Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/kuninganmass/public_html/wp-content/themes/zoxpress/zoxpress/parts/post/post-img.php on line 35

Netizen Mass

Mau Kemana Pertanian di Kabupaten Kuningan?

(Pengamatan terhadap hasil pertanian tanaman pangan 2018 s.d. 2019)

KUNINGAN (MASS) – Sejak abad ke-18 negara-negara di Eropa Barat telah memulai perlombaan dengan negara industri lainnya untuk memproduksi secara berlebih emisi karbon dioksida (CO2) ke langit biru yang ketika itu masih sangat bersih. Situasi ini berlangsung terus menerus dan menimbulkan proses perusakan alam yang semakin bertambah kualitas kerusaknnya. Selanjutnya kekeringan, banjir, kebakaran hutan yang terjadi diberbagai belahan dunia menjadi dampak yang mulai dirasakan oleh penduduk di selurh wilayah, termasuk di Indonesia.

Geophysical Research Letters dalam jurnalnya sudah memberikan memprediksi bahwa tahun 2019 berpeluang menjadi tahun terpanas dalam sejarah kehidupan manusia. Hail ini terjadi selain karena El Nino atau peningkatan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik, cuaca panas juga tercipta oleh karena adanya peningkatan secara terus menerus CO2 selama decade terakhir.

“Fenomena El Nino bersamaan dengan musim kemarau sehingga dampak yang dirasakan adalah kemaraunya menjadi lebih kering dan lebih panas dibanding tahun 2018,” kata Kepala Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hary Tirto Djatmiko saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (4/7/2019).

Dari hasil analisis BMKG ada tiga kategori klasifikasi potensi kekeringan dampak meteorologis yang tersebar di sejumlah wilayah negara Indonesia yaitu Awas, Siaga, dan Waspada. Daerah dengan potensi kekeringan kategori Awas antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, sebagian besar Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

El Nino sebenarnya merupakan sebuah fenomena alami yang telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu, walaupun tidak selalu dengan pola yangsama. Biasanya El Nino muncul setiap 2-7 tahun sekali.

Pemanasan global dewasa ini menyebabkan terjadinya anomali iklim El Nino dan La Nina yang makin sering dan panjang durasinya. Dampak yang muncul akibat fenomena El Nino ini yakni terjadinya kekeringan. Kekeringan melanda beberapa sektor kehidupan manusia, salah satunya ialah pertanian tanaman padi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sebagai sektor yang sangat dipengaruhi oleh iklim, pertanian merupakan sektor yang akan merasakan dampak dari fenomena El Nino ini. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tanaman pangan, khususnya tanaman padi yang merupakan sumber pangan pokok masyarakatnya.

Mengingat bahwa sektor pertanian dan iklim adalah dua hal yang saling berkaitan, tentunya fenomena El Ninoyang terjadi akanmempengaruhi aktivitas budidaya tanaman pangan khususnya tanaman padi di Indonesia.

Terjadinya kekeringan di tahun 2019 adalah sebuah realitas yang sudah diprediksi dan sudah terjadi. Khusus untuk di Kabupaten Kuningan yang juga menjadi daerah terdampak EL Nino, angka produktifitas pertanian tanaman pangan (dalam hal ini padi) dengan menggunakan metode hitung kerangka sampel area atau KSA menunjukkan angka penurunan yang signifkan.

Angka produksi padi di tahun 2018 di Kabupaten Kuningan adalah 196.185 ton dan di konsumsi sebesar 137.970 ton artinya produksi surplus sebesar 58.215 ton atau sebesar 29,67 persen. Sementara itu pada tahun 2019 produksi padinya menjadi hanya 158.324 ton sementara konsumsinya sebesar 138.478 ton, artimya surplus nya menurun menjadi hanya 12,54 persen atau hanya sebesar 12,54 persen.

