Dukung Aturan Pendakian Gunung Ciremai Makin Ketat, Adi Dorong Peningkatan Fasilitas Seiring Tingginya Biaya Simaksi

KUNINGAN (MASS) – Salah satu pendaki gunung Adi Dimyati menyambut baik kebijakan pengetatan pendaftaran dan pemeriksaan perlengkapan pendakian di Gunung Ciremai. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan keselamatan serta membangun budaya pendakian yang lebih bertanggung jawab.

Hal itu diutarakan Adi, sesaat setelah melakukan pendakian, dan mengapresiasi petugas yang ketat pada para pendaki, mewajibkan membawa perlengkapan dasar seperti jas hujan, perlengkapan darurat, logistik makanan, air minum sesuai ketentuan, serta headlamp untuk setiap pendaki merupakan aturan yang penting untuk diterapkan.

Menurutnya, setiap pendaki harus memiliki kesiapan yang cukup sebelum memasuki jalur pendakian karena kondisi di gunung dapat berubah sewaktu-waktu. “Saya melihat kebijakan ini sebagai langkah yang baik. Pendaki memang harus datang dengan persiapan yang matang karena keselamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola, tetapi juga tanggung jawab masing-masing individu,” ujar Adi, Selasa (9/6/2026).

Tidak hanya di awal, ia juga mengapresiasi adanya pemeriksaan ulang terhadap barang bawaan pendaki, baik bagi yang melakukan pendakian tektok maupun yang berkemah. Menurutnya, pemeriksaan tersebut dapat membantu memastikan seluruh pendaki telah memenuhi standar perlengkapan minimum yang dibutuhkan selama berada di kawasan gunung.

Meski demikian, Adi menilai bahwa tingginya biaya pendakian saat ini perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas fasilitas dan pelayanan. Dengan biaya simaksi sekitar Rp120.000 ditambah biaya parkir Rp10.000, menurutnya wajar apabila pendaki memiliki harapan yang lebih besar terhadap pengelolaan kawasan pendakian.

“Biaya bukanlah persoalan utama selama manfaatnya dapat dirasakan oleh pendaki. Ketika standar keselamatan terus ditingkatkan, tentu akan lebih baik apabila fasilitas dan layanan pendukung juga terus berkembang sehingga pendaki merasakan nilai yang sepadan dari biaya yang telah dikeluarkan,” katanya.

Adi turut mengapresiasi langkah pengelola yang mulai membangun shelter atau tempat istirahat darurat di jalur pendakian. Ia menilai keberadaan fasilitas tersebut dapat menjadi penunjang penting bagi keselamatan pendaki, terutama saat menghadapi cuaca buruk atau kondisi darurat. Menurutnya, upaya peningkatan fasilitas seperti shelter menunjukkan adanya perhatian terhadap kebutuhan pendaki dan diharapkan dapat terus berlanjut di masa mendatang.

“Aturan yang ketat demi keselamatan tentu patut didukung. Harapannya, peningkatan pengelolaan tidak hanya terlihat dari sisi regulasi, tetapi juga dari kualitas fasilitas dan pelayanan yang diterima pendaki. Dengan begitu, keselamatan, kenyamanan, dan kepuasan pendaki dapat berjalan beriringan,” tutup Adi Dimyati. (eki)