16 Desa Memiliki Potensi Wisata Lebih Dari Satu Jenis

KUNINGAN (MASS)- Bupati Kuningan H Acep Purnama, SH MH dan Sekda Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar MSi menghadiri Forum Bisnis Kemitraan Pelaku Wisata melalui Exspose dan Dialog Evaluasi Desa Wisata.

Acara ini dihelat  di Ballroom Cakrawala, Grage Resort Sangkan, Selasa (27/10/2020).  Tampak hadir Kepala Bappeda, Disporapar, BPMD, dan 31 kepala desa yang memiliki potensi wisata.

Wisata Desa adalah kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang mencerimankan keaslian desa baik dari sosial ekonomi, budaya dan berbagai potensi unik desa.

Hal ini yang telah dikembangkan menjadi komponen wisata seperti pesona alam desanya yang indah, kuliner khas desa, cindera mata, homestay dan sebagainya.

Sementara  Desa Wisata adalah suatu bentuk integrasi antara potensi daya tarik wisata alam, wisata budaya, dan wisata hasil buatan manusia dalam satu kawasan tertentu.

Tentu  dengan didukung oleh atraksi, akomodasi, dan fasilitas lainnya sesuai kearifan lokal masyarakat. Perbedaan utamanya adalah integrasi antara potensi dan pemberdayaan masyarakat.

Kadisporapar Dr H Toto Toharuddin MPd mengatakan, berdasarkan hasil rakor yang dilaksanakan di Disporapar, setiap kepala desa memiliki komitmen dan keinginan untuk menjadikan desanya sebagai Desa Wisata.

Hal yang telah dilakukan dalam membentuk Desa Wisata diantaranya adalah melakukan pelebaran dan perbaikan jalan menuju tempat wisata.

Kemudian penataan sarana prasarana objek, dan mengadakan acara kegiatan sebagai salah satu cara promosi misalnya mengadakan Babarit Desa.

“Terdapat desa wisata yang memiliki potensi wisata lebih dari satu jenis, seperti wisata alam dengan wisata religius, wisata alam dengan wisata sejarah dan lainnya,” ujarnya.

Desa tersebut  adalah 6 desa status lahannya dimiliki oleh Desa, 7 desa dimiliki oleh Balai TNGC (Taman Nasional Gunung Ciramai), dan 3 desa dimiliki oleh Perhutani.

Sementara Bupati Kuningan menyampaikan, pembangunan desa pariwisata harus dapat menyerap potensi dan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraannya.

Sehingga menjadi salah satu energi penggerak perekonomian desa, dan menghidupkan gairah produksi produk-produk rumahan untuk menjadi salah satu icon yang bisa ditawarkan kepada para pengunjung.

Desa wisata lanjut bupati, harus melek teknologi dalam promosi dan pemasarannya serta membangun jaringan komunikasi dan kerja dengan berbagai pihak terkait.

“Kabarkan kepada dunia bahwa kita bisa menjadi tuan rumah yang ramah dan baik serta nyaman. Andalkan media creative yang saat ini menjamur seperti jejaring sosial media agar desa dapat lebih terekspos potensi wisatanya” ujarnya.(agus)