Alumni Mahasiswa Yaman Ceritakan Kemeriahan Iduladha di Timur Tengah; Vibesnya Lebih Meriah dari Idulfitri

KUNINGAN(MASS) – Perayaan Hari Raya Iduladha selalu memiliki cerita unik dari berbagai belahan dunia. Salah satu alumni mahasiswa asal Yaman, S. Bagas Fuadi, membagikan pengalamannya mengenai perbedaan kultur dan kemeriahan perayaan Idul Kurban saat ia masih menempuh studi di sana.

Bagas menjelaskan, di negara-negara Arab, termasuk Yaman, perayaan Idul adha lebih besar dan lebih meriah ketimbang Idulfitri. Hal ini juga sejalan dengan pandangan dalam kitab-kitab fikih yang menempatkan Iduladha sebagai hari raya yang sangat utama.

“Di negara-negara Arab ya sebenarnya memang dalam kitab kitab fikih juga itu kan ada dua Idul Fitri sama Idul Adha. Ketika memperingati Idul Adha itu memang lebih meriah, yang lebih besar adalah Idul Adha. Dan orang orang Arab juga ketika memperingati Idul Adha itu memang lebih meriah,” tuturnya kala diwawancara kuninganmass.com Kamis (28/5/2026).

Alasan pertama kemeriahan tersebut karena Iduladha jatuh pada bulan Zulhijah, sebuah bulan istimewa yang memiliki ibadah khusus yang tidak bisa dilakukan di bulan lain. Ibadah mendasar seperti ibadah haji dan ibadah kurban hanya memiliki waktu pelaksanaan tertentu di bulan ini.

“Karena di bulan Dzulhijjah itu adalah bulan yang istimewa dan ada ibadah yang tidak bisa dilakukan kecuali di bulan Dzulhijjah kayak haji dan juga ibadah kurban. Puasa kita Arofah kemarin juga puasa Asyura, Muharram, puasa sementara kurban enggakementara kurban enggak,” paparnya.

Alasan kedua yang membuat Iduladha terasa lebih besar di Yaman adalah durasi perayaannya yang mencapai empat hari karena adanya hari tasyrik. Pada hari-hari tersebut, umat Islam diharamkan untuk berpuasa sebagai simbol bahwa mereka sedang dijamu oleh Allah SWT.

“Kalau Idul Adha itu kan kita banyak daging, justru hari tasyrik kan kita maksudnya lebaran itu empat hari, makanya di situ yang bikin besar. Karena di situ kan haram kita buat puasa juga kan di situ kita banyak daging,” tandasnya.

Kondisi ini berbeda dengan momen Idulfitri di Yaman yang hanya satu hari saja. Kebanyakan warga di sana akan langsung menyambung hari kedua dengan ibadah puasa sunah Syawal, sehingga aktivitas makan-makan besar tidak berlangsung lama.

“Terus memang diharamkan puasa yang artinya ditunjukin bahwa kita itu dijamu oleh Allah. Sementara kalau Idul Fitri, satu hari Lebaran ini bicara kita di Yaman ya hari ini lebaran, besoknya langsung puasa lagi, puasa Syawal,” pungkasnya. (raqib)