KUNINGAN (MAS) – Potensi musim kemarau ekstrem yang diprediksi BMKG menjadi perhatian serius kelompok masyarakat di desa penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, yang tergabung kedalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Paguyuban Silihwangi Majakuning. Warga memilih bergerak lebih dulu memperkuat sistem mitigasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Seperti yang dilakukan pekan ini, Pengurus Paguyuban aktif mendatangi sejumlah KTH di Majalengka, menggelar sosialisasi pencegahan dini kebakaran, serta memberikan bantuan peralatan pemadam api Jet Shooter. Kegiatan serupa akan dilanjutkan kepada KTH di Kabupaten Kuningan hingga akhir April 2026.
“Ada sekitar 28 KTH di Majalengka dan Kuningan yang akan mengikuti kegiatan pencegahan karhutla ini. Meliputi sosialisasi kesiapan, turut serta patroli rutin bersama BTNGC dan meningkatkan koordinasi, hingga pemeliharaan sekat bakar,” jelas Nandar, disela kunjungan ke salahsatu KTH di Kuningan, Kamis (23/4/2026) kemarin.
Pekan ini, jajaran pengurus telah menggelar kegiatan di kawasan Buper Panten, Desa Argalingga, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Kegiatan difokuskan pada penguatan kesiapsiagaan lapangan, peningkatan kapasitas personel KTH, hingga penyerahan bantuan Jet Shooter atau pompa punggung untuk mempercepat penanganan awal saat muncul titik api di kawasan hutan.
Prakiraan BMKG terkait potensi kemarau ekstrem 2026 akibat fenomena “Godzilla El Nino” memunculkan kekhawatiran serius terhadap ancaman kekeringan panjang dan meningkatnya risiko kebakaran di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai. Situasi ini dinilai berpotensi mengancam fungsi ekologis TNGC sebagai daerah tangkapan air sekaligus penyangga kehidupan masyarakat lintas wilayah di Kuningan dan Majalengka.
Nandar, menilai mitigasi tidak bisa dilakukan secara reaktif saat api mulai membesar. Persiapan harus dibangun sejak dini melalui penguatan koordinasi antar-KTH, kesiapan sarana pemadaman awal, hingga patroli rutin di titik rawan kebakaran.
“Mitigasi harus dimulai dari sekarang. Jangan menunggu api membesar baru bergerak. Kesiapan personel, alat, dan koordinasi menjadi kunci agar penyebaran api bisa ditekan sejak awal,” tegas H Nandar.
Ia menilai keberadaan KTH, sebagai warga yang tinggal berbatasan langsung dengan Hutan Ciremai, memiliki posisi strategis, garda terdepan penjaga kawasan hutan. Karena itu, solidaritas antar kelompok dinilai menjadi faktor penting dalam menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau panjang.
“Kalau sewaktu-waktu terjadi kebakaran, seluruh KTH harus saling membantu dan bergerak cepat. Kekompakan di lapangan akan menentukan cepat atau lambatnya penanganan,” ujarnya.
Selain memperkuat kesiapan teknis, kegiatan itu juga menyoroti pentingnya evaluasi dari kasus-kasus kebakaran sebelumnya. Koordinator Lapangan Paguyuban Silihwangi Majakuning, Jumanta menerangkan, kawasan sekitar Cikaracak di wilayah Argapura termasuk area yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi saat musim kemarau tiba.
Kondisi vegetasi kering ditambah tiupan angin di kawasan lereng gunung berpotensi mempercepat penyebaran api apabila tidak dilakukan penanganan awal secara cepat.
“Pengawasan wilayah rawan harus diperketat. Penanganan awal tidak boleh terlambat karena api di kawasan hutan bisa cepat meluas,” katanya.
Di sisi lain, ancaman terhadap kawasan TNGC dinilai bukan hanya berasal dari karhutla. Paguyuban menyampaikan keprihatinan, dengan kemungkinan adanya aktivitas perburuan liar. Ia menilai edukasi kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan harus terus diperkuat, supaya aktif mencegah terjadinya kerusakan ekosistem akibat perburuan. Warga diharapkan segera melapor ke BTNGC jika menemukan aktivitas seperti ini.
Kegiatan di Majalengka dihadiri jajaran KTH Waluya Bagja, KTH Ciremai Indah, KTH Bukit Cikaracak, KTH Caladi Sakti, dan KTH Cangehgar. Seluruh anggota Paguyuban sepakat memperkuat patroli kawasan serta turut serta mengedukasi masyarakat sekitar, agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.