Orang Tua Miliki Trauma, Susi : Aku Sayang Mamah, Kadang Takut

KUNINGAN (MASS) – Hidup setiap manusia berbeda. Begitu juga yang dialami Siti Susi Susilawati.

Susi seorang bocah berusia 11 tahun, hidup bersama sang ibu yang didiagnosa gangguan jiwa, traumatik, posesif.

Susi sendiri tercatat sebagai murid kelas 4 di SD N 2 Jatisari. Sejak usianya belum genap 2 tahun, sang ayah mendahuluinya menghadap yang maha kuasa. Mungkin, itu juga yang menyebabkan ibunya semakin labil.

“Susi Sayang sama mamah,” waktu ditanyai kuninganmass.com Minggu (10/5/2020) pagi.

Dari cerita tetangga dan gurunya, Sang Ibu, Cahyami, masih sering labil. Selain setiap malam rumah lampunya tak pernah menyala, sang ibu juga kadangkala seolah menangis, juga marah.

“Takut (kalo mamah lagi marah, red) ” ujarnya saat ditanyai.

Sang ibu memiliki trauma ketika anak dari suami pertama, tak diperkenankan bertemu ibunya sendiri, Cahyami.

Trauma sedikit membaik ketika pernikahan kedua, nahas, suaminya tersebut, ayah Susi, meninggal sejak 10 tahun lalu.

Susi sendiri tak bisa bersosialisasi layaknya anak seusianya. Susi lebih banyak diam di rumah menemani sang ibu, lebih tepatnya sang ibu tak membiarkan Susi jauh darinya.

Bahkan, ketika hari sekolah normal, sang ibu juga ikut ke sekolah.

“Kangen sekolah, kangen sama temen,” ujar Susi saat ditanyai tentang sekolah.

Meski keadaan sang ibu serba membatasi Susi, dirinya tak malu bercita-cita menjadi suster. Menurutnya, pekerjaan mengobati orang sakit menjadi impiannya.

“(Kalo ibu sakit, red) juga mau dirawat,” ucap Susi saat ditanya alasan bercita-cita jadi suster.

Sang ibu sendiri terkadang masih bisa diajak ngobrol. Ketika kondisinya sedang stabil, dirinya bahkan masih normal menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan tentang Susi, seperti rasa sayang dan sekolah.

“Bade dilanjutkeun (sekolahnya, red) meren,” jawab sang ibu pelan.

Saat ini Susi dan sang ibu hanya tinggal berdua di salah satu dusun di Desa Jatisari Kecamatan Subang Kuningan. Susi tak pernah patah semangat, terutama soal belajar.

Karena keterbatasa kondisi, dan tidak ada gadget, disaat pandemi ini guru di SD sering mendatanginya ke rumah, membantu Susi belajar. (eki)