Diam-diam Harumkan Kuningan

SUBANG (MASS) – Mungkin Pos Pelayanan Teknologi Artha Manggala Kecamatan Subang tidak terlalu santer namanya di kabupaten sendiri. Berdiri sejak 2010, Posyantek Artha Manggala sudah melayani masyarakat.

Meski begitu, prestasi demi prestasi sudah diraih lembaga yang juga berperan sebagai konsultan desa tersebut, bahkan sampai tingkat nasional.

Ketua Posyantek Artha Manggala, Romli menyebut sudah 9 tahun ini terus berfokus pada pengembangan teknologi tepat guna untuk membantu masyarakat mengoptimalkan potensi di desanya masing-masing.

“Secara kelembagaan, selain di provinsi kita dianggap yang terbaik, tahun ini kita juga masuk Juara Harapan 3 di tingkat Nasional,” ujarnya saat ditemui di sekretariatnya, Rabu (13/11/2019).

Menurut Romli, pos pelayanan di bidang teknologi memang sangat penting. Dirinya menerangkan, pembangunan berbasis desa memang harus ditopang teknologi yang tepat guna.

“Makanya, sejak awal kita fokus untuk pemetaan potensi, hingga lahirlah teknologi-teknologi yang kita produksi sesuai kebutuhan,” tambahnya.

Dirinya menyebut, posyantek yang sudah mendapat SK Kabupaten sejak 2016 tersebut, sudah memproduksi teknologi tepat guna, seperti mesin pencacah padi, mesin pemecah kopi basah, mesin pembersih air, dan terakhir mesin penghancur sampah tanpa emisi.

“Dan teknologi tadi, selain sudah dilakukan percobaan. Beberapa mesin juga sudah digunakan sesuai kebutuhannya, jadi kita punya semacam desa dan kelompok binaan yang menggunakan teknologi kita, malahan teknologi kita juga per-itemnya sudah dapat penghargaan juga, mesin penghancur sampah di tingkat kabupaten, bahkan mesin kopi multifungsi sudah ada penghargaan juara harapan 2 tingkat nasional, kebetulan saya sendiri inovatornya,” paparnya panjang lebar.

Meski sudah berkiprah sangat lama dan secara legalitas sudah menjadi legalitas pemerintah daerah, Romli mengaku hingga saat ini semua masih dibiayai kantongnya sendiri.

“Secara kelembagaan sih, kita harusnya dibawah binaan Pak Deniawan DPMD, lebih spesifik dibawah Kabid TTG pak Imad. Tapi ya sampai sekarang semua biaya dari mulai penelitian, pemetaan, pembelian bahan, perancangan, bahkan persiapan lomba juga kita siapkan sendiri. Dari kantong pribadi, semua keseharian mah bener-bener mandiri, kalo menang ya baru diaku binaan, ya gitulah,” tutupnya sembari tersenyum, getir. (eki)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com