Upacara Hari Santri Berbahasa Arab dan Inggris, Al-Ikhlas Praktikkan Pendidikan Multibahasa

KUNINGAN (MASS) – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tidak hanya menjadi momentum mengenang perjuangan santri dalam sejarah bangsa, tetapi juga ruang untuk menunjukkan kesiapan generasi pesantren menghadapi tantangan masa depan. Hal itu tercermin dalam pelaksanaan upacara Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Jambar, Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan, Kamis (22/10/2026), yang mengintegrasikan penggunaan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam seluruh rangkaian upacara.

Sebanyak 400 peserta yang terdiri atas santri putra, santri putri, dewan guru, dan seluruh khadimin pondok mengikuti kegiatan yang berlangsung di lapangan pesantren. Berbeda dari pelaksanaan upacara pada umumnya, instruksi, aba-aba, hingga kesiapan petugas disampaikan menggunakan dua bahasa asing yang menjadi bagian dari program pendidikan kebahasaan di Al-Ikhlas Jambar.

Penggunaan bahasa Arab dan Inggris dalam upacara ini bukan sekadar upaya menghadirkan suasana internasional. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana praktik langsung bagi santri untuk mengaplikasikan kemampuan bahasa yang dipelajari dalam kehidupan pesantren.

Ketua Panitia, Ust Makhdum Amarullah SH, mengatakan pelaksanaan upacara dirancang sebagai ruang bagi santri untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan inovasi. Menurutnya, kegiatan pesantren dapat menjadi media pembelajaran yang mendorong santri mempraktikkan kemampuan mereka secara nyata, termasuk dalam penggunaan bahasa asing.

“Kami ingin memberikan ruang bagi santri untuk mengembangkan potensi, kreativitas dan inovasi, termasuk dalam penggunaan bahasa asing melalui pelaksanaan upacara ini,” ujarnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan komitmen Al-Ikhlas Jambar dalam memperkuat penguasaan bahasa Arab dan Inggris sebagai salah satu trilogi pencapaian pendidikan pesantren. Kemampuan berbahasa tidak hanya diajarkan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga dibangun melalui pembiasaan dan kegiatan produktif yang melibatkan santri secara aktif.

Berbagai program turut mendukung pengembangan kompetensi, di antaranya Muhawarah atau percakapan, Muhadharah atau latihan berbicara di depan umum, Tasji’ul Lughah atau penguatan motivasi berbahasa, Amaliyatut Tadris atau praktik mengajar, serta Kitabatul Insya atau latihan menulis karangan berbahasa Arab.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, santri memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa dari berbagai aspek, mulai dari komunikasi lisan, keberanian berbicara di depan publik, kemampuan mengajar, hingga keterampilan menulis. Pelaksanaan upacara dalam bahasa Arab dan Inggris kemudian menjadi salah satu bentuk penerapan pembelajaran tersebut dalam kegiatan kolektif pesantren.

Di sisi lain, peringatan Hari Santri Nasional juga mengandung pesan tentang pentingnya mempersiapkan generasi pesantren agar mampu menjawab persoalan masyarakat yang terus berkembang.

Ustadz M Jafar Mugoffa Zen SPd, menegaskan bahwa tantangan perjuangan santri pada masa kini telah mengalami perubahan. Jika generasi terdahulu berjuang melawan penjajahan, santri masa kini memiliki tanggung jawab untuk melawan kebodohan, menghindari fanatisme buta, serta meneruskan harapan para kiai demi kemaslahatan bangsa, negara, dan agama.

“Perjuangan santri hari ini, bukan lagi melawan penjajahan, melainkan melawan kebodohan, fanatisme buta serta meneruskan harapan para kiai demi kemaslahatan bangsa, negara dan agama,” tuturnya.

Pesan tersebut menempatkan penguasaan ilmu pengetahuan, keluasan wawasan, dan pengabdian sebagai bagian penting dari perjuangan santri kontemporer. Kemampuan berbahasa asing pun dapat menjadi salah satu bekal untuk memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan dan membangun komunikasi lintas budaya, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan tradisi pesantren.

Dengan memadukan tradisi pesantren salaf dan pendekatan pendidikan modern, Al-Ikhlas Jambar berupaya membentuk santri yang tidak hanya memiliki bekal keilmuan dan akhlak, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Pelaksanaan upacara Hari Santri Nasional menggunakan bahasa Arab dan Inggris akhirnya menjadi gambaran bahwa tradisi pesantren dapat terus berkembang melalui inovasi pendidikan. Semangat Hari Santri tidak berhenti pada seremoni tahunan, melainkan diwujudkan dalam proses pembelajaran yang mempersiapkan santri untuk berkontribusi bagi masyarakat dan peradaban masa depan. (didin)