Air PAM Seret Lagi, Kapan Operasional Mata Air Baru?

KUNINGAN (MASS) – Setelah beberapa bulan ke belakang pasokan air PAM ke sejumlah perumahan di Kecamatan Kramatmulya dan Kuningan lancar, kini kondisi air seret kembali terjadi. Bahkan 3 warga Perumahan Alam Asri sampai mendatangi Kantor PAM, Senin (29/6/2020) guna menanyakan kenapa hal itu terulang.

Pantauan kuninganmass.com, sekitar pukul 11.00 WIB mereka terlibat dialog dengan Direktur PAM Tirta Kamuning, H Deni Erlanda SE MSi. Hingga setelah audiensi berakhir, Deni memaparkan hasilnya kepada sejumlah awak media.

“Jadi kan gini, 3 bulan sebelumnya kan air lancar. Tapi dalam 2 minggu ini pasokan air mengalami gangguan lagi. Ini karena di atas (sumber mata air, red), airnya berebut dengan petani yang lagi musim siram tanaman,” tutur Deni.

Dalam menyikapi “teriakan” pelanggan, pihaknya akan mencoba bernego dengan petani agar saling membantu. Ia berpikiran, untuk menyiram tanaman tidak akan setiap saat sehingga bisa bergiliran.

“Kalau ternyata tidak ada kesepakatan, kita akan kirim bantuan tangki air lebih kontinyu, sampai pertengahan Juli mendatang,” sebutnya.

Kenapa sampai pertengahan Juli? Deni mengungkapkan, saat ini pembangunan mata air baru Cibangir yang berlokasi di perbatasan Cigugur-Cipari hampir rampung. Targetnya, Juli pertengahan nanti sudah bisa operasional.

“Debitnya 60 liter/detik. Cukup besar. Kalau diestimasikan bisa untuk mencukupi 6000 pelanggan. Ini mungkin terakhir kalinya kekeringan di perumahan,” ujar Deni.

Banyak kelebihan dari mata air Cibangir dibandingkan 3 mata air yang selama ini digunakan. Disamping debit air yang besar, kepemilikannya pun sudah berada di PAM. Termasuk izin, serta posisi mata air yang berada di bawah pesawahan.

“Karena posisinya di bawah pesawahan, maka tidak akan berebut dengan petani. Tipikal mata air ini pun 12 bulan, yang artinya dalam 12 bulan tidak kering. Sedangkan 3 mata air yang selama ini digunakan, masuk tipikal 6 bulan,” jelasnya.

Deni memaklumi ketidaknyamanan para penghuni perumahan akibat seretnya air. Meski kiriman tangki dilakukan, namun mereka akan kecapaian untuk terus-terusan mengangkut air dari bak tampungan ke rumah masing-masing.

“Kita juga sebetulnya rugi, karena air gak kejual. Tapi insya Allah, pertengahan Juli nanti mata air baru bisa dioperasikan, sehingga ketidaknyamanan itu segera berakhir,” ucap Deni. (deden)