Skill Bahasa Asing Buat Dakwah? Kenapa Enggak!

KUNINGAN (MASS) – Coba deh cek screen time HP kamu hari ini. Berapa jam yang kamu habiskan buat maraton drakor, nonton anime on-going terbaru, baca komik berbahasa Inggris karena lebih update yang awalnya “satu chapter lagi” tapi tahu-tahu udah puluhan chapter, atau scrolling TikTok buat cari video idol atau artis favorit? Jujur aja deh, sebagian besar dari kita pasti pernah melakukan salah satunya. Menariknya, tanpa sadar kita udah mulai terpapar oleh konten-konten berbahasa asing demi sesuatu yang kita sukai. Awalnya mungkin cuma tahu kata-kata sederhana seperti ”Annyeonghaseyo”, ”Kamsahamnida”, atau beberapa kalimat bahasa Inggris yang sering muncul di media sosial. Lama-lama, kita mulai paham arti percakapan, menangkap konteks, atau bahkan ikut menirukan cara pengucapannya.

Fenomena ini menunjukkan satu hal, bahwasannya kemampuan generasi muda sekarang sebenarnya cukup baik dalam menyerap bahasa asing , emang sih waktu zaman sekolah dulu belajar bahasa asing lebih horror daripada film horror, karena kita disuruh menghafal tata bahasa yang kita aja gak paham. Belajar lewat konten yang kita sukai emang jauh lebih terasa menyenangkan, gak heran kalau akhirnya banyak anak muda yang mahir bahasa asing karena hobi mereka sendiri.

Biasanya, alasan belajar bahasa asing itu cukup simple, mau nonton film, drama, series, atau variety show luar tanpa subtitle, paham lirik lagu barat, atau sekedar biar terlihat keren. Tapi, gak sedikit juga dari kita yang mengganggap bahwa skill bahasa asing itu sebagai survival kit untuk masa depan, seperti mengejar karier di luar negeri atau kuliah di luar negeri.

Tapi kalau dipikir-pikir sebenarnya kemampuan bahasa asing kita bisa digunakan untuk suatu tujuan yang lebih besar. Bukan sekedar tentang hiburan, tapi sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan dan mendapatkan pahala. Apa itu?

Dari Cari Hiburan Ke Cari Berkah

Jujur, belajar bahasa asing buat nonton drakor tanpa subtitle atau sekedar paham meme internasional itu gapapa banget. Tapi sadar gak sih skill bahasa asing yang kita punya bisa menjadi lebih bermanfaat? Seperti sharing hal-hal positif -alias dakwah- dengan cara yang jauh lebih keren. Sekarang, rasanya kalau liat di TikTok atau Reels IG, konten yang pakai bahasa asing terlihat lebih aesthetic dan sinematik. Bayangin kalau visual tersebut digunakan untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan, bukan cuma manjain mata tapi juga menyentuh hati, dan potensinya juga bisa go international.

Saat ini, pengguna internet di seluruh dunia udah mencapai miliaran orang, dan bahasa Inggris digunakan oleh lebih dari 1,5 miliar penduduk bumi sebagai bahasa komunikasi utama atau kedua. Belum lagi jutaan orang yang aktif menggunakan bahasa global lain seperti Mandarin, Jepang, atau Arab setiap harinya. Ini bukan sekedar angka, tapi ini adalah jumlah ”audiens” yang bisa kita jangkau jika kita mau berinteraksi dan berkomunikasi.

Bahasa adalah ”Jembatan”

Kita harus menganggap bahwa bahasa itu adalah jembatan, bahasa itu bisa menghubungkan satu orang dengan orang lainnya. Kalau kita cuma pakai buat hiburan sama aja kayak kita cuma jalan di tempat. Semakin banyak bahasa yang kita pahami, semakin luas pula kesempatan kita untuk berbagi ide, pengalaman, dan nilai-nilai kebaikan.

Kita gak usah nunggu punya sertifikat keahlian bahasa kayak TOEFL atau nunggu punya skill editing yang sempurna buat sharing kebaikan. Kadang, hal sederhana seperti membagikan kutipan tentang sabar, syukur, atau ikhlas dalam bahasa Inggris atau menerjemahkan video dakwah pendek misalnya udah bisa jadi dakwah yang bermanfaat buat orang lain. Ingat pesan Rasulullah Saw:

”Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari No. 3461)

Lewat hadits ini kita diajarkan untuk tidak meremehkan hal kecil, siapa tahu tulisan sederhana itu justru menjadi penyelamat hari seseorang yang sedang down di belahan dunia lain.

Dakwah Tanpa ”Kaku”

Kita sering mengganggap bahwa dakwah merupakan ceramah panjang atau nasihat yang serius. Padahal inti dakwah itu bagaimana menyampaikan kebaikan dengan cara yang dapat diterima, mengingat salah satu karakteristik dakwah yaitu ”kekinian dan tidak kuno”. Metode penyampaian harus sesuai kondisi dan situasi orang yang kita ajak. Nah, generasi muda sekarang terbiasa dengan komunikasi yang interaktif, seperti obrolan antar teman. Di sinilah, bahasa asing menjadi peluang. Bahasa Inggris, misalnya, menjadi salah satu bahasa komunikasi global yang digunakan oleh banyak orang dari berbagai negara.

Melalui skill bahasa asing yang kita miliki, kita bisa memulai percakapan sederhana tentang nilai-nilai universal yang juga diajarkan oleh Islam, seperti menghormati orang tua, saling membantu, atau berbuat baik kepada sesama. Siapa sangka, obrolan ringan di media sosial dengan teman dari berbagai negara lain bisa menjadi jalan untuk mengenalkan nilai-nilai Islam secara tidak langsung. Kadang, dakwah yang paling mengena justru hadir lewat percakapan sederhana, sikap yang baik, dan contoh yang nyata.

Jadi, pada akhirnya skill bahasa asing yang kita miliki itu bukan cuma buat nonton tanpa subtitle, paham lirik lagu, buat keliatan keren, buat bekal akdemik atau karier, tapi lebih dari itu. Skill bahasa asing yang kita miliki bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaatdan lebih luas yaitu sebagai sarana dakwah yang relevan dengan zaman. Langkah kecil kita hari ini, entah itu satu kalimat caption dalan bahasa asing atau komentar di postingan orang dari belahan dunia lain, dampaknya bukan hanya cakupan lokal tetapi cakupan global. Tanpa sadar hobi yang awalnya kita anggap biasa malah menjadi aliran pahala bagi kita. Mendapat berkah dari yang awalnya kita cuma anggap hobi, bukannya itu bagus banget? Jika skill bahasa asingmu udah bagus, apakah kamu akan menggunakannya untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan?

Wallahu a’lam bish-shawab

Oleh : Hilwa Syifaurrahmah
Mahasiswa STISHK Prodi Hukum Ekonomi Syariah Semester 6