KUNINGAN (MASS) – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk pendidikan tinggi. Heriman, seorang mahasiswa aktivis HMI, mengemukakan pandangannya tentang pengaruh AI terhadap dunia mahasiswa dan apakah keberadaan teknologi ini memberikan dampak positif atau malah sebaliknya.
Menurut Heriman, mahasiswa saat ini semakin akrab dengan AI dalam berbagai bentuk, seperti aplikasi penerjemah, chatbot akademik, dan sistem penilaian otomatis. Kehadiran teknologi ini tentunya memudahkan mahasiswa dalam menjalani aktivitas belajar sehari-hari.
“AI bisa membantu mahasiswa menemukan referensi dan merangkum jurnal dengan cepat,” ujarnya kepada kuninganmass.com Senin (19/1/2026).
Dia menjelaskan bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan waktu atau akses sumber belajar, AI menjadi solusi praktis.
“Dengan AI, mereka bisa belajar sesuai dengan kecepatan dan gaya mereka masing-masing. Ini membantu mereka lebih mandiri dalam belajar,” imbuhnya.
Namun, ada sisi gelap dari penggunaan AI yang perlu diperhatikan. Heriman menekankan bahwa ketergantungan pada teknologi ini bisa berisiko mengancam integritas akademik. Ia juga mencatat bahwa fenomena plagiarisme semakin kompleks dengan adanya kemampuan AI menghasilkan esai atau laporan dalam waktu singkat.
“Tugas yang seharusnya dikerjakan dengan pemikiran kritis malah bisa diselesaikan dengan instan berkat AI. Mahasiswa bisa saja mendapatkan nilai bagus tanpa benar-benar memahami pelajaran, dan itu merusak tujuan pendidikan,” jelasnya.
Heriman mengemukakan mahasiswa tidak seharusnya hanya bergantung pada AI. Jika mereka melakukannya terus-menerus, kemampuan berpikir kritis dan kreatif bisa menurun.
“Kita perlu menciptakan generasi yang bukan hanya cerdas dalam teknologi, tetapi juga kuat dalam aspek intelektual,” tuturnya.
Ia menekankan tanggung jawab penggunaan AI harus ada di tangan mahasiswa dan institusi pendidikan. Dengan peran yang tepat, AI dapat diarahkan untuk memperkaya pengalaman belajar, bukan merusaknya.
“Kurikulum perlu disesuaikan agar mahasiswa tetap dilatih untuk berpikir kritis, namun disisi lain, kita harus terus mengembangkan keterampilan yang tidak bisa digantikan oleh AI, seperti empati dan komunikasi,” pungkasnya. (raqib)










