KUNINGAN (MASS) – Beragam tarian dan prosesi adat mewarnai puncak perayaan Seren Taun 1957 Saka yang berlangsung di Paseban Tri Panca Tunggal, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Senin (8/6/2026).
Rangkaian acara yang dimulai sejak pagi hari diawali dengan penampilan Tari Jamparing Apsari, kemudian dilanjutkan Tari Puragabaya Gebang yang menampilkan semangat kepahlawanan serta kekayaan budaya Sunda.
Suasana semakin semarak dengan pertunjukan Angklung Kanekes dari masyarakat Baduy dan Angklung Buncis yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat agraris Kabupaten Kuningan.
Tari Buyung turut memukau masyarakat melalui gerakan yang menggambarkan kedekatan masyarakat Sunda dengan alam dan sumber kehidupan.
Selain itu, penampilan spesial datang dari Pulau Dewata melalui Tari Rejang Renteng yang dibawakan oleh perempuan-perempuan yang telah menikah dalam jumlah ganjil.
Tarian sakral yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO itu menjadi simbol penghormatan, rasa syukur, serta persembahan kepada Sang Pencipta.
Tidak hanya pertunjukan seni, puncak Seren Taun juga diisi dengan berbagai prosesi adat yang menjadi inti perayaan. Prosesi Helaran Memeron melibatkan partisipasi masyarakat dalam arak-arakan budaya, disusul Ngajayak sebagai bentuk penyambutan dan penghormatan kepada para tamu.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan doa bersama, serta Pangrajah yang sarat akan doa dan harapan keselamatan. Puncak prosesi ditandai dengan Penumbukan Padi sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi sekaligus penghormatan terhadap tradisi pertanian yang diwariskan para leluhur.
Ketua Yayasan Tri Panca Tunggal sekaligus Ketua Panitia Seren Taun, Dewi Kanti Setianingsih, mengatakan bahwa Seren Taun tahun ini mengusung tema “Merdika Ngolah Rasa untuk Masa Depan Bangsa”.
“Seren Taun tidak hanya menjadi tradisi syukur panen, tetapi juga sarana refleksi sosial dan kebangsaan yang mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan nilai-nilai Pancasila, gotong royong, dan kemanusiaan,” ujar Dewi Kanti. (didin)