RTRW Sudah Menyiapkan Masa Depan Kuningan, Apakah Dunia Pendidikan Sudah Siap?

KUNINGAN (MASS) – Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kuningan 2026–2046 memberi pesan yang sangat jelas. Kuningan sedang bersiap menjadi simpul energi, logistik, dan investasi. Rencana pembangunan PLTA, PLTS, PLTP, PLTB, gardu induk, jaringan SUTET, hingga penguatan infrastruktur menunjukkan bahwa wajah ekonomi Kuningan dua puluh tahun ke depan akan sangat berbeda dengan hari ini.

Namun ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada di mana pembangkit akan dibangun atau jalur transmisi akan melintas.

Apakah dunia pendidikan Kuningan sudah menyiapkan manusianya?

Sering kali kita terlalu sibuk membicarakan proyek, tetapi lupa mempersiapkan sumber daya manusia yang akan mengelolanya. Padahal sejarah menunjukkan bahwa kemajuan suatu daerah tidak ditentukan oleh megahnya infrastruktur, melainkan oleh kualitas manusianya.

Jika investasi datang, industri berkembang, dan kebutuhan tenaga kerja meningkat, siapa yang akan mengisi peluang itu? Apakah putra-putri Kuningan akan menjadi insinyur, teknisi, analis, operator, manajer, dan wirausahawan? Ataukah justru posisi-posisi strategis diisi tenaga kerja dari luar karena kompetensi lokal belum siap?

Inilah tantangan sesungguhnya.

Pendidikan tidak boleh lagi hanya berorientasi pada kelulusan, nilai rapor, atau angka ujian. Pendidikan harus mulai membaca arah pembangunan daerah. Kurikulum memang disusun secara nasional, tetapi penguatan kompetensi, kegiatan kokurikuler, kemitraan dengan dunia usaha, dan budaya belajar dapat diarahkan agar selaras dengan kebutuhan masa depan Kuningan.

Jika RTRW menempatkan Kuningan sebagai kawasan energi dan investasi, maka sekolah harus mulai memperkuat literasi sains, teknologi, matematika, kecerdasan buatan, robotika, kelistrikan, energi terbarukan, logistik, sistem informasi geografis, serta kemampuan berbahasa asing. Semua itu bukan untuk mengejar tren, tetapi untuk memastikan generasi muda mampu bersaing ketika peluang benar-benar hadir.

SMK harus menjadi ujung tombak transformasi ini. Program keahlian perlu dibangun melalui kemitraan yang erat dengan dunia usaha dan industri sehingga lulusan tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga keterampilan yang benar-benar dibutuhkan. Perguruan tinggi pun perlu memperkuat riset terapan yang menjawab tantangan pembangunan daerah.

Di sisi lain, SD dan SMP memiliki peran yang tidak kalah penting. Pada jenjang inilah fondasi berpikir kritis, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, literasi digital, dan karakter dibentuk. Anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah dasar adalah generasi yang kelak akan bekerja di Kuningan pada saat visi RTRW mencapai puncaknya.

Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Kemajuan teknologi tidak akan berarti tanpa integritas. Daerah yang maju bukan hanya membutuhkan tenaga kerja yang cerdas, tetapi juga manusia yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Sebab Kuningan tetap memikul amanah sebagai daerah yang memiliki fungsi konservasi dan sumber kehidupan bagi wilayah sekitarnya.

Karena itu, investasi terbesar bukanlah gardu induk, pembangkit listrik, atau jalan baru. Investasi terbesar adalah pendidikan. Infrastruktur dapat dibangun dalam hitungan tahun, tetapi membangun manusia membutuhkan waktu satu generasi.

RTRW telah menggambarkan ke mana Kuningan akan melangkah. Kini dunia pendidikan harus menjawab pertanyaan yang sama pentingnya: siapa yang akan membawa Kuningan menuju masa depan itu?

Jika sekolah, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat mulai bergerak dengan visi yang sama sejak hari ini, maka dua puluh tahun mendatang Kuningan tidak hanya dikenal sebagai kabupaten yang memiliki infrastruktur modern, tetapi juga sebagai daerah yang berhasil melahirkan generasi unggul yang menjadi pelaku utama pembangunan.

Sebab pada akhirnya, masa depan sebuah daerah tidak dibangun oleh beton, baja, atau kabel listrik. Masa depan selalu dibangun oleh manusia yang dipersiapkan dengan baik.

Oleh: Dadan Satyavadin