Habis Gelap Terbitlah Terang (Refleksi Hari Kartini)
KUNINGAN (MASS) – Kalimat itu ditulis R.A. Kartini lebih dari 100 tahun lalu. Saat itu, perempuan Jawa dikurung tembok tradisi. Tidak boleh sekolah tinggi. Tidak boleh bersuara. Masa depannya sudah diputuskan: dipingit, lalu dinikahkan. Gelap. Tapi Kartini memilih tidak diam. Dari kamar pingitannya di Jepara, ia menulis surat. Satu per satu. Kepada teman-temannya di Belanda. … Baca Selengkapnya