Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/kuninganmass/public_html/wp-content/themes/zoxpress/zoxpress/parts/post/post-img.php on line 35

Netizen Mass

Renungan Tahun Politik, Meneladani Kepemimpinan Nabi

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 21).

Pilkada: Magnet Politik dengan banyak resiko

Di tengah polemik publik, Pilkada tetap akan digelar pada 9 Desember 2020. Efektif sejak 26 September-5 Desember 2020, para calon pemimpin daerah melakukan kegiatan kampanye dengan metode pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka dan dialog, pemasangan alat peraga kampanye, debat publik penyebaran bahan kampanye, dan kegiatan lain melalui medsos dan media daring. Adapun masa tenang dan pembersihan alat peraga mulai 6-8 Desember 2020.

Pilkada memiliki magnet politik tersendiri. Pilkada tahun ini diikuti oleh 715 bakal pasangan calon. Dari 715 paslon, 24 di antaranya merupakan calon gubernur dan wakil gubernur. Jumlah ini tersebar di 9 provinsi. Di tingkat kabupaten/kota, terdapat 691 pasangan calon bupati dan wakil bupati serta calon wali kota dan wakil wali kota. Jumlah ini tersebar di 260 kabupaten/kota.

Pilkada 2020 digelar di 270 wilayah di Indonesia meliputi 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Disebut magnet, kontestasi pilkada ini nyaris tak pernah sepi dari kandidat yang siap mewakafkan dirinya untuk membangun daerah. Tapi benarkah motivasi mewakafkan dirinya menjadi satu-satunya motivasi ikut pilkada?

Prof Rhenald Kasali dalam bukunya bertajuk Change Leadership Non-Finito mengurai daya tarik kepemimpinan, beliau menyebutnya sebagai hipotesis yang kemungkinan besar menjadi motivasi