Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass

Netizen Mass

Fenomena Kelangkaan Air Bersih

KUNINGAN (MASS) – Akhir-akhir ini di Indonesia cuaca panas yang ekstrim sedang terjadi, suhu panas rata-rata dari BMKG sekitar 35-37,5 derajat celcius di kawasan Jabodetabek. Di kota lain pun sama halnya suhu panas yang melonjak tinggi, dari bulan akhir agustus sampai akhir oktober. Sekitar 2 bulan lebih suhu panas naik drastis, dan terjadinya kemarau panjang.

Akibat dari kenaikan suhu panas yang meningkat, kekeringan pun melanda dibeberapa daerah dan terjadi kelangkaan air bersih. Lalu faktor terjadinya itu karena disuatu wilayah tidak turun hujan dalam kurun waktu yang cukup lama, maka kandungan air di dalam tanah semakin berkurang atau tidak ada sama sekali, serta kebutuhan air terus meningkat.

Dampak terjadinya kekeringan karena kurangnya sumber air, beberapa tumbuhan mati, dan juga ladang pertanian yang kering karena tidak ada pemasokan air ke ladang. Dan solusi yang tepat untuk mengatasi kelangkaan air bersih yaitu dengan reboisasi atau menanam pohon, pohon memiliki akar yang berfungsi untuk menyerap air di dalam tanah.

Salah satu daerah yang kesulitan mendapatkan air bersih yaitu Bogor, walaupun disebut dengan kota hujan tetapi di kabupaten bogor juga mengalami kekeringan karena penurunan curah hujan yang signifikan atau perubahan iklim yang ekstrim. Warga kabupaten bogor mengaku bahwa banyak sumur yang sudah mulai kering karena cuaca panas yang melanda, daerah kekeringan yang dirasakan yaitu di Desa Kalong Liud, Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor.

Curah hujan di wilayah-wilayah tersebut sudah berkurang sejak akhir bulan Mei, kata Dejan. Dia memperkirakan bila hujan tidak kunjung turun, total ada 15 kecamatan di Kabupaten Bogor yang berpotensi mengalami kekeringan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Kekeringan menurut saya paling parah 2020. Tahun 2023 kemungkinan sama seperti 2020, dari banyaknya desa yang terdampak,” ujarnya. Keterangan BPBD Kab. Bogor mencatat, pada 2020 sebanyak 23 desa/kelurahan di 8 kecamatan mengalami kekeringan. Dejan mengatakan, BPBD telah mengirimkan 5000 liter air ke wilayah terdampak. Lembaga tanggap bencana itu mungkin akan mengirimkan air secara rutin, sesuai permintaan dari kecamatan/desa

Sebelumnya, BMKG memprediksi bahwa El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang sebelumnya berada dalam fase netral mulai beralih pada periode Juni 2023 dan berlangsung dengan intensitas lemah hingga moderat. Sementara itu gangguan iklim dari Samudra Hindia, yaitu IOD (Indian Ocean Dipole), juga diprediksi akan beralih menuju fase IOD Positif mulai Juni 2023.

“Kombinasi dari fenomena El Niño dan IOD Positif yang diprediksi akan terjadi pada semester II 2023 tersebut dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia selama periode Musim Kemarau 2023,” kutipan keterangan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

“Bahkan sebagian wilayah diprediksi akan mengalami curah hujan dengan kategori Bawah Normal (lebih kering dari kondisi normalnya) hingga mencapai hanya 20 mm per bulan dan beberapa wilayah mengalami kondisi tidak ada hujan sama sekali (0 mm/bulan)” imbuhnya.

Dwikorita menjelaskan bahwa selain memicu kekeringan, minimnya curah hujan juga akan berpotensi meningkatkan jumlah titik api, sehingga makin meningkatkan kondisi kerawanan untuk terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Advertisement. Scroll to continue reading.

Apasih itu El Nino?

El Nino yaitu istilah cuaca dalam bahasa spanyol. El Nino ialah salah satu fenomena dimana pemanasan suhu muka laut meningkat di atas kondisi normal atau di atas maksimal suhu yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Peristiwa El Nino bisa menimbulkan resiko bencana kekeringan, mereka dapat menyebabkan kekeringan parah seperti di Negara Australia, Indonesia, sebagian Asia bagian selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan bagian utara.

Jadi menurut pendapat saya tentang kekeringan yang melanda dapat menyebabkan kelangkaan air bersih, ini tuh dapat berdampak buruk juga kepada kehidupan manusia. Karena kurangnya sumber air minum atau sember air bersih, dapat menyebabkan dehidrasi dan berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia, serta air bersih pun tidak berguna lagi untuk mandi dan mencuci jika sudah sedikit. Sumber air buat kebutuhan sehari-hari pun semakin berkurang, sehingga kebutuhan udara untuk memasak, dan lain sebagainya tidak terpenuhi.

Kesimpulan yang dapat diambil dari kelangkaan air bersih ini yaitu bahwa , suhu panas rata-rata dari BMKG sekitar 35-37,5 derajat celcius di kawasan Jabodetabek. Di kota lain pun sama halnya suhu panas yang melonjak tinggi, dari bulan akhir agustus sampai akhir oktober.

Untuk mengatasi kelangkaan air bersih dapat dilakukan beberapa upaya, yaitu dengan menghemat penggunaan air dan tidak melakukan pemborosan atau membuang-buang air, menanam pohon atau reboisasi (penghijauan lahan), serta melakukan sosialisasi untuk penghematan udara memperbaiki ekosistem. Dan salah satu contoh daerah yang terjadi kekeringan yaitu di daerah Bogor, Desa Kalong Liud, Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Dimana dari pengakuan warga bahwa banyak sumur yang sudah mulai kering karena cuaca panas yang melanda. Sebelumnya, BMKG memprediksi bahwa El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang sebelumnya berada dalam fase netral mulai beralih pada periode Juni 2023 dan berlangsung dengan intensitas lemah hingga moderat. El Nino ialah salah satu fenomena dimana pemanasan suhu muka laut meningkat di atas kondisi normal atau di atas maksimal suhu yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah.

Dan saran dari saya tentang kelangkaan air bersih karena terjadinya kekeringan yang melanda yaitu dengan solusi jangka pendek untuk kekeringan ialah perbaikan cuaca, namun solusi permanennya membutuhkan perbaikan ekosistem. Selain itu, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi kebiasaan buruk masyarakat. Selain itu, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, organisasi, korporasi, dan individu untuk mengatasi krisis air bersih.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk lembaga yang fokus pada pengentasan kekeringan dan kekurangan air bersih di Indonesia. Gotong royong juga dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi krisis air bersih di pedalaman Indonesia dengan melakukan sedekah air. Mengubah cara berpikir reaktif menjadi proaktif juga menjadi hal yang penting dalam mengatasi krisis udara.

Penulis: Naila Nur Oktavia Azzahra, Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Advertisement. Scroll to continue reading.
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

You May Also Like

Headline

KUNINGAN (MASS) – Sebagian wilayah di Kabupaten Kuningan terletak di kawasan kaki Gunung Ciremai. Meski berada di kaki gunung yang subur, ternyata tak menjamin...

Government

KUNINGAN (MASS) – Sejumlah anak-anak dari sekitaran Kecamatan Ciniru, nampak bersuka cita di depan Menhan RI Prabowo Subianto, saat air yang keluar dari pipa...

Headline

KUNINGAN (MASS) – Musim kemarau yang cukup panjang, nampaknya cukup berdampak ke pasokan air. Bahkan, ribuan warga Kuningan yang tersebar di beberapa desa, mengalami...

Sport

KUNINGAN (MASS)- Dibawah kepemimpinan yang baru yakni Asep Suryawana, Pengcab Tarung Derajat Kuningan langsung melakukan gebrakan  berupa kegiatan bakti sosial. Baksios tersebut adalah  pemberian...

Government

KUNINGAN (MASS) – Momen  HUT ke 64 Lalu Lintas Bhayangkara Tahun 2019 dimanfaatkan oleh Satuan Lalu Lintas Polres Kuningan untuk membantu warga yang kekurangan...

Government

KUNINGAN (MASS)- BPBD Kuningan sejak bulan 18 Juli hingga 30 September sudah menyalurkan 1.060.000 liter air bersih kepada warga. Air bersih itu disalurkan kepada...

Advertisement