KUNINGAN (MASS) – Sektor pariwisata Kabupaten Kuningan tengah menghadapi tantangan serius terkait persepsi tingginya biaya wisata di mata publik. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa para pelancong hanya akan menjadi wisatawan satu kali datang (one-time visitors) tanpa ada niat untuk kembali berkunjung.
Merespons fenomena tersebut, Ketua DPD Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) Kabupaten Kuningan, Fery Rizkiana Tri Putra, mendesak pemerintah daerah dan para pelaku industri kreatif untuk segera merombak strategi pemasaran guna menciptakan ekosistem repeat tourism (wisata berulang).
Fery Rizkiana menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan daerah wisata yang lain, akumulasi biaya masuk ke berbagai Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) di Kuningan dirasa memberatkan wisatawan, terutama yang datang bersama keluarga.
“Potensi alam Kuningan seperti Gunung Ciremai atau ODTW yang berada di kabupaten kuningan itu luar biasa indah. Namun, kalau setiap titik wisata menerapkan tarif masuk, parkir, wahana dan makanan secara terpisah dan mahal, wisatawan akan kapok. Tantangan terbesar kita bukan lagi sekadar mendatangkan orang, tapi bagaimana membuat mereka mau kembali lagi dan lagi,” ujar Fery dalam keterangannya di Kuningan, Jumat (19/6/2026).
Sandingan Data: Tren Fluktuatif Kunjungan Wisatawan
Untuk melihat urgensi masalah ini, BM PAN Kuningan menyandingkan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kuningan dan Open Data Kuningan:
Puncak Kunjungan Sejarah: Kabupaten Kuningan pernah mencatat angka kunjungan tertinggi pada tahun 2019 yang menembus 4.734.790 wisatawan domestik.
Kondisi Pasca-Pandemi: Angka tersebut sempat merosot tajam akibat pandemi, namun berhasil bangkit perlahan dengan mencatatkan total 3.156.748 wisatawan domestik pada tahun 2025.
Okupansi Libur Lebaran 2026: Sebagai perbandingan terbaru, pada musim libur Lebaran 2026 kemarin, pergerakan ribuan wisatawan masih mendominasi akomodasi populer seperti Santika Hotel Premiere Linggarjati dan Camp Park Talaga Surian.
Menurut Fery, meskipun angka 3,1 juta wisatawan di tahun 2025 menunjukkan tren pemulihan yang positif, angka tersebut masih berjarak cukup jauh dari masa keemasan tahun 2019. Pemulihan ini diprediksi akan berjalan lambat atau bahkan stagnan jika sentimen “wisata Kuningan kemahalan” terus dibiarkan tanpa intervensi kebijakan.
Solusi Tiga Strategi Menggaet Wisatawan Berulang
Guna menekan tingginya biaya pariwisata sekaligus mengikat loyalitas pelancong, BM PAN Kuningan menawarkan tiga solusi konkret kepada Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) serta pihak swasta:
Penerapan Tiket Terusan (Bundling Ticket): Pemerintah daerah harus memfasilitasi kerja sama antarpengelola wisata swasta untuk menciptakan satu tiket terusan. Wisatawan cukup membayar satu harga paket yang jauh lebih murah untuk mengakses 3 hingga 5 destinasi sekaligus dalam waktu 2 hari.
Optimalisasi Tagline “Kuningan Beu” dengan Program Loyalitas: Tagline pariwisata Kuningan Beu (Endless Excitement) jangan hanya menjadi slogan di bus wisata Kamuning. Harus ada program digital Loyalty Card. Wisatawan yang melakukan kunjungan kedua atau ketiga di akomodasi atau destinasi terafiliasi berhak mendapatkan potongan harga khusus atau voucer kuliner UMKM lokal.
Kalender Event Kreatif yang Berkala: Menyelenggarakan festival seni budaya, konser musik akustik, atau kompetisi olahraga alam secara berkala di lokasi wisata. Event yang terjadwal rapi akan memberikan alasan kuat bagi wisatawan luar kota untuk kembali datang karena ada pengalaman baru yang disajikan
“Ekonomi milenial dan Gen Z sangat bergantung pada nilai (value) yang mereka dapatkan dari uang yang mereka belanjakan. Jika aksesibilitas diperbaiki—termasuk rencana Pembangunan Jalan Lingkar Timur Selatan (JLTS) yang sedang berjalan—dan struktur biaya wisata dirasionalisasi, kami optimis Kuningan bisa kembali melampaui angka 4 juta wisatawan per tahun,” pungkas Fery. (eki)