KUNINGAN (MASS) – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi momentum untuk mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan teknologi, tetapi juga mampu mengambil peran dalam menciptakan perubahan yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan, intelektualitas, dan kepedulian sosial.
Pesan itu disampaikan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Abdul Malik Fadjar, Izzatun Nawawi, dalam momentum Hari Santri Nasional yang diperingati pada Kamis (22/10/2026).
Menurut Izzatun, kemajuan zaman menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda. Modernisasi dan digitalisasi yang berkembang pesat perlu diimbangi dengan penguatan karakter, pemahaman agama, serta kemampuan berpikir kritis agar anak muda mampu menentukan arah dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Jangan sampai kita di era yang semakin maju, di era modernisasi yang semakin menipu, dan di era digitalisasi yang semakin canggih, hanya menjadi penonton sandiwara. Kita harus berperan dan ikut andil sebagai tokoh utama,” ujarnya.
Ia menilai, generasi muda perlu memiliki kesadaran bahwa kecanggihan teknologi saja tidak cukup untuk menjawab persoalan zaman. Kemampuan intelektual harus berjalan beriringan dengan kedalaman spiritual agar ilmu yang dimiliki tidak hanya berorientasi pada pencapaian pribadi, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.
Dalam konteks tersebut, semangat Hari Santri Nasional dapat menjadi pengingat bahwa tradisi keilmuan dan nilai-nilai keagamaan memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang adaptif terhadap perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Bagi Izzatun, santri tidak hanya merepresentasikan ketekunan dalam mempelajari ilmu agama, tetapi juga semangat disiplin, keikhlasan, perjuangan, dan pengabdian. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk diterapkan generasi muda dalam menghadapi tantangan di ruang digital maupun kehidupan sosial.
Ia juga menekankan pentingnya mengubah pola pikir generasi muda dari sekadar pengguna teknologi menjadi pencipta gagasan dan karya. Budaya literasi, kebiasaan belajar, kecakapan digital, serta keterlibatan dalam kegiatan sosial dan keagamaan menjadi langkah penting untuk membangun generasi yang produktif dan bertanggung jawab.
Menurutnya, penguasaan ilmu pengetahuan harus mampu melahirkan keberanian untuk mengambil inisiatif, menyelesaikan persoalan, dan menghadirkan solusi. Dengan begitu, kemajuan teknologi tidak hanya dinikmati sebagai fasilitas, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana memperluas dakwah, menyebarkan pengetahuan, dan memperkuat kebermanfaatan bagi masyarakat.
Momentum Hari Santri Nasional 2026, lanjut Izzatun, hendaknya tidak berhenti pada perayaan seremonial. Peringatan ini perlu menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk membangun keseimbangan antara kecakapan intelektual, keteguhan spiritual, dan tanggung jawab sosial.
“Jadilah generasi yang tidak hanya pandai membaca perubahan zaman, tetapi juga mampu menuliskan sejarahnya sendiri. Jangan hanya menjadi penonton kemajuan, melainkan hadir sebagai pelaku yang membawa perubahan dan kebermanfaatan bagi agama, bangsa, dan peradaban,” pesannya.
Ia berharap, semangat Hari Santri Nasional dapat mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, akhlak mulia, serta keberanian untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat dan masa depan bangsa. (didin)
