Sambut Baik Rencana Tol Melintasi Kuningan, Camat Cilimus Tapi Minta Sosialisasi Jelas

KUNINGAN (MASS) – Rencana pembangunan Jalan Tol Cirebon-Kuningan-Tasikmalaya mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kecamatan Cilimus. Camat Cilimus, Ade Bunyamin MSi, menilai pembangunan jalan tol berpotensi mempercepat akses masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayahnya.

Meski demikian, Ade menyebut hingga saat ini pihak Kecamatan Cilimus belum menerima informasi resmi terkait rencana pembangunan jalan tol tersebut.

“Dari pihak Kecamatan Cilimus terkait informasi pembangunan jalan tol memang sampai dengan saat ini belum menerima informasi resmi. Tapi kalaupun memang akan dilaksanakan, kami pada intinya menyambut baik rencana tersebut,” ujar Ade, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, keberadaan jalan tol nantinya dapat memperpendek waktu tempuh masyarakat Cilimus menuju berbagai daerah, termasuk Cirebon maupun Bandung. Kondisi itu dinilai dapat membuka peluang usaha baru dan meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat.

“Dengan adanya jalan tol itu, akses perputaran ekonomi di masyarakat akan lebih mudah. Memperpendek waktu jarak tempuh. Ini kan membuka peluang usaha baru, artinya akan ada perputaran ekonomi baru, artinya akan ada perputaran ekonomi yang lebih meningkat,” katanya.

Namun, Ade menekankan pentingnya sosialisasi yang jelas kepada masyarakat sebelum pembangunan dilaksanakan. Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan informasi secara terbuka mengenai program, tujuan, hingga dampak pembangunan.

Ia menilai komunikasi dengan masyarakat penting dilakukan untuk menghindari miskomunikasi yang dapat muncul di kemudian hari.

“Pada intinya kegiatan ini memang harus disosialisasikan dengan baik dan jelas kepada masyarakat. Karena sekarang ini banyak terjadi miskomunikasi, artinya masyarakat sekarang itu lebih enak diajak diskusi. Jadi sebelum ada kegiatan itu, ada sosialisasi yang betul-betul jelas, programnya ini bagaimana, tujuannya ini bagaimana,” tuturnya.

Terkait desa yang kemungkinan dilintasi jalan tol, Ade menyebut belum ada kepastian resmi mengenai trase. Namun, berdasarkan informasi yang diketahuinya, terdapat kemungkinan jalur melewati Desa Cibeureum dan Desa Linggarjati.

“Kalau secara resmi dan pasti belum jelas. Tapi kemungkinan itu di daerah Cibeureum dan Linggarjati,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kemungkinan jalur tersebut berkaitan dengan akses dari wilayah Mandirancan yang kemudian mengarah ke Cilimus dan selanjutnya menuju Kecamatan Jalaksana.

“Perbatasan Mandirancan-Cilimus itu antara Pakembangan dengan Cibeureum. Nah, jadi Pakembangan, Cibeureum, Linggajati, terus lanjut ke Kecamatan Jalaksana. Jadi kemungkinan hanya dua desa kalau di Cilimus, yaitu Cibeureum dan Linggajati,” jelasnya.

Meski demikian, Ade kembali menegaskan bahwa informasi tersebut belum merupakan trase resmi. Ia juga belum mengetahui secara pasti apakah pembangunan nantinya akan berdampak terhadap lahan perkebunan milik warga.

“Belum ada data jelas kalau ini perkebunan dan lain sebagainya,” katanya.

Menurut Ade, apabila melihat keberadaan jalan provinsi yang saat ini sudah melintasi kawasan Cibeureum dan Linggarjati, terdapat kemungkinan trase tol tidak terlalu jauh dari akses jalan yang sudah ada. Namun, hal tersebut masih sebatas kemungkinan.

Ade juga mengatakan hingga saat ini belum ada masyarakat yang secara khusus menyampaikan informasi maupun aspirasi terkait rencana pembangunan jalan tol tersebut kepada pihak kecamatan.

“Dari masyarakat sampai dengan saat ini belum. Belum ada informasi apa pun karena mungkin masyarakat sama posisinya seperti saya. Intinya belum ada informasi secara resmi,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut wajar mengingat pembangunan jalan tol masih dalam tahap wacana dan membutuhkan berbagai kajian, termasuk kajian teknis serta sosialisasi kepada masyarakat.

Karena itu, Ade mengaku tidak mempermasalahkan rencana pembangunan jalan tol selama pelaksanaannya memperhatikan lingkungan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Pada prinsipnya kalau ada pembangunan jalan, selama itu tidak merusak lingkungan, itu sangat kami apresiasi. Karena akan mempercepat waktu jarak tempuh, artinya akan mengurangi biaya transportasi,” pungkasnya. (didin)