Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass

Netizen Mass

Revolusi

KUNINGAN (MASS) – Agustus adalah bulan dimana bendera kebanggaan kita bersama berkibar di jalan-jalan kota sampai ke pelosok desa. Yang demikian itu merupakan sunah hasanah (kebiasaan baik) yang semenjak awal kemerdekaan telah dilakukan. Di awal kemerdekaan, Ir. Soekarno mengaku memerintahkan agar membuat 10 juta bendera merah putih dari kertas dan disebarkan ke seluruh pelosok Indonesia paling terpencil. Hal itu membuat rakyat bangga dan merasa ikut dalam perjuangan. Begitupun harapannya semarak berkibarnya bendera merah putih hari ini agar kita teringatkan kembali dengan ucapan Bung Karno, “Alhamdulillah, bendera Republik telah berkibar. Kalau pun diturunkan lagi, ini harus melalui mayat dari tujuh puluh dua juta bangsaku. Apa pun yang terjadi, kami tak akan melupakan semboyan revolusi: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!”.

Agustus juga menjadi sebuah ‘momen’ yang setiap tahun diperingati. Karena fungsi sebuah momen adalah untuk mengingatkan kembali peristiwa yang pernah terjadi. Menurut penulis momen itu berarti remember in memorial, mengingat kembali sebuah ingatan. Mengingat bukan sembarang mengingat, namun mengingat yang melahirkan sebuah aksi nyata dan membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Karena kata ‘ingat’ bisa berarti sebuah pengetahuan yang tersimpan, dan bisa juga berarti himbauan untuk kebaikan, misal; polisi itu memperingati pengendara motor yang tidak memakai helm. Maka mengingat, sejatinya ada aksi nyata untuk perubahan ke arah yang lebih baik.

Memperingati momen ‘agustusan’ seharusnya melahirkan sebuah aksi nyata masyarakat indonesia ke arah yang lebih baik. Mengingat kemerdekaan yang di dalamnya ada pengorbanan, perjuangan, dan jasa pahlawan seharusnya mendorong kita untuk terus merawat kemerdekaan dengan kontribusi nyata perbaikan.

Oleh karena itu izinkan penulis berbagi tips dalam mengisi momen kemerdekaan ini, agar kita bisa berkontribusi nyata membangun Indonesia. Membangun Indonesia yang paling utama adalah membangun jiwa masyarakatnya, memperbaiki mentalitas anak bangsa, mengindahkan akhlak penduduknya. Berikut 3 tips revolusi mental dalam mengisi momen kemerdekaan yang penulis ambil dari kata “Re-Vo-Lusi”. Re-nya adalah dari kata Respect, Vo-nya adalah dari kata Voluntary, dan Lusi-nya adalah dari kata Solution oriented.

Pertama adalah Respect (pengertian/ perhatian). Setiap kita akan senang jika diperhatikan atau diberikan pengertian. Butuh keterampilan dan pembiasaan agar perhatian yang diberikan tampil secara natural. Sebelum seseorang dapat memberikan sikap respect, maka terlebih dahulu harus ada sikap care (peduli) dalam dirinya. Sulit bagi seseorang memberikan perhatian dan pengertian kepada orang lain jika dalam dirinya minim sikap peduli.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sedangkan peduli adalah kunci seseorang melakukan kebaikan dengan penuh kesadaran tanpa tekanan. Misal, membuang sampah pada tempatnya butuh sikap peduli agar seseorang itu secara sadar tanpa disuruh atau dilihat siapapun untuk membuanh sampah pada tempatnya. Maka jangan muluk-muluk berbicara membangun Indonesia jika dalam dirinya saja tidak ada mental peduli. Peduli lawan katanya adalah egois (Selfishness). Egois itu memikirkan diri sendiri. Semakin tinggi sikap egois seseorang maka akan semakin minim sikap pedulinya. Yang ada dalam benak seseorang yang egois adalah hanya saya, saya, dan saya. Berbeda dengan seseorang yang memiliki sikap peduli, dia senantiasa memikirkan orang lain; perasaan orang lain, kebutuhan orang lain, kenyamanan orang lain.

Masyarakat Indonesia yang merupakan bangsa beragama sebetulnya sudah terlatih agar menjadi individu yang peduli, yaitu melalui praktek ibadah puasa. Karena salah satu hikmah ibadah puasa adalah agar seseorang dapat merasakan bagaimana rasanya menahan lapar orang-orang yang kekurangan bahkan kelaparan.

