Apakah Sholat Subuh Lebih Berat daripada Healing?

KUNINGAN (MASS) – Di era sekarang, istilah healing sudah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang termasuk kita pemuda terutama. Demi menikmati matahari terbit di puncak gunung, menyaksikan pantai saat fajar, atau sekadar menikmati udara pagi, seseorang rela bangun pukul tiga dini hari, menempuh perjalanan jauh, bahkan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Namun, muncul sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan: Jika untuk healing kita mampu bangun sebelum subuh, mengapa untuk memenuhi panggilan Allah kita sering merasa begitu berat?

Allah Ta’ala telah memanggil hamba-Nya melalui azan:

“Ash-shalātu khairun minan naum” (Shalat lebih baik daripada tidur).

Kalimat ini bukan sekadar seruan, tetapi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya diperoleh dari indahnya pemandangan alam, melainkan juga dari kedekatan dengan Sang Pencipta.

Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun harus merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa shalat Subuh memang memiliki ujian tersendiri. Beratnya bukan karena Allah ingin menyulitkan hamba-Nya, tetapi karena setan berusaha keras agar manusia kehilangan salah satu ibadah yang paling besar pahalanya.

Ironisnya, ketika ada agenda wisata, memancing, berburu, mendaki gunung, atau mengejar matahari terbit, rasa kantuk seolah hilang. Alarm dipasang berlapis-lapis, bahkan kita meminta teman untuk membangunkan. Tetapi sebaliknya ketika waktu subuh

Padahal, ketenangan yang dicari melalui healing sejatinya juga dapat diperoleh melalui shalat. Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Bukan berarti healing itu haram. Menikmati ciptaan Allah, menyegarkan pikiran, dan beristirahat adalah hal yang dibolehkan selama tidak melalaikan kewajiban. Yang perlu kita renungkan adalah jangan sampai semangat untuk mencari ketenangan dunia melebihi semangat memenuhi panggilan Rabb semesta alam.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

  • Mengapa aku rela hiking pukul tiga pagi demi melihat matahari terbit, tetapi berat bangun untuk shalat Subuh?
  • Mengapa aku sanggup berjalan jauh demi menikmati alam, tetapi enggan melangkah ke masjid yang jaraknya dekat?
  • Apakah aku benar-benar mencari ketenangan, atau justru menjauh dari sumber ketenangan yang sesungguhnya?

Mari kita jadikan shalat Subuh sebagai awal kemenangan setiap hari. Jika kita mampu melawan rasa malas demi dunia, maka seharusnya kita lebih mampu melawannya demi ridha Ilahi.

Karena bisa jadi, yang lebih kita butuhkan bukan sekadar healing, tetapi kembali kepada Allah.

Penulis: Ikhwan Nabawi