KUNINGAN(MASS) – Sifat “tidak enakan” atau selalu merasa bersalah saat menolak permintaan orang lain kini menjadi fenomena sosial yang banyak melanda masyarakat. Banyak orang merasa harus selalu siap membantu demi menjaga cap sebagai orang baik di lingkungannya.
Kecenderungan psikologis yang melelahkan inilah yang disoroti Hilyatul ‘Ulya, mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah STISHK. Ia menilai, akar utama dari sifat selalu berkata “iya” ini sebenarnya bukan karena seseorang terlalu baik. Pola perilaku tersebut lebih sering dipicu oleh rasa takut dikecewakan, takut dianggap jahat, atau takut dikucilkan dari lingkungan sekitar.
“Akar dari sifat tidak enakan sering kali bukan karena kita terlalu baik, melainkan karena rasa takut. Takut mengecewakan orang lain, takut dianggap jahat, takut ditolak, atau takut tidak lagi disukai oleh lingkungan sekitar,” tuturnya kepada kuninganmass.com Rabu (10/6/2026).
Ia menyebutkan dampak buruknya dari kebiasaan mengutamakan kenyamanan orang lain secara berlebihan bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri. Seseorang yang terjebak dalam kondisi ini lambat laun akan mengabaikan kebutuhan dan kebebasan pribadinya.
“Orang yang tidak enakan biasanya dianggap ramah, pengertian, dan mudah diajak bekerja sama. Namun, jika dilakukan terus-menerus, sifat ini dapat menjadi boomerang,” tandasnya.
Hilya mengingatkan setiap manusia memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan kapasitas emosional yang jelas. Jika terus dipaksakan tanpa henti, seseorang berisiko besar mengalami stres berat, frustrasi, hingga kelelahan emosional.
“Masalahnya, setiap orang memiliki keterbatasan. Waktu, tenaga, perhatian, dan kapasitas emosional tidaklah tanpa batas. Ketika seseorang terus memberi tanpa memperhatikan kebutuhannya sendiri, ia berisiko mengalami kelelahan emosional,” tambahnya.
Ia menegaskan, belajar untuk berani berkata “tidak” pada hal-hal yang di luar kemampuan bukanlah sebuah tindakan yang egois. Langkah tersebut justru menjadi bentuk kejujuran, kesadaran, serta penghargaan tertinggi terhadap kesehatan mental diri sendiri.
“Karena itu, belajar berkata “tidak” bukan berarti menjadi orang yang jahat, cuek, atau tidak peduli. Sebaliknya, berkata “tidak” adalah bentuk kesadaran bahwa kita memiliki batas kemampuan,” tambahnya.
Menutup tanggapannya, Hilya mengajak masyarakat awam untuk mulai menyeimbangkan rasa peduli kepada orang lain dengan kepedulian terhadap diri sendiri. Menjadi orang baik tidak berarti harus selalu setuju, melainkan berani menetapkan batasan demi menjaga kewarasan.
“Pada akhirnya, menjadi orang baik tidak berarti selalu berkata “iya”. Menjadi orang baik juga berarti jujur terhadap kemampuan diri, berani menetapkan batasan, dan memahami bahwa kebutuhan diri sendiri sama pentingnya dengan kebutuhan orang lain,” pungkasnya. (raqib)