Sikap peduli pada orang lain cenderung berfokus pada usaha untuk membangun hubungan yang sehat dan positif. Setiap lontaran kata akan dipikirkan matang terlebih dahulu sebelum diucapkan. Bahkan dalam memberikan komentar. Seorang yang memiliki sikap peduli akan berpikir terlebih dahulu terhadap dampak dari ucapan atau komentar yang ia lontarkan. Begitu juga akan terlihat lebih banyak mendengarkan dari pada berucap dan berkomentar. Misal dalam sebuah percakapan maka ia akan lebih banyak bertanya tentang keadaan lawan bicaranya dari pada membicarakan tentang dirinya. Karena sekali lagi, peduli akan lebih cenderung pada usaha membangun hubungan yang sehat dan positif.

Dari sikap peduli lahirlah sikap saling menghargai dan menghormati (respect). Kemudian dari sikap respect akan berwujud akhlak yang sopan dan santun. Sungguh akan terlihat indah jika dalam setiap kita sebagai warga Indonesia memiliki sikap respect, sehingga membangun Indonesia melalui revolusi mental dapat terwujud.

Rumus respect sangatlah mudah, perlakukanlah orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Kedua adalah Voluntary (sukarela). Seorang yang melakukan satu hal dengan sukarela disebut dengan relawan (volunteer). Sikap sukarela adalah setingkat lebih tinggi dari peduli dan respect. Jika respect itu adalah adanya perasaan sama terhadap keadaan orang lain, sehingga timbul lebih mementingkan orang lain. Maka kemudian sukarela itu adalah adanya keinginan memberikan lebih dari perhatian, sehingga timbul mengorbakan dirinya untuk kepentingan orang lain. Simpelnya, respect itu simpati sedangkan voluntary itu empati.

Menurut KBBI Daring, su.ka.re.la /sukarêla/

a dengan kemauan sendiri; dengan rela hati:mereka itu bekerja dengan —

a atas kehendak sendiri (tidak karena diwajibkan): pasukan –; pekerja —

Sikap sukarela adalah membantu tanpa berharap balasan dari orang yang dibantu. Sebagai manusia yang disebut sebagai zoon political atau makhluk sosial, yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, maka seharusnya sikap sukarela ini menjadi hal yang perlu dimiliki. Dunia globalisasi telah melahirkan sebuah kultur yang baru, yaitu kultur hedonis. Sikap sosial bermasyarakat mulai terkikis di lingkungan kita. Kegiatan gotong-royong dan tolong menolong sudah sepi kita temui. Padahal gotong-royong adalah semboyan bangsa kita.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sikap sukarela adalah modal yang cukup penting bagi perbaikan mentalitas anak bangsa. Sikap sukarela tidak cukup tertanam pada pada individu seseorang, namun harus tertanam pada kolektif masyarakat agar menjadi sebuah gelombang frekuensi kebaikan. Sikap sukarela ini harus dilakukan komulatif oleh seluruh lapisan masyarakat agar dapat saling menjaga keberlangsungan amalan yang baik tersebut.

Masyarakat Indonesia yang merupakan masyarakat beragama seharusnya sudah terbiasa dengan sikap sukarela, karena dalam praktek ibadah kita mengenal sedekah dan zakat. Melalui zakat dan sedekah seseorang dilatih untuk memberi tanpa berharap balasan atas pemberiannya.

Sedangkan rumus voluntary adalah anggaplah orang lain itu bagian dari diri kita sendiri bagaikan satu tubuh, seperti kedua tangan yang saling melengkapi. Saat tangan kanan tersakiti maka tangan kiri akan mengusapnya, begitupun sebaliknya.

Ketiga adalah solution oriented (berorientasi pada solusi). Setiap kita akan selalu menghadapi sebuah masalah. Masalah adalah bagian dari hidup. Jika hidup seseorang tanpa sebuah masalah maka itu adalah masalah besarnya. Sesungguhnya yang menjadi beban itu bukan hadirnya sebuah masalah, namun yang menjadikan beban adalah tidak adanya keinginan dalam diri kita untuk menyelesaikan masalah. Bahkan dahulu ada seorang peminpin yang berdoa kepada tuhannya, “Ya Tuhan berikanlah kepada kami sebaik-baik masalah”. Pemimpin tersebut paham bahwa dalam setiap masalah ada sebuah pelajaran, semakin baik masalahnya maka akan semakin baik pula pelajarannya.

Permasalahan bangsa ini seolah tiada henti silih berganti. Seharusnya ini jadi modal agar kita bersikap optimis akan kebesaran bangsa ini. Karena setiap masalah adalah hikmah. Semakin banyak masalahnya, maka semakin banyak hikmahnya. Seharusnya. Namun mirisnya, masalah yang ada bukan menghasilkan hikmah. Malah masalah menambah susah dan lelah. Penyebabnya simpel, karena mayoritas masyarakat kita belum memiliki jiwa solution oriented. Setiap individu masyarakat belum memiliki mental problem solver. Malah yang ada menjadi trouble maker. Sebagai satu contoh dalam dunia sosmed, ketika ada satu saja masalah hadir ditengah-tengah kita. Kemudian masyarakat netizen Indonesia sibuk berkomentar merendahkan, ujaran kebencian, dan komentar-komentar negatif lainnya. Sangat berbeda dengan netizen luar negeri yang ketika berkomentar itu membangun dan memberikan solusi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Berorientasi pada solusi dalam setiap menghadapi permasalahan sangat diperlukan agar masyarakat menjadi dewasa dalam berpikir dan bertindak. Setiap kita harus sering-sering bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita itu bagian dari solusi ataukah bagian dari masalah? Apakah saat masalah itu datang itu terselesaikan dengan hadirnya kita ataukah masalah itu menjadi tambah besar dengan kehadiran kita?. Masalah tidak akan pernah hilang, maka bagaimana kita menghadapi masalah tersebut akan memberikan dampak kepada hasilnya kelak.

Itulah kiranya 3 poin yang perlu ditanamkan dalam jiwa setiap individu masyarakat Indonesia agar revolusi mental bukan saja menjadi semboyan belaka bagaikan patung monumen. Namun revolusi mental harus memiliki ruh agar semboyan itu hidup dan bangkit. Sehingga bangsa ini akan menjadi hebat dan kuat karena mental masyarakatnya yang bermartabat.***

Penulis: Ade Zezen MZM (Kadept Kebijakan Publik KAMMI Kuningan)

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement
Advertisement

You May Also Like

Politics

KUNINGAN (MASS) – Menjelang perhelatan Pilkada di akhir tahun 2024 ini, muncul banyak tokoh yang mengaku siap untuk maju sebagai Calon Bupati Kuningan. Hal...

Politics

KUNINGAN (MASS) – Penyelenggaraan Pemilu tinggal menghitung hari. Semua pihak, bersiap menghadapi pesta rakyat, baik sebagai penyelenggara, pemantau peserta maupun pemilih. Salah satunya adalah...

Incident

KUNINGAN (MASS) – Dalam suasana duka, keluarga Almarhum Edi di Desa Ciawilor, Kecamatan Ciawigebang mendapatkan kunjungan Caleg Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari mulai caleg...

Politics

KUNINGAN (MASS) – Dalam Debat Caleg #2 Kuningan Mass, dipertemukan 2 sosok caleg muda, dari 2 dapil berbeda. Adalah Luthfi Ahmad Fadilah politisi PPP...

Education

KUNINGAN (MASS) – Pada akhir bulan kemarin, KAMMI Komisariat Al Quds dan KAMMI Kuningan menggelar seminar jurnalistik. Mengusung tajuk “Be a Good Journalist in...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Isu Gagal Bayar atau yang selalu diklaim “tunda bayar” ini menarik sekali untuk diikuti perkembangan isunya. Yang terbaru adalah isunya gagal...

Education

KUNINGAN (MASS) – Sebanyak 20 peserta mengikuti Dauroh Marhalah (DM) 2 KAMMI Kuningan atau biasa dikenal Nasional Leadership Training 2. Ke-20 peserta DM 2...

Government

KUNINGAN (MASS) – Sebanyak 6 warga asal Kabupaten Kuningan, mantan jamaah Khilafatul Muslimin, mendeklarasikan diri dan berjanji ikrar setia pada NKRI, Senin (4/7/2022) di...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Mencermati video yang beredar mengenai statement yang disampaikan Ketua DPRD Kab. Kuningan, Bapak Nuzul Rachdy yang mengatakan bahwa Pondok Pesantren pembawa...

Education

KUNINGAN (MASS) – Sejumlah kader Anggota Biasa (AB) 2 KAMMI Komisariat Al Quds yang terdiri dari Alumni Dauroh Marhalah (DM) 2 KAMMI Jakarta Pusat...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Ada sebuah anekdot yang menurut penulis ada benarnya juga, “Di Indonesia anda mau jual apapun pasti laku, bahkan jualan aliran sesat...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Akhir-akhir ini kita semua masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kemunculan Kerajaan Agung Sejagat (KAS) yang didirikan oleh Toto Santoso beserta istrinya Fanni...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Akhir-akhir ini media-media indonesia ramai dengan pemberitaan tentang Reyhard Sinaga yang ditahan oleh kepolisian Manchester karena telah melakukan 136 kali perkosaan....

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Hari ibu merupakan salah satu momentum merefleksikan rasa cinta kasih seorang anak kepada ibunya. Meskipun sesungguhnya hal tersebut bisa dilakukan kapan...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Berbicara politik memang susah ditebak. Karena politik begitu dinamis. Termasuk kondisi perpolitikan yang tengah terjadi di Kabupaten Kuningan sekarang ini. Setelah...

Education

KUNINGAN (MASS) – Siapa yang menyangka komandan Pleton Pasukan 17 Paskibraka Kuningan 2018 ini adalah seorang Hafidz Qur’an. Ia adalah Muhammad Haikal, pemuda asal...

Social Culture

KUNINGAN (MASS) – Dalam rangka memperingati HUT RI ke 73, umumnya setiap daerah menyelenggarakan berbagai kegiatan. Ada yang berupa penambahan wawasan, hiburan, pembinaan dan...

Social Culture

SINDANGAGUNG (MASS) – Kegembiraan dirasakan warga Kampung Balangkunang Desa Kertaungaran Kecamatan Sindangagung. Setelah mengikuti jalan santai, malam harinya mereka diajak bersukaria menutup seluruh rangkaian...

Social Culture

CIBINGBIN (MASS) – Dalam rangka memperingati HUT RI ke 73, sekitar pukul 07.00 WIB seluruh masyarakat berbondong-bondong untuk melaksanakan upacara di desa masing-masing. Namun...

Social Culture

SINDANGAGUNG (MASS) – Pada peringatan HUT RI ke 73, suasana di Kampung Balangkunang, Dusun Puhun Desa Kertaungaran Kecamatan Sindangagung berlangsung semarak. Bukan hanya aneka...

Government

KUNINGAN (MASS)- Pawai obor dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-73, Kamis malam   merupakan hiburan bagi warga Kuningan, selain kegiatan karnaval budaya. Maka tidak...

Education

KUNINGAN (MASS) – Belum banyak orang yang tahu kalau wartawan juga ternyata pahlawan kemerdekaan RI. Profesinya terhormat. Dulu diera pergerakan nasional, wartawan atau pers...

Education

KUNINGAN (MASS) – Tim dari Forum Silaturahmi Mahasiswa Kuningan Universitas Pendidikan Indonesia (FOSMAKU UPI) berhasil menjuarai piala lomba futsal yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa...

Government

KUNINGAN (MASS) – Para wakil rakyat menjalankan agendanya ke luar kota ditengah suasana agustusan. Baru juga pulang dari Bandung, sekarang sudah berangkat lagi ke...

Social Culture

KRAMATMULYA (MASS) – Sejumlah peralatan dibawa oleh warga Perumahan Puri Pelangi Gandasoli Kecamatan Kramatmulya, Minggu (12/8/2018). Mulai dari golok, cangkul, sabit, dan alat tradisional...

Government

KUNINGAN (MASS) – Berpuluh-puluh tahun Negara Indonesia merdeka, namun masyarakat kecil disinyalir masih belum sepenuhnya dapat  menikmati hasil kemerdekaan. Adalah Tarso warga Desa Ciangir...

Anything

KUNINGAN (MASS) – Untuk kali ketiga Gebyar 10001 merah putih diselenggarakan Putra-Putri Merah Putih. Tepat 1 Agustus, halaman Gedung Perundingan Linggarjati mulai ramai bendera...

Government

KUNINGAN (MASS) – Pasca shalat Jum’at, sekitar pukul 13.30 WIB (25/5/2018) satu kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kuningan...

Advertisement