KUNINGAN (MASS) – Lima mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) menjalani pekan pertama Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), 7–12 September 2026. Selama berada di lapangan, mereka tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga belajar langsung dari masyarakat dan pengelola kawasan.
Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian mahasiswa adalah pengelolaan kotoran hewan atau kohe di kawasan Lamping Kidang. Mereka melihat langsung bagaimana limbah ternak yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan mulai dimanfaatkan dan memiliki nilai guna bagi masyarakat.
Kohe tersebut kemudian diolah menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman. Pengelolaan ini dilakukan dengan pendampingan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), sehingga persoalan limbah perlahan dapat diubah menjadi potensi yang memberikan manfaat.
Bagi mahasiswa PMI, proses tersebut menjadi pembelajaran penting dalam memahami konsep pemberdayaan masyarakat. Mereka melihat bahwa pengembangan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari program besar, tetapi bisa berawal dari persoalan yang memang dihadapi masyarakat sehari-hari.
“Intinya, kegiatan yang ade-ade mahasiswa lakukan sangat membantu, terutama dalam memperkenalkan dan mengembangkan pemasaran kohe agar lebih dikenal oleh masyarakat luas,” tutur bendahara kawasan Lamping Kidang Ono saat berbicara di hadapan mahasiswa PMI, Sabtu (12/9/2026).
Salah satu perwakilan mahasiswa Rafli juga memetakan kebutuhan promosi kohe melalui media digital. Promosi tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan produk, tetapi juga mengangkat cerita mengenai proses pengolahan, manfaat, serta masyarakat yang terlibat di dalamnya.
“Promosi bukan sekadar membuat konten. Kami perlu memahami kondisi masyarakat dan lingkungan terlebih dahulu, kemudian menyampaikan ceritanya dengan cara yang mudah dipahami,” ujarnya.
Tidak berhenti di kegiatan pemberdayaan dan promosi, mahasiswa juga mendapat pengalaman terjun langsung dalam kegiatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Pasawahan pada Jumat (11/9/2026).
“Disana kami ikut membantu merespons kondisi kebakaran, ini memberikan gambaran bahwa persoalan lingkungan membutuhkan kesiapan, kerja sama dan tindakan cepat dari berbagai pihak,” tandasnya.
Pekan pertama PPL pun menjadi pengalaman awal bagi lima mahasiswa untuk memahami kondisi lapangan secara langsung. Mereka tidak hanya belajar mengenai teori pengembangan masyarakat, tetapi juga melihat bagaimana teori tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata.
Kegiatan PPL tersebut dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Turasih, M Si, serta dosen pamong lapangan Yoesry Hilmi, S Hut Pendampingan di lapangan juga dilakukan oleh Ono. (raqib)