Alarm Aksi Kekerasan di Lingkungan Pendidikan, Ria Ceritakan Kisah Anak, Pipi Alami Luka Karena Ditempeli Paralon Bakar

KUNINGAN (MASS) – Terkadang, aksi kekerasan yang melibatkan anak-anak sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Tidak hanya karena bully, kekerasan yang terjadi antar sesama anak-anakbisa saja terjadi karena “kondisi” yang tak terelakkan, atau bahkan bisa saja karena seakan dampaknya “diabaikan”.

Anak laki-laki ini berinisial B (11 tahun), putera dari pasangan Dian dan Ria. Luka bakar di pipinya adalah potret 5 bulan lalu, bulan Mei, yang hingga kini bekasnya belum hilang sepenuhnya. Tidak salah baca, luka itu adalah luka bakar. Sebabnya, karena pipa paralon yang dibakar, ditempelkan oleh sesama anak-anak ke pipi Baim. Dan itu terjadi di sekolah.

B merupakan siswa sebuah LPAI. Pada kuninganmass.com, sang ibu, Ria, bercerita bahwa saat kejadian itu, anaknya tengah pergi ke sekolah ngaji. B dan teman-temannya tengah mengambil wudhu untuk shalat asar. Saat wudhu itu, mereka tidak tahu ternyata masih ada kakak kelas ngaji yang di WC.

Kabarnya, dari dalam WC sempat terlihat ada asap. Entah karena panik dikira merokok padahal iseng membakar benda lain, kakak kelas ngaji yang ada di WC itu malah keluar menempelkan paralon yang terbakar ke pipi B.

“Pengakuan pelaku (yang nempelin paralon panas) mah ditanya pas dia dalam WC ada iseng bakar pipa, terus di luar bilang ada asap ada asap ada yang ngerokok. Nah dia panik takut dilaporin pas keluar WC baim keluar ditempelin lah paralon,” kata Ria, Rabu (16/9/2026).

“Terus ditanya anaknya emang yang bilang gitu B, jawab nya ga tau siapa, suaranya aja suara baim bukan, dia jawab bukan katanya. Terus kesaksian temen-temen B juga, mereka dan B ga bilang apa-apa langsung ke WC aja dari kelas tuh,” imbuhnya lagi.

Saat ini, luka B memang tidak separah di awal. Bahkan bisa dibilang tinggal perawatan menghilangkan bekas luka saja. Tapi awal-awal, lanjut Ria, anaknya bahkan tidak bisa tidur selama kurang lebih dua hari karena perihnya luka bakar. Bahkan, sampai direkomendasikan obat tidur.

Dan sekarang, Ria mengaku tidak berharap banyak lagi. Selain mengambil pelajaran dari apa yang terjadi serta mendorong lembaga pendidikan lebih waspada lagi, Ria berharap orang tua juga bisa siaga dalam segala hal. Selain waspada anaknya jadi korban, harus juga menunjukkan empati dan rasa tanggung jawab saat anak terlibat sesuatu dan menimbulkan korban.

“Hari ini anak kita mungkin baik-baik saja, tapi gimana kalo di masa depan anak kita yang jadi korban?” ujarnya mempertanyakan.

Di akhir, Ria juga menyeyangkan orang tua dari anak yang membuat luka bakar itu tidak ada lagi kabar apapun. Meski di awal Ria mengaku mencoba legowo sehingga menerima jalur kekeluargaan, tapi Ria mengaku kesal karena orang tua anak yang membuat luka, tidak lagi menunjukkan itikad baik hingga sekarang. (eki)