KUNINGAN (MASS) – Memasuki masa kepemimpinan baru Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Kuningan, Ketua Umum HMI Cabang Kuningan, M Naufal Haris, mendorong agar komisioner BAZNAS ke depan dipimpin oleh kelompok muda yang dinilai mampu menghadirkan energi baru dalam pengelolaan dana umat.
Menurut Naufal, kepemimpinan muda merupakan komposisi ideal untuk menjawab tantangan pengelolaan zakat yang semakin kompleks. Dengan pendekatan yang lebih adaptif dan produktif, BAZNAS diharapkan mampu memberikan dampak nyata, khususnya dalam menciptakan para agniya baru di Kabupaten Kuningan.
“Sesuai persyaratan minimal usia 40 tahun, saya kira usia tersebut sangat cocok untuk memimpin BAZNAS ke depan. Harus yang muda. Kami dorong senior-senior yang masih muda,” ujar Naufal, Minggu (18/1/2026).
Ia menilai, Kabupaten Kuningan memiliki banyak figur muda yang kompeten dan layak memimpin lembaga pengelola uang umat tersebut. Sosok-sosok tersebut berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari organisasi kemasyarakatan Islam, akademisi, pengusaha, ulama, hingga aktivis.
“Kuningan banyak tokoh muda yang kompeten. Dari unsur ormas ada Kang Iim Suryahim dari NU dan akademisi, Kang Aang Asyari dari unsur ulama dan akademisi, Kang Maman Sulaeman dan Kang Jalil Hermawan dari Muhammadiyah, Kang Asfa dari NU dan aktivis, serta Kang Cecep Hendi dan Kang Dadan Kopi Hawu dari unsur pengusaha. Masih banyak lagi,” ungkapnya.
Selain faktor usia, Naufal menekankan pimpinan BAZNAS juga harus merepresentasikan segmen masyarakat yang berpotensi menjadi pembayar zakat. Ia menilai, selain unsur organisasi Islam yang selama ini menjadi keterwakilan inti, seleksi komisioner kali ini harus lebih terbuka dan memberikan ruang lebih besar bagi unsur perempuan dan pengusaha.
“Unsur perempuan dan pengusaha juga harus dihadirkan, bahkan diperkuat. BAZNAS ini organisasi terbuka dan profesional. Mereka bisa menjadi penyeimbang dalam tata kelola keuangan agar lebih berdampak, selain dari sisi syar’i dan fiqih,” tuturnya.
Naufal juga menegaskan komitmen HMI Cabang Kuningan untuk mengawal seluruh tahapan seleksi komisioner BAZNAS agar berjalan secara terbuka, profesional, dan transparan. Ia mengingatkan agar waktu seleksi yang relatif singkat tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan kualitas penjaringan maupun membuka ruang kepentingan politis.
“BAZNAS Kuningan harus melahirkan para agniya baru dan mampu mengimbangi peran pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Kami siap mengawal seluruh tahapannya,” tegasnya.
HMI Kuningan berpandangan, kepemimpinan muda di tubuh BAZNAS berpotensi meningkatkan kepercayaan publik, khususnya dari kalangan generasi produktif, untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga resmi yang profesional dan akuntabel. Dengan pendekatan yang inovatif, BAZNAS diharapkan mampu mengembangkan sistem pengelolaan zakat yang transparan dan responsif terhadap kebutuhan umat.
Selain itu, BAZNAS Kabupaten Kuningan diharapkan dapat lebih mengutamakan zakat produktif sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Penguatan kolaborasi dengan akademisi, pelaku usaha, dan komunitas sosial dinilai penting agar dana umat tidak hanya bersifat karitatif, tetapi mampu mendorong kemandirian mustahik hingga bertransformasi menjadi muzaki.
HMI Kuningan menilai, seleksi komisioner BAZNAS yang terbuka dan profesional akan menjadi fondasi bagi terwujudnya tata kelola lembaga yang berintegritas, berkeadilan, dan berpihak pada kepentingan umat. Dengan demikian, BAZNAS Kabupaten Kuningan dapat tampil sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam pengentasan kemiskinan dan pembangunan kesejahteraan umat yang berkelanjutan. (didin)










