KUNINGAN (MASS) – Kabupaten Kuningan memiliki kekayaan sejarah bangsa, dan budaya yang sangat berharga, diantaranya Adalah Gedung Naskah Perundingan Linggarjati. Tanpa ada Linggarjati, Tidak ada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Demikian disampaikan oleh Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr Fadli Zon,M.Sc dalam Dialog Bersama Seniman dan Budayawan Kab Kuningan jumat lalu. Jumat sore Menbud Fadli Zon mengunjungi Gedung Naskah Linggarjati dalam lawatannya selama dua hari di Kota Kuda Kuningan.
Fadli juga menegaskan bahwa Gedung Perundingan Linggarjati tetap menjadi salah satu penanda paling penting dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya dalam diplomasi Indonesia saat mempertahankan kemerdekaan pasca proklamasi.
Dalam kunjungan tersebut Menbud Fadli Zon didampingi oleh Direktur Sejarah dan Permuseuman Prof Dr Agus Mulyana, Retno Raswati Kepala Balai Budaya Pelestarian Wilayah IX Jawa Barat dan Annisa Rengganis Staf Khusus Menbud.
Hadir juga Bupati Kuningan Dian Rahmat Yanuar, Wabup Tuti Andriani, Ketua DPRD Nuzul Rachdi, Rohmat Ardiyan Anggota DPR RI, dan AA Ade Kadarisman Founder Adiluhung Indonesia yang saat ini juga menjadi Staf Ahli Kantor Staf Presiden RI, serta jajaran pejabat Forkompida lainnya.
Lebih lanjut Fadli Zon menyebut Gedung Perundingan Linggarjati bukan sekadar museum, melainkan saksi langsung perjalanan bangsa Indonesia yang perlu terus dihidupkan. Ia berharap masyarakat yang datang ke Kuningan tidak melewatkan kunjungan ke museum ini, tetapi juga dapat melihat jejak rumah Sutan Sjahrir (Gedung Syahrir) yang masih berkaitan dengan sejarah perundingan.
Sementara itu pituin Kuningan AA Ade Kadarisman mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran Menbud Fadli Zon. Kedatangan ke Kuningan merupakan bagian dari perhatian pemerintah pusat akan warisan sejarah dan budaya yang ada di Kab.Kuningan. “Sejarah bukan sekedar penanda masa lalu, tetapi juga sebagai sumber nilai dan inspirasi bagi generasi yang akan datang,” ungkapnya.
Sebagai saksi sejarah, Gedung Linggarjati mencatat salah satu momentum penting dalam perjalanan Indonesia pasca-kemerdekaan, yakni Perjanjian Linggarjati. Perundingan ini bukan hanya sekadar peristiwa politik, tetapi juga simbol kecerdasan, kesabaran, dan strategi bangsa dalam mempertahankan kedaulatan di tengah tekanan internasional.
Indonesia saat itu menunjukkan kepada dunia bahwa perjuangan tidak selalu harus dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui diplomasi yang bermartabat. “Gedung Linggarjati bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan sebagai simbol hidup dari budaya dialog bangsa Indonesia yang harus terus dirawat sebagai bagian dari karakter nasional, untuk itu berbagai program literasi sejarah menjadi penting dan harus ditingkatkan,” lanjutnya.
Menurutnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu berjuang, tetapi juga bangsa yang mampu berdialog. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, nilai tersebut terasa semakin penting. Polarisasi politik, perbedaan pandangan sosial, hingga konflik kepentingan kerap menjadi tantangan yang menguji kedewasaan demokrasi Indonesia.
“Dalam situasi seperti ini, semangat Linggarjati menawarkan jalan tengah yakni menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah, bukan pertentangan,” tegas AA Ade.
Selama di Kuningan, Menbud Fadli Zon mengawali kunjungannya dengan berziarah ke Makam Raja Shiau ke-14 Yacop Ponto asal Menado Sulawesi Utara yang diasingkan ke Sangkanhurip Kuningan pada tahun 1889, selanjutnya mengunjungi Cagar Budaya Gedung Sutan Syahrir yang akan direvitalisasi, dilanjutkan ke Gedung Naskah Linggarjati. Menbud juga melakukan Dialog dengan Seniman dan Budayawan Kuningan, meresmikan revitalisasi Museum Situs Purbakala Cipari, mengunjungi Paseban Budaya Cigugur, serta melihat aktivitas Latihan teater di Gedung Kesenian Kuningan. (roqib)
















