Tiga Desa Bersejarah Ini Menyimpan Ribuan Halaman Naskah Kuno

KUNINGAN (MASS) – Tiga desa di Kabupaten Kuningan ditemukan memiliki beberapa naskah kuno atau manuskrip peninggalan jaman dulu. Sedikitnya tercatat ada 5 bundel manuskrip yang berisi ribuan halaman dari tiga desa tersebut.

Tiga desa ini diantaranya Desa Lengkong Kecamatan Garawangi, Desa Timbang Kecamatan Cigandamekar dan Desa Windujanten Kecamatan Kadugede.

Pemiliknya, dari Lengkong sebanyak 3 orang. Yaitu, Iim Abdurrahman sekitar 2500 halaman, Yayat sekitar 1000 halaman, dan Endun Abd Rahman sekitar 500 halaman.

Sedangkan dari Windujanten hanya seorang yakni milik KH Mansyur sekitar 1500 halaman. Satu orang lagi dari Timbang sekitar 200 halaman milik Ust Uuy Fathurahman.

Saat ini, beberapa ahli filologi (Tim DREAMSEA) sedang menjalankan misi digitaliasi terhadap ribuan halaman naskah tersebut. Tujuan digitalisasi tersebut sebagai inspirasi untuk merekontruksi sejarah local di Kuningan.

Dari keterangan yang diperoleh kuninganmass.com, misi digitalisasi manuskrip dimulai sejak 7 September 2018. Misi ini dilakukan oleh sejumlah anggota Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Targetnya akan mendigitalkan sekitar 7000 halaman dari 30 bundel manuskrip.

Sedangkan dari Kuningan ada 5 manuskrip yang sedang digitalkan. Manuskrip tersebut berasal dari Lengkong, Windujanten dan Timbang. Dalam konteks masyarakat lokal, tiga desa ini merupakan pusat penyebaran Islam di Kuningan pada masa lampau. Hal ini dibuktikan dengan tersebarnya beberapa pesantren tradisional yang terindikasi menyimpan banyak manuskrip.

Dr M Adib Misbachul Islam, Doktor dalam kajian filologi yang terlibat sebagai Academic Expert dalam misi ini, mengatakan bahwa para ahli sering tidak menyebutkan Kuningan ketika menulis sejarah di wilayah Sunda, Jawa, maupun dalam konteks kajian keislaman.

Padahal di kawasan ini banyak ditemukan artefak-artefak bersejarah termasuk manuskrip-manuskrip. Untuk itu, Adib berharap bahwa misi digitalisasi ini akan memberikan wacana dan perspektif baru bagi para peneliti di masa yang akan datang.

“Misi digitalisasi ini adalah menyediakan infrastruktur riset. Hal ini akan menginspirasi para peneliti sehingga dapat merekonstruksi dan melengkapi penulisan sejarah yang pernah ditulis sebelumnya,” kata Adib.

Aktivitas digitalisasi di Kuningan bertempat di SDIT Al-Fattah Lengkong  adalah misi keempat DREAMSEA untuk mendigitalkan manuskrip-manuskrip yang endangered dan affected di Asia Tenggara.

Sebelumnya, misi yang sama telah dijalankan di Indonesia (Sumatera Selatan dan Buton) dan juga di Laos (Luang Prabang). Misi-misi tersebut dijalankan oleh PPIM UIN Jakarta dan CSMC Universitas Hamburg yang didukung oleh yayasan Arcadia dari London, Inggris. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com