Bupati Mandikan Kerbau Bule dan Lepas Hama

KUNINGAN (MASS)- Bupati Kuningan H Acep Purnama menghadiri acara Pesta Dadung yang merupakan rangkaian acara Seren Taun di Kelurahan/Kecamatan Cigugur  pada Selasa (20/8/2019).  Bupati sendiri

menyambut baik atas terselenggaranya berbagai kegiatan dalam rangkaian acara Seren Taun.

“Saya menyambut gembira, berdasarkan laporan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan berjalan lancar,” kata Bupati Acep Purnama, saat menghadiri acara Pesta Dadung, di Situhiang Mayasih Kelurahan Cigugur, Selasa, (20/8/2019).

Bupati Acep menilai berbagai seni tradisi yang ditampilkan dalam rangkaian acara itu mengandung nilai-niai fositip yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari hari. Pada acara tersebut, Bupati Acep berkenan memandikan sapi sebagai simbol kasih sayang pada mahluk hidup yang berjasa kepada manusia.

Sekedar infromasi Pesta Dadung yang merupakan  merupakan pestanya para petani dan gembala atas berkah yang diberikan Tuhan yang maha esa atas anugerah hasil tani dan ternak yang melimpah. Pesta Dadung  digelar di pelataran Setu Hyang, dimana  para petani, gembala dan seluruh lapisan masyarakat diajak merenung atas karunia Tuhan yang telah menciptakan alam semesta yang dihuni oleh berbagai jenis makhluk hidup. Dan dalam menjalani kehidupan ini, seluruh makhluk dituntut untuk saling berdampingan dan hormat-menghormati untuk tercapai kehidupan yang seimbang.

Salah satu ritual yang dilakukan dalam Pesta Dadung adalah dilakukannya ritual pelepasan hama seperti burung, tikus, keong, serangga dan ulat. Makna dari ritual ini, adalah mengajak kepada seluruh umat manusia untuk bijak dalam berkehidupan dan saling menghormati tidak hanya terhadap sesama manusia namun juga terhadap hewan dan tumbuhan, sekalipun yang merugikan seperti hama tersebut.

Sebenarnya keberadaan hama memang merugikan para petani. Namun dengan bersikap bijak, menghormati hama sebagai makhluk tuhan yang juga mempunyai hak hidup, maka tidak perlu membasmi mereka yang justu malah akan membinasakan hewan tersebut.

Cukup dengan memindahkan kehidupan mereka ke ekosistem yang seharusnya, maka akan terjadi keserasian dan keseimbangan alam semesta ini. Seperti itu dari makan pelepasan hama.

Dengan dilakukannya ritual pelepasan hama kembali ke habitatnya, mengartikan kita juga menghormati kehidupan mereka sekaligus meminta agar mereka tidak kembali dan mengganggu kehidupan manusia.

Sementara ritual Pesta Dadung juga digelar tari-tarian menggunakan tali dadung yang biasa digunakan untuk mencocok hidung kerbau saat membajak sawah kemudian diikatkan kepada para penari terdiri dari tokoh adat, petani dan anak gembala. Ritual ini mengartikan makna hidup agar menjaga tali silaturahmi di antara sesama dan berusaha jangan sampai terputus.

Dilanjutkan dengan menari bersama-sama atau dikenal dengan istilah tayub yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa melihat pangkat dan golongan. Hal ini menunjukkan persatuan dan kesatuan tanpa membedakan mana rakyat jelata dan yang berpangkat.

Diakhiri dengan kegiatan pemukulan 1.000 kentongan oleh seluruh masyarakat dari Situ Hyang hingga Paseban Tri Panca Tunggal, bermakna memberi semangat dan penggugah hati masyarakat untuk tetap mematuhi setiap perintah tuhan dan jangan lengah untuk tetap waspada dalam menjalani hidup tanpa harus saling menyakiti diantara sesama makhluk ciptaan Tuhan. (agus)

 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com