Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass

Netizen Mass

Peran Pemuda untuk Peradaban

KUNINGAN (MASS) – Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan pemuda. Dan seorang alim tidak diberi ilmu pengetahuan oleh Allah melainkan di waktu masa mudanya.” (Ibnu Abbas)

Begitu pentingnya peran para pemuda dalam sebuah peradaban. Sebagaimana halnya Muhammad Al-Fatih saat menaklukkan Konstantinopel saat usia 21 tahun. Namun, sayangnya peran pemuda saat ini justru tergerus oleh hal-hal yang bisa dibilang unfaedah. Sistem Kapitalisme saat ini justru menciptakan pemuda-pemudi yang jauh dari jangkauan agama. Mereka lebih disibukkan dengan 3F yaitu (fashion, fun, dan food), sehingga wajar jika mereka menjadi jauh dari ajaran agama.

Dilansir dari kuninganmass.com, pada hari ke-2 Tour de Linggarjati seri-6, Sabtu (17/12/2022), bukan hanya diisi dengan lomba bersepeda saja, namun digelar juga pertunjukan Citamba Fashion Week, catur 1 vs 44, dan berbagai hiburan. Pertunjukan hiburan sendiri, digelar sembari menunggu kedatangan para pembalap sepeda. Hiburan yang dimaksud berupa nyanyian dengan lagu yang beragam, siswi SMP bersuara emas, modern dance, hingga pertunjukan fashion show jalanan.

Tidak hanya itu, penampilan fashion show juga menarik perhatian mata masyarakat di sekitar hingga para juri. Para model dari mulai anak-anak hingga remaja ini berlenggak-lenggok dengan penuh percaya diri sembari memamerkan outfit berdesain batik yang mereka pakai.

Meski berlangsung penuh antusias, kemeriahan TdL seri 6 mungkin masih belum se-maksimal tahun-tahun sebelumnya. Hal itu juga nampak diakui salah satu panitia, Nanang Juhana (54), bidang kesekertariatan. Dia mengatakan bahwa, event tahun kemarin tepatnya 2019, sebelum Covid itu jauh lebih meriah. Dikarenakan faktor persiapannya sampai 3 atau 4 bulan kebelakang, sedangkan untuk tahun ini itu efektifnya hanya 2 bulan saja. Karena itulah sosialisasinya pun kurang, ditambah eventnya yang dilaksanakan di penghujung tahun. (Sabtu 17/12/2022)

Pemuda-pemudi yang seharusnya dibina dalam lingkup agamis ini justru dijadikan ajang meraup keuntungan. Sudah dipastikan bahwa dalam acara tersebut banyak remaja yang tidak menutup aurat secara sempurna, dan cenderung memakai pakaian terbuka belum lagi campur baur antara lelaki dan perempuan. Potensi remaja saat ini justru dibajak hanya untuk kepentingan industri kapitalis.

Dalam Islam para pemuda justru dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan dengan cara diperhatikan dalam segi pendidikannya, dibekali dengan ilmu-ilmu ukhrawi sehingga mereka tidak saja lihai dalam urusan duniawi tetapi juga berlomba-lomba untuk urusan akhirat. Selain itu mereka pun tidak disibukkan dengan penampilan semata, tetapi mereka lebih mengedepankan kecerdasan dalam berkarya.

Berabad-abad lalu, ketika Islam berada dipuncak kejayaan para pemuda dimotivasi untuk mencari ilmu sekalipun harus menempuh perjalanan yang jauh. Seperti halnya Abu Hatim ar-Raazi, beliau seorang ulama dimasanya yang sangat gigih dalam mencari ilmu. Dilansir dari muslimahnews.net, Abu Hatim ar-Raazi mulai mengembara mencari ilmu sejak usia tujuh tahun, perjalanan tersebut ditempuhnya dengan berjalan kaki padahal jaraknya sangat jauh. Beliau berkata, “Aku menghitung jarak yang aku tempuh dengan kedua kakiku lebih dari seribu farsakh.”

Satu farsakh sama dengan 3 mil, sedangkan 1 mil kira-kira 1,6 km. Jadi seribu farsakh sama dengan 4.800 km. Beliau menempuh jarak sejauh itu dengan berjalan kaki selama kurang lebih 4 bulan. Setelah itu, beliau tidak lagi menghitung jarak yang ditempuhnya. Beliau terus melakukan perjalanan untuk mendatangi para ulama. Diantaranya ke Bahrain, Mesir, Ramlah, Damaskus, Anthaqi, Tharasus, dan seterusnya. Dalam usia empat belas tahun, beliau sudah mengumpulkan dan menulis hadist-hadist yang didapatkannya. Beliau menjadi seorang imam, ulama hadits, dan tokoh Islam yang terkenal.

Maa syaa Allah sungguh pencapaian luar biasa untuk seorang pemuda, andaikan pemuda-pemudi Muslim saat ini seperti beliau niscaya akan banyak ulama-ulama hebat karenanya. Namun, rasanya sulit sekali dikarenakan sistem saat ini yang tidak mendukung peran pemuda untuk menuntut ilmu agama, alih-alih diarahkan untuk memperdalam ilmu agama justru para pemuda-pemudi saat ini dijauhkan dari agama dengan dilalaikan melalui games, idol boyband K-pop, dan masih banyak lagi.

Kesimpulan

Wajar saja jika disini peran negara sangatlah penting untuk keberlangsungan SDM melalui para pemuda, karena mereka yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan. Bagaimana mungkin negara akan maju jika para penerus generasi hanya sibuk memikirkan hal-hal yang sepele dan melalaikan mereka dari menunaikan kewajiban-kewajiban sebagai seorang Muslim.

Untuk melahirkan pemuda-pemudi yang beriman, berakhlakul karimah, serta berpikir cemerlang (fikrul mustanir) dibutuhkan negara yang kondusif yang mendukung mereka untuk menghamba kepada Allah bukan malah menjauhkan mereka dari syariat-Nya.

Maka, disinilah pentingnya diterapkan sistem yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman kehidupan dalam mengatur urusan umat, karena hanya Islamlah yang dapat memberikan solusi atas segala permasalahan umat saat ini.

Wallahu’alam bishshawwab

Penulis : Lala Nurma

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement
Advertisement

You May Also Like

Social Culture

KUNINGAN (MASS) – Kuningan Institute menggelar diskusi yang mengusung tajuk Kajian Ramadhan : Jejak Peradaban di Kaki Gunung Ciremai, pada Minggu (17/4/2022) malam kemarin....

Government

KUNINGAN (MASS)- Wakil Bupati Kuningan yang baru-baru ini dilantik  M Ridho Suganda SH MSi  hadir dalam acara seminar yang bertajuk “ Menguatkan Peran Pemuda dalam...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Konon zaman terus berubah menuju peradaban yang lebih modern. Berbagai indikator kemajuan ditandai dengan tumbuhnya akselerasi  teknologi yang tidak lagi bisa...

Advertisement