KUNINGAN (MASS) – Lembaran baru bulan mulia kembali menyapa. Hari ini, persiapan menyambut Hari Raya Idul Adha mulai bergema. Terasa begitu nyata di berbagai sudut, riuhnya perkotaan sampai hangatnya pedesaan. Mulai dari kesibukan panitia masjid yang mendirikan tenda penyembelihan, peternak musiman yang memadati pinggir jalan, hingga obrolan hangat para pekerja yang merencanakan mudik lebaran. Semua menyambut momen spesial ini dengan penuh sukacita.
Berbagai euforia menyambut hari raya kurban kali ini dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dan senantiasa diulang-ulang setiap tahunnya. Lumrah dan wajar saja, karena hakikatnya Idul Adha dan ibadah kurban merupakan syi’ar besar yang penuh keberkahan sekaligus sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Apalagi ketika melihat realita spiritual saat ini, rutinitas tahunan terkadang membuat kita terjebak pada aspek seremonial belaka. Ada pertanyaan yang terbersit, sudah cukupkah ungkapan ketakwaan di bulan mulia ini hanya diekspresikan melalui pembelian, penyembelihan dan pembagian hewan kurban? Ataukah sebenarnya ada hal lain yang lebih serius dan seharusnya dilakukan umat Islam untuk mengisi hari-hari di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah?
Amanat dan Amalan Emas di Hari-hari Mulia
Kedatangan bulan Dzulhijjah bukan sekedar tentang penyembelihan hewan qurban. Justru, ada “golden days” Atau hari-hari emas yang menanti kita semua sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Sepuluh hari pertama ini merupakan momentum krusial dan memiliki bobot pahala yang tidak main-main, bahkan mengalahkan beratnya pahala berjihad.
Rasulullah Saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari: “Tidak ada amalan shaleh yang lebih dicintai oleh Allah daripada amalan yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.”
Marilah kita berkaca dari tiga keutamaan besar yang ada dalam hadits tersebut, terdapat esensi ibadah luar biasa yang harus kita kejar dan hidupkan di awal bulan Dzulhijjah ini, supaya perayaan kita di bulan mulia ini tidak kering akan makna:
Pertama, menghidupkan puasa sunnah dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah.
Kebanyakan dari kita seringkali baru terbangun dan berpuasa pada hari Arafah saja (9 Dzulhijjah). Padahal, untuk mengetuk pintu langit memerlukan amalan sunnah yang sangat dianjurkan yakni berpuasa sejak tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Puncaknya adalah pada hari puasa Arafah, yang memiliki ganjaran luar biasa seperti kata RasuluLlah Saw. dalam haditsnya:
“Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang” (HR. Muslim). Puasa di 9 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah madrasah spiritual untuk menahan hawa nafsu kita sebelum memasuki hari penyembelihan.
Kedua, menyembelih sifat kebinatangan sebagai aspek spiritual ibadah kurban.
Kurban berasal dari kata Qurbani yang berarti mendekatkan diri. Esensi terdalamnya mengajarkan bahwa Allah tidak melihat dari seberapa mahal atau seberapa besar hewan kurban yang kita sembelih, melainkan melihat seberapa besar ketakwaan kita pada-Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 37:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang mencapainya.”
Ibadah kurban merupakan simbol keikhlasan untuk mengorbankan ego, sifat serakah, sombong, dan pelit secara totalitas yang seringkali bersarang di dalam dada manusia. Apalah arti memotong puluhan bahkan ratusan sapi jika sifat-sifat binatang dalam diri kita sendiri belum berhasil kita sembelih?
Ketiga, Berdampak nyata dengan kesalehan sosial
Tidak melulu soal hubungan vertikal kepada Allah (hablum minallah), akan tetapi begitu pula hubungan horizontal sesama manusia (hablum minannas). Lapar yang kita rasakan saat sembilan hari berpuasa akan melatih empati kita pada kaum-kaum dhuafa. Maka di hari raya, pembagian daging hadir sebagai syari’at untuk pemerataan pangan dan penghilang sekat sosial. Berkurban mengajarkan kita bahwa rasa bahagia memakan daging kurban harus dibagikan agar tidak ada satu pun tetangga di sekitar kita yang merasa kelaparan atau merasa diabaikan.
Pada akhirnya, sepuluh hari pertama Dzulhijjah bukan sekadar hitung mundur menuju hari penyembelihan. Tentu saja ini menjadi tantangan dan PR bagi kita semua untuk tidak membiarkan golden days kali ini lewat begitu saja tanpa makna. Semoga di setiap bulan Dzulhijjah, kita semua tidak terjebak hanya pada seremoni pemotongan hewan saja, melainkan mampu menaikkan dan meraih level ketakwaan yang utuh dan memiliki dampak nyata bagi lingkungan sekitar kita.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Muhamad Rozan Azka
Penulis merupakan Mahasiswa Hukum Ekonomi Syari’ah Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Husnul Khotimah (STISHK) Kuningan