KUNINGAN (MASS) – Nama Raja Jacob Ponto mendadak jadi perbincangan setelah Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyambangi makamnya di Desa Sangkanhurip, Kecamatan Cigandamekar, Kuningan, pada Jumat (3/4/2026). Banyak warga yang bertanya-tanya, siapakah sebenarnya sosok raja yang dimakamkan jauh dari tanah kelahirannya di Sulawesi Utara tersebut?
Rasa penasaran publik, terjawab oleh Rosta Engkos, kuncen dari makam tersebut. Rosta ternyata bukan orang sembarangan; ia adalah cicit dari Abah Kancil, orang kepercayaan yang sejak zaman dulu diamanahi untuk merawat, membersihkan, dan menjaga makam sang raja agar tetap rapi dan bersih dari rerumputan.
“Saya kan cicit dari Abah kancil, yang dulunya diamanahi menjaga makam ini, akhirnya saya yang meneruskan Karena ya dulu kan kotor dan rumputnya tinggi,” tuturnya saat diwawancara langsung Kuninganmass.com
Menurut penuturan Rosta, amanah menjaga makam ini sudah turun-temurun diberikan oleh keluarga besar Raja Jacob Ponto kepada keluarganya. Hingga saat ini, ikatan batin antara keturunan sang raja dengan penjaga makam di Kuningan masih terjalin sangat kuat.

“Suka ada aja yang kesini keluarganya setiap tahun, keluarga dari Manado atau dari Jakarta datang jauh-jauh ke Sangkanhurip untuk berziarah dan mendoakannya, “ tambahnya.
Awalnya, Belanda mengasingkan Raja Jacob Ponto ke wilayah Cirebon. Namun, selama masa pengasingan tersebut, kondisi kesehatan sang raja menurun. Ia menderita penyakit yang mengharuskannya sering mendapatkan terapi rendaman air hangat untuk meringankan rasa sakit di tubuhnya. Hal ini menjadi titik balik kepindahan sang raja dari pesisir Cirebon menuju pedalaman Kuningan.
Karena di Cirebon sulit menemukan pemandian air panas alami, pihak kolonial akhirnya memindahkan lokasi pengasingan Raja Jacob Ponto ke Desa Sangkanhurip, Kuningan. Wilayah ini sejak dulu memang tersohor memiliki sumber mata air panas alami yang dianggap sangat baik untuk terapi kesehatan sang raja pada masa itu.
“Awalnya diasingkan di Cirebon, tapi saat itu ada penyakit gatal yang harus diobati dengan berendam air hangat alami, akhirnya dipindahkan lah kesini,” tambahnya.
Di kaki Gunung Ciremai inilah, Raja Jacob Ponto menghabiskan masa-masa terakhir hidupnya dalam pengasingan hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di sana. Keberadaan makam ini menjadi bukti sejarah bahwa Kuningan pernah menjadi tempat bernaung bagi tokoh-tokoh besar Nusantara. (raqib)
