Sementara itu Kabupaten Kuningan yang kondisi perekonomiannya ditopang oleh sektor pertanian, maka penurunan ini dipastikan akan menekan laju pertumbuhan ekonomi. Kisaran kontribusi kategori pertanian PDRB yang selalu berada di atas angka 23 persen dan penurunan produksi pertanian tanaman pangan di tahun 2018 ke 2019 pasti akan membuat pendapatan penduduk yang bekerja di kategori pertanian akan ikut tertekan dan turun dengan angka yang cukup besar.

Kejadian ini adalah kejadian berulang pada tahun 2015, dimana dampak el Nino ikut bepengaruh pada turunnya Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) di Kabupaten Kuningan. Surplus produksi padi yang seharusnya bisa digunakan menjadi pendapatan lebih dari perekonomian Kabupaten Kuningan untuk tahun 2019 sepertinya malah akan menjadi faktor yang menurunkan LPE karena penurunan surplusnya yang turun secara drastic.

Kedepannya kejadian seperti ini bukan tidak mungkin akan terulang lagi apabila perilaku petani dan pendampingan dari pemerintah tentang tata laksana pertanian tidak diperbaiki. Karena bila dilihat dari perkembangannya, kejadian El Nino cenderung lebih sering terjadi pengulangannya akhir-akhir ini, yaitu sekitar 2-3 tahun sekali pada kurun waktu 1981-2016, sementara kurun waktu 1950-1980 terjadi sekitar 5-7 tahun sekali.

Dampak El Nino terhadap anomali iklim di Indonesia berupa kemarau panjang dapat berpotensi mengganggu produksi padi pada musim tanam kedua, dan mengubah pola tanam untuk musim tanam berikutnya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Dampak anomali iklim terhadap sektor pertanian antara lain:
1. produksi dan kualitas produksi padi akan menurun drastis;
2. berkembangnya hama penyakit tanaman;

3. penyerbukan tidak sempurna, sehingga hasil tidak maksimal; dan
4. musim tanam akan bergeser dengan risiko kebanjiran (saat La Nina) dan kekeringan (saat El Nino).

Variabilitas iklim merupakan salah satu tantangan penting dalam pembangunan sektor pertanian. Informasi iklim yang presisi sangat membantu dalam menentukan perencanaan usaha tani yang rentan dipengaruhi oleh berbagai dampak dari anomali iklim.

Manfaat prediksi iklim untuk pertanian sangat besar diantaranya:
1. mengatur pola tanam sesuai dengan ketersediaan air;
2. memilih komoditas dan varietas sesuai dengan prediksi iklim;

3. upaya adaptasi lebih fokus dan tepat lokasi, seperti untuk wilayah yang diprediksi kering dapat menyediakan air melalui sumur pompa, dam parit, embung, longstorage, sedangkan untuk yang diprediksi lebih basah dapat menyiapkan sistem drainase yang baik; dan
4. menekan kehilangan hasil akibat kekeringan atau serangan OPT.

Menurut UU Nomor 24 Tahun 2007, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Dampak buruk perubahan iklim dapat diatasi melalui penerapan teknologi budidaya yang tepat dengan dua pendekatan yaitu adaptasi dan mitigasi.

Adaptasi adalah tindakan penyesuaian sistem alam dan sosial untuk menghadapi dampak negatif dari perubahan iklim.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sementara itu, mitigasi adalah penerapan teknologi budidaya untuk mencegah akumulasi gas rumahkaca (GRK) di atmosfer dengan mengurangi jumlah emisi dan/atau mengurangi sumber maupun peningkatan rosot (penyerap) gas rumah kaca (Surmaini, Runtunuwu dan Las, 2011).

Menurut Irawan (2006), kebijakan penanggulangan yang bersifat menyeluruh dan melibatkan banyak pihak yang relevan diperlukan dalam rangka mengantisipasi fenomena iklim, terutama El Nino, mengingat fenomena anomali iklim dan konsekuensinya meliputi berbagai aspek yang sangat luas.

Kebijakan penanggulangan anomali iklim perlu menempuh beberapa upaya yaitu:
a. Mengembangkan sistem deteksi dini anomali iklim yang meliputi waktu kejadian, lama kejadian, tingkat anomali, potensi dampak terhadap ketersediaan air dan produksi pangan, dan sebaran wilayah rawan,

b. Mengembangkan sistem diseminasi informasi anomali iklim secara cepat dengan jangkauan yang luas kepada petani dan berbagai pihak serta instansi terkait,

c. Mengembangkan, mendiseminasikan dan memfasilitasi petani untuk dapat menerapkan teknik budidaya tanaman yang adaptif terhadap situasi kekeringan, misalnya dengan mengatur pola tanam padi-padi-padi untuk kasus La Nina dan pola tanam palawija-padi-palawija untuk kasus ElNino. Di samping itu perlu ditingkatkan pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi secara berkala dan berkelanjutan.

Pemerintah memegang peranan penting dalam membantu membimbing petani melewati masa sulit El Nino. Kementerian dituntut berperan aktif terkait dalam hal pertama yakni informasi, terdiri dari sosialisasi, bimbingan, dan pelatihan untuk petani yang melakukan diversifikasi usaha agar tetap dapat produktif.

Kemudian penyediaan sarana dan prasarana, pemerintah daerah / setempat hendaknya mengatur tata penggunaan air, irigasi, termasuk ketersediaan air di waduk-waduk yang ada. Ketika kondisi lebih kritis, penggunaan pompa air untuk mengalirkan air guna menyiram tanaman yang terancam puso sangat diperlukan.

Namun, mengingat tingginya biaya operasional terutama untuk membeli bahan bakar, alternatif pembiayaan dengan mekanisme subsidi pemerintah baik untuk pembelian pompanya maupun untuk biaya bahan bakar nampaknya diperlukan (Suryani, 2015).

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sinergi penyelenggaraan usaha pertanian yang baik antara petani dan pemerintah akan sangat membantu terciptanya pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kuningan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Las, I. 2007. Menyiasati Fenomena Anomali Iklim bagi Pemantapan Produksi Padi Nasional pada Era Revolusi Hijau Lestari. Jurnal Biotek-LIPI. Naskah Orasi Pengukuhan Profesor Riset Badan Litbang Pertanian, Bogor, 6 Agustus 2004.

Surmaini, E., Rakman, dan R. Boer.2008. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Padi: Studi Kasus Pada Daerah Dengan Tiga Ketinggian Berbeda. Prosiding Seminar Nasional dan Dialog Sumberdaya Lahan Pertanian. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor.

Irawan B. 2006. Fenomena anomali iklim el nino dan la nina: kecenderungan jangka Panjang dan pengaruhnya terhadap produksi pangan. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Jurnal: 24(1): 28 45.http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles. [15 Oktober 2015]

Nama Penulis : Nono Suharno, S.IP
Instansi : BPS Kabupaten Kuningan
Jabatan : Fungsional Statistisi Penyelia
No. HP : 0813-2474-3244
Email : n.suharno@bps.go.id

Advertisement. Scroll to continue reading.
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Bank Kuningan

You May Also Like

Netizen Mass

(Sebuah Masukan Untuk Peningkatan Kesejahteraan Petani Di Kabupaten Kuningan) KUNINGAN (MASS) – Dalam sejarahnya sektor pertanian selalu menjadi sektor yang banyak diperbincangkan dalam berbagai...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Saya menyayangkan statement pak sekda (Dr H Dian Rachmat Yanuar MSi) yang menyebutkan indikator penyebab kemiskinan itu adalah penganguran dan pertanian....

Netizen Mass

Kelihatannya semua itu mustahil sampai semuanya terbukti (Nelson Mandela) KUNINGAN (MASS) – Setiap manusia pasti memiliki cara memandang segara sesuatu, jelas ini bersifat menyeluruh...

Netizen Mass

“You can’t always get what you want. But if you try sometime, you’ll find, you get what you need” – the Rolling Stones. KUNINGAN...

Advertisement