KUNINGAN (MASS) – Anak sekolah dasar (SD) tidak selalu mampu menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan. Ketika kecewa karena kalah bermain, diejek teman, tidak dipilih masuk kelompok, ditegur guru, atau keinginannya tidak dipenuhi, sebagian anak mungkin menangis, berteriak, membanting benda, memukul teman, atau memilih diam dan menjauh. Orang dewasa sering melihat perilaku itu hanya sebagai “anak nakal” atau “anak yang sulit diatur”. Padahal, di balik kemarahan tersebut bisa terdapat emosi yang belum mampu dikenali dan dikelola oleh anak.
Pendidikan di sekolah dasar tidak cukup hanya mengajarkan membaca, menulis, berhitung, dan berbagai pengetahuan akademik. Anak juga perlu belajar mengenali, mengekspresikan, dan mengendalikan emosinya secara sehat. Salah satu keterampilan yang sangat penting adalah mengelola rasa marah.
Marah sendiri bukanlah emosi yang salah. Setiap orang, termasuk anak-anak, dapat merasa marah ketika diperlakukan tidak adil, gagal mendapatkan sesuatu, merasa terganggu, atau mengalami situasi yang tidak sesuai harapan. Yang perlu diajarkan bukan bagaimana agar anak “tidak boleh marah”, melainkan bagaimana marah tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Perbedaan tersebut sangat penting. Ketika guru atau orang tua selalu mengatakan, “Jangan marah!”, anak dapat belajar bahwa emosi marah adalah sesuatu yang buruk dan harus disembunyikan. Akibatnya, sebagian anak justru kesulitan memahami emosinya sendiri. Sebaliknya, anak perlu memperoleh pesan bahwa, “Kamu boleh marah, tetapi kamu tidak boleh memukul.”
Sekolah dasar merupakan tahap yang strategis untuk mengajarkan keterampilan tersebut. Pada usia ini, anak mulai semakin banyak berinteraksi dengan teman sebaya. Mereka belajar bekerja dalam kelompok, berbagi, berkompetisi, menerima aturan, menghadapi kritik, dan menyelesaikan konflik. Semua pengalaman tersebut hampir pasti melibatkan emosi.
Bayangkan seorang siswa kelas III SD kehilangan pensil kesayangannya. Ia menduga temannya mengambil pensil tersebut, kemudian langsung mendorong temannya. Jika guru hanya memberikan hukuman karena ia mendorong, anak mungkin mengetahui bahwa tindakannya dilarang. Namun ia belum tentu memahami apa yang seharusnya dilakukan ketika marah.
Di sinilah peran pendidikan menjadi penting. Guru dapat membantu anak mengenali urutan peristiwa: “Kamu kehilangan pensil, kamu merasa kesal, lalu kamu mendorong temanmu.” Setelah itu guru dapat membimbingnya mencari cara lain: bertanya baik-baik, meminta bantuan guru, mencari bersama, atau mengambil waktu sebentar untuk menenangkan diri.
Dengan demikian, disiplin tidak hanya berfungsi menghentikan perilaku buruk, tetapi juga mengajarkan perilaku pengganti yang lebih tepat.
Anak juga perlu memiliki kosakata emosi. Banyak anak hanya mengenal kata “senang”, “sedih”, dan “marah”. Padahal di balik kemarahan terdapat berbagai perasaan lain: kecewa, malu, tersinggung, cemburu, takut, frustrasi, merasa tidak dihargai, atau merasa diperlakukan tidak adil.
Guru dapat membiasakan anak mengatakan, “Saya kesal karena…”, “Saya kecewa karena…”, atau “Saya tidak suka ketika…”. Kemampuan memberi nama pada emosi membantu anak memahami bahwa perasaan dapat disampaikan melalui kata-kata, tidak harus melalui pukulan atau teriakan.
Keterampilan sederhana lain adalah memberikan jeda sebelum bereaksi. Anak dapat diajarkan berhenti beberapa detik, menarik napas perlahan, menjauh sementara dari sumber konflik, minum air, atau duduk di tempat yang tenang sebelum berbicara.
Teknik seperti ini terdengar sederhana bagi orang dewasa, tetapi bagi anak sekolah dasar merupakan kemampuan yang harus dilatih berulang kali. Anak tidak otomatis mampu mengendalikan impuls hanya karena sudah diberi tahu satu kali.
Karena itu, sekolah dapat menyediakan sebuah sudut tenang atau calm corner di dalam kelas. Tempat tersebut bukan lokasi hukuman, melainkan ruang bagi anak yang sedang kewalahan secara emosional untuk menenangkan diri sebelum kembali mengikuti pembelajaran.
Yang perlu dihindari adalah membuat tempat tersebut menjadi “pojok anak nakal”. Jika anak merasa dipermalukan setiap kali menggunakannya, tujuan pembelajaran emosional justru tidak tercapai. Anak seharusnya belajar bahwa menenangkan diri adalah bagian dari kemampuan mengendalikan diri, bukan tanda bahwa dirinya buruk.
Guru juga dapat menggunakan cerita sebagai media pembelajaran. Misalnya guru membacakan kisah seorang anak yang marah karena kalah dalam permainan, kemudian meminta siswa membahas: mengapa tokoh tersebut marah, apa yang ia lakukan, siapa yang dirugikan, dan apa pilihan lain yang dapat dilakukannya.
Pendekatan semacam ini sangat sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar karena anak lebih mudah memahami konsep melalui situasi konkret dan cerita dibandingkan penjelasan abstrak yang panjang.
Permainan peran juga dapat digunakan. Dua siswa dapat mensimulasikan situasi ketika berebut mainan, berbeda pendapat dalam kerja kelompok, atau tidak sengaja menyenggol teman. Guru kemudian mengajak kelas mencoba beberapa cara menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Melalui latihan tersebut, anak tidak hanya mengetahui teori “harus sabar”, tetapi mempunyai gambaran nyata tentang bagaimana bersikap ketika sedang marah.
Hal penting lainnya adalah keteladanan guru. Sulit mengajarkan anak mengendalikan emosi apabila guru sendiri mudah berteriak ketika menghadapi kesalahan siswa. Anak belajar tidak hanya dari apa yang dikatakan guru, tetapi juga dari bagaimana guru menghadapi situasi sulit.
Ketika seorang guru berkata, “Ibu sedang sedikit kesal karena kelas sangat ramai. Ibu akan diam sebentar, kemudian kita mulai lagi,” sebenarnya guru sedang memberikan contoh langsung tentang regulasi emosi.
Keteladanan serupa diperlukan di rumah. Anak yang setiap hari melihat orang dewasa menyelesaikan konflik dengan bentakan akan lebih mudah menganggap bahwa kemarahan memang seharusnya ditunjukkan dengan suara keras. Sebaliknya, ketika orang tua mampu mengatakan, “Ayah sedang marah, tetapi kita bicara setelah tenang,” anak mendapat contoh bahwa emosi dapat dikendalikan.
Karena itu, pendidikan pengelolaan emosi membutuhkan kerja sama sekolah dan keluarga. Tidak akan efektif apabila sekolah mengajarkan anak untuk berbicara dengan tenang, sementara di rumah setiap kesalahan langsung dibalas dengan teriakan atau hukuman fisik.
Orang tua juga perlu berhati-hati dengan kebiasaan memberi label kepada anak. Kalimat seperti “Kamu memang pemarah”, “Dasar nakal”, atau “Kamu selalu bikin masalah” dapat membuat perilaku tertentu berubah menjadi identitas diri.
Lebih baik kritik diarahkan kepada tindakannya. Misalnya, “Memukul teman itu tidak boleh,” bukan “Kamu anak jahat.” Dengan demikian, anak memahami bahwa perbuatannya dapat diperbaiki tanpa merasa bahwa dirinya merupakan anak yang buruk.
Guru juga perlu memahami bahwa setiap anak mempunyai cara berbeda dalam menunjukkan kemarahan. Ada anak yang langsung berteriak. Ada yang menangis. Ada yang melempar barang. Tetapi ada pula yang justru diam, menarik diri, tidak mau berbicara, atau tiba-tiba kehilangan minat belajar.
Karena itu, anak yang terlihat tenang belum tentu tidak mengalami kesulitan emosional. Guru perlu mengenal pola perubahan perilaku siswanya.
Dalam konteks pendidikan guru sekolah dasar, kemampuan memahami perkembangan sosial dan emosional anak seharusnya menjadi bagian penting dari kompetensi calon guru. Seorang guru kelas tidak hanya berhadapan dengan mata pelajaran, tetapi dengan sekitar dua puluh atau tiga puluh anak yang masing-masing membawa pengalaman, karakter, kondisi keluarga, dan kemampuan regulasi emosi yang berbeda.
Kemampuan mengelola kelas karena itu bukan hanya soal membuat siswa diam. Kelas yang tertib belum tentu kelas yang sehat secara emosional.
Kelas yang sehat adalah kelas tempat anak merasa aman menyampaikan bahwa dirinya kecewa, takut, marah, atau tidak nyaman tanpa takut langsung ditertawakan. Pada saat yang sama, anak memahami bahwa kebebasan mengekspresikan emosi tetap mempunyai batas: tidak boleh menyakiti, merendahkan, atau merusak.
Sekolah juga perlu berhati-hati agar kemarahan anak tidak selalu dibalas dengan hukuman. Hukuman memang dapat diperlukan terhadap perilaku tertentu, terutama jika membahayakan orang lain. Tetapi setelah perilaku dihentikan, harus ada proses pendidikan.
Pertanyaan kepada anak seharusnya tidak berhenti pada, “Mengapa kamu memukul teman?” tetapi dilanjutkan dengan, “Apa yang kamu rasakan sebelum memukul?”, “Apa yang bisa kamu lakukan lain kali?”, dan “Bagaimana kamu memperbaiki hubungan dengan temanmu?” Dengan cara tersebut, konflik menjadi kesempatan belajar.
Keterampilan mengelola kemarahan juga mempunyai dampak jangka panjang. Anak yang mampu mengenali emosinya lebih mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan konflik secara sehat, bekerja sama dengan orang lain, menerima kegagalan, dan mengendalikan tindakan ketika berada dalam tekanan.
Kemampuan ini akan berguna bukan hanya selama sekolah dasar. Ketika kelak menjadi remaja dan dewasa, mereka akan menghadapi konflik yang jauh lebih kompleks: perbedaan pendapat, persaingan, tekanan akademik, persoalan pekerjaan, maupun hubungan interpersonal.
Karena itu, mengajarkan regulasi emosi bukan kegiatan tambahan yang hanya dilakukan ketika terdapat “anak bermasalah”. Ia merupakan bagian dari pendidikan karakter dan keterampilan hidup yang sebaiknya diberikan kepada semua siswa.
Tentu guru juga tidak harus menjadi psikolog. Jika seorang anak menunjukkan kemarahan yang sangat intens, berulang, melukai diri sendiri atau orang lain, atau mengalami perubahan perilaku yang serius, sekolah perlu bekerja sama dengan orang tua dan tenaga profesional yang kompeten.
Namun untuk situasi sehari-hari, guru dapat memulai dari kebiasaan yang sangat sederhana: membantu anak mengenali emosinya, memberikan kesempatan menenangkan diri, mengajarkan cara menyampaikan ketidaksetujuan, dan memberikan contoh bagaimana orang dewasa mengelola kemarahan.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan menciptakan anak yang tidak pernah marah. Itu tidak realistis. Anak tetap akan kecewa, tersinggung, iri, dan frustrasi karena semua itu merupakan bagian dari kehidupan.
Yang perlu dibentuk adalah kemampuan untuk mengatakan, “Saya sedang marah, tetapi saya tahu apa yang harus saya lakukan dengan kemarahan ini.”
Jika keterampilan tersebut mulai ditanamkan sejak sekolah dasar, sekolah tidak hanya membantu anak memperoleh nilai yang baik. Sekolah sedang membekali mereka dengan kemampuan yang mungkin jauh lebih penting untuk kehidupannya kelak: mengenali diri sendiri, mengendalikan tindakan, dan menyelesaikan konflik tanpa menyakiti orang lain.
Oleh: Sarafuddin SPd MPd, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Slamet Riyadi, Surakarta
