KUNINGAN (MASS) – Sastra tidak harus selalu tumbuh di gedung pertunjukan, ruang akademis, atau panggung-panggung formal. Dari sebuah warung kopi, gagasan, karya, dan ekspresi kebudayaan juga dapat menemukan ruang untuk hidup dan berkembang.
Semangat itulah yang mewarnai peringatan Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia (BBDS) di Warkop Lembong Ciremai, Kabupaten Kuningan. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi perayaan bahasa dan sastra, tetapi juga menghadirkan ruang terbuka bagi siapa saja untuk berekspresi, berkarya, dan saling mengapresiasi.
Koordinator kegiatan, Rizqi F Sasmieta, mengatakan kegiatan tersebut dibangun melalui semangat kolektif dan kolaborasi lintas komunitas. Menurutnya, sastra tidak seharusnya menjadi ruang eksklusif yang hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu.
“Kegiatan ini membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin terlibat, tampil, berekspresi, maupun memberikan apresiasi terhadap bahasa dan sastra,” ujarnya, Sabtu (31/10/20226).
Prinsip keterbukaan itu diterapkan melalui berbagai bentuk penampilan, mulai dari pembacaan puisi, deklamasi, rampak puisi, hingga musikalisasi puisi. Peserta, relawan, komunitas pendukung, maupun masyarakat yang hadir memiliki kesempatan untuk mengambil bagian.
Rizqi menegaskan, kegiatan ini bukan panggung milik satu kelompok atau penyelenggara tertentu. Sebaliknya, ruang sastra ini dibangun melalui keterlibatan bersama, sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan gagasan dan memperkenalkan kreativitasnya.
Di tengah kecenderungan kegiatan kesenian yang kerap terpusat pada kelompok atau komunitas tertentu, pendekatan semacam ini menjadi upaya menghadirkan pengalaman sastra yang lebih terbuka.
“Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi juga diberi kesempatan menjadi bagian dari proses penciptaan dan apresiasi karya,” tuturnya.
Sementara itu, Penyelenggara Yusuf Purnama, menjadi bagian dari inisiatif bersama dalam mempertemukan berbagai komunitas, sastrawan, dan pegiat kebudayaan. Kolaborasi lintas komunitas tersebut diharapkan dapat memperluas jejaring kesenian sekaligus memperkuat ekosistem literasi dan kebudayaan di Kabupaten Kuningan.
Sejumlah penyair asal Kuningan turut hadir dan mengambil bagian dalam kegiatan ini, di antaranya Dzulfahmi Fadhilah, Iwan Kurniawan, dan Vera Verawati, bersama penyair serta sastrawan lainnya.
Dukungan juga datang dari berbagai komunitas dan lembaga, seperti Teater Sado, Teater Pecut, Bumi Seni Tarikolot, Hibar Budaya Nusantara, Forum TBM, Bukusam, dan Penerbit Pojok Publisher. Relawan serta panitia dari lintas komunitas turut berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. (didin)
