas. Fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Gejolak IHSG dipandang sementara. Reformasi pasar modal akan dipercepat.
Ini penting untuk mencegah kepanikan massal dan menjaga optimisme publik.
Masalahnya, pasar modal bukan hanya mendengar kata kata. Pasar membaca arah. Dan pada Senin pagi, arah itu belum cukup meyakinkan.
Pasar Tidak Takut, Pasar Ragu
Sering kali kita mengira pasar jatuh karena panik. Padahal yang terjadi sekarang lebih tepat disebut ragu. Investor global dan domestik tidak sedang histeris. Mereka sedang berhitung.
Peringatan dari MSCI sebelumnya bukan tentang emosi, tetapi tentang kualitas pasar. Soal transparansi kepemilikan saham. Soal free float yang terlalu tipis.
Soal integritas data perdagangan. Ini bukan isu baru, tapi kali ini sorotannya terang.
Ketika masalahnya struktural, maka respons psikologis tidak cukup. Pernyataan stabilitas bisa menenangkan satu dua jam, tetapi begitu bursa dibuka, keputusan kembali ke tangan investor. Dan mereka memilih menjual atau menunggu.
Itulah sebabnya IHSG tetap tertekan sejak pembukaan hingga siang hari pada 2 Februari.
Bayangkan mobil melaju kencang lalu lampu peringatan mesin menyala. Pengemudi bisa menepuk dashboard sambil berkata, “Tenang, mesinnya kuat.” Mobil mungkin tetap jalan, tapi rasa percaya sudah hilang. Yang dibutuhkan bukan kata kata, melainkan bengkel.
Pasar sedang meminta bengkel, bukan pidato.
Danantara Bukan Tombol Ajaib
Nama Danantara muncul sebagai harapan baru. Sovereign wealth fund dianggap bisa masuk pasar, membeli saham, dan menahan kejatuhan. Secara jangka pendek, ini memang terlihat menjanjikan.
Namun pasar global tidak melihatnya sesederhana itu. Pertanyaan mereka bukan apakah Danantara punya uang, tetapi bagaimana Danantara dikelola. Apakah mandirinya jelas. Apakah keputusannya profesional. Apakah tidak ada tekanan politik.
Jika pertanyaan ini belum terjawab, maka kehadiran Danantara justru berisiko dibaca sebagai campur tangan negara yang tidak transparan. Bagi investor global, itu bukan penenang, melainkan lampu kuning tambahan.
Dana Pensiun dan Asuransi: Ide yang Terlihat Mudah, Tapi Berbahaya
Bagian paling sensitif dari wacana penenangan pasar adalah rencana menaikkan porsi investasi saham dana pensiun dan asuransi dari sekitar 8 persen menjadi 20 persen.
Di atas kertas, ini terlihat logis. Dana besar masuk pasar, tekanan jual berkurang, IHSG tertahan.
Namun logika pasar tidak boleh mengalahkan logika perlindungan publik.
Dana pensiun dan asuransi bukan dana spekulatif. Itu adalah uang hari tua buruh, pegawai, dan masyarakat luas.
Mendorong mereka masuk lebih dalam ke pasar saham yang sedang bergejolak sama dengan memindahkan risiko pasar ke tabungan masa depan rakyat.
Ketika IHSG bisa turun lebih dari 5 persen hanya dalam setengah hari perdagangan, risiko itu nyata. Jika kerugian terjadi, siapa yang menanggung?
Bukan negara. Bukan pembuat kebijakan. Yang menanggung adalah peserta dana pensiun dan pemegang polis.
Di sinilah potensi contagion muncul. Ketika masyarakat mulai khawatir nilai dana pensiun dan asuransinya tergerus, krisis kepercayaan bisa menjalar ke sektor lain.
Dari pasar modal ke sistem keuangan, lalu ke ekonomi riil.
Alih alih menjadi penyangga, dana pensiun dan asuransi justru bisa menjadi korban berikutnya.
Mengapa Pasar Tetap Menjual
Pasar pada Senin pagi menyampaikan pesannya dengan jujur. Penurunan IHSG ke sekitar 7.884 adalah bentuk ketidakpercayaan, bukan perlawanan.
Investor masih menunggu bukti. Bukan janji reformasi, tetapi tindakan.
Bukan wacana penegakan aturan, tetapi penegakan yang terlihat. Bukan rencana jangka panjang, tetapi langkah konkret yang bisa diverifikasi.
Selama itu belum muncul, pasar akan tetap berhati hati. Dan dalam bahasa pasar, kehati hatian sering berarti menjual.
Negara Perlu Naik Level
Langkah Sabtu dan Minggu lalu adalah respons darurat yang tepat. Tetapi fase berikutnya menuntut keberanian yang lebih besar.
Reformasi pasar modal harus benar benar menyentuh akar masalah, meski itu tidak populer dan menyentuh kepentingan besar.
Dana pensiun dan asuransi harus dilindungi, bukan dijadikan bantalan kejatuhan indeks. Danantara harus dibangun sebagai institusi investasi jangka panjang yang kredibel, bukan alat stabilisasi jangka pendek.
Ini Soal Kepercayaan, Bukan Grafik
IHSG yang terjun pada 2 Februari 2026 bukan sekadar cerita tentang saham. Ini cerita tentang kepercayaan. Negara sudah hadir, itu benar.
Tetapi pasar menuntut lebih dari kehadiran. Pasar menuntut kepastian bahwa aturan adil, data bersih, dan risiko tidak dialihkan ke rakyat.
Jika itu bisa dijawab, IHSG akan pulih dengan sendirinya. Jika tidak, setiap penenangan hanya akan menjadi jeda singkat sebelum penurunan berikutnya. Dan yang paling berbahaya, yang jatuh bukan hanya indeks, tetapi rasa aman masyarakat atas masa depan keuangan mereka.***
Achmad Nur Hidayat
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta







