KUNINGAN (MASS) – Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk mendukung pelestarian budaya melalui penguatan penyelenggaraan Seren Taun di Paseban Tri Panca Tunggal, Senin (8/6/2026).
Hal tersebut disampaikan saat menghadiri puncak perayaan Seren Taun 1959 Saka yang dihadiri berbagai tokoh budaya, pemerintah, serta tamu dari sejumlah keraton di Jawa Barat.
Dalam sambutannya, Bupati Dian menegaskan Seren Taun bukan sekadar perayaan panen, melainkan sebuah perjalanan kehidupan yang mengajarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, sesama, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Seren Taun bukan sekadar perayaan panen semata. Seren Taun sebetulnya adalah perjalanan kehidupan yang mengingatkan kita bahwa manusia tidak pernah bisa hidup sendiri. Ada tanah yang memberi kehidupan, ada air yang menghidupkan, ada matahari yang menerangi, ada sesama yang menguatkan, dan tentu ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang menjadi sumber segala keberkahan,” ujarnya.
Menurutnya, di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, tradisi budaya memiliki peran penting sebagai penuntun arah perjalanan peradaban. Ia menilai masyarakat Cigugur telah membuktikan bahwa tradisi tidak menjadi penghambat kemajuan, melainkan menjadi kompas yang menjaga identitas dan nilai-nilai kehidupan.
Bupati Dian juga menyampaikan kebanggaannya karena Seren Taun telah berkembang menjadi salah satu ikon budaya Kabupaten Kuningan yang dikenal tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga nasional hingga internasional.
“Ketika orang berbicara tentang Kuningan, mereka tidak hanya berbicara tentang alam yang indah atau kulinernya, tetapi juga tentang Cigugur dan Seren Taun yang telah dilaksanakan bertahun-tahun,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut Seren Taun sebagai miniatur Indonesia yang menunjukkan praktik toleransi dan keberagaman yang hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, perbedaan keyakinan dan latar belakang budaya di Cigugur justru menjadi jembatan persaudaraan yang memperkuat kehidupan sosial masyarakat.
“Di sini keberagaman tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai anugerah. Dan kita melihat bagaimana masyarakat dengan latar belakang agama, budaya, dan tradisi yang berbeda dapat hidup berdampingan secara harmonis, damai, dan sejahtera,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Dian juga menegaskan pentingnya menjaga budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah. Menurutnya, pembangunan tidak hanya diwujudkan melalui infrastruktur fisik seperti jalan dan jembatan, tetapi juga melalui upaya menjaga nilai-nilai budaya dan tradisi yang menjadi identitas masyarakat.
Ia mengajak generasi muda untuk terus mencintai, menjaga, dan melestarikan warisan budaya leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemerintah Kabupaten Kuningan berencana memasukkan Seren Taun ke dalam kalender budaya resmi daerah dan memberikan dukungan anggaran melalui APBD.
“Kita tadi sudah diskusi dengan Ketua dewan dan Kepala Dinas Pariwisata. Kalau saya liat tadi Seren Taun sudah menjadi agenda provinsi, sudah menjadi agenda kabupaten, tahun depan kita akan menjadikan Seren Taun sebagai kalender budaya Kabupaten Kuningan dan akan kita dukung melalui APBD yang cukup besar, insyaallah itu,” tegasnya.
Menurut Dian, langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Kabupaten Kuningan sebagai destinasi wisata budaya di Jawa Barat.
Mengakhiri sambutannya, ia mengucapkan selamat kepada seluruh masyarakat yang terlibat dalam penyelenggaraan Seren Taun 1959 Saka serta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga harmoni kehidupan dan merawat warisan budaya leluhur.
“Mari kita rawat warisan leluhur kita ini, kita jaga harmoni kehidupan, dan kita terus bergandengan tangan melangkah menuju masa depan, agar budaya menjadi kebanggaan kita bersama,” pungkasnya. (didin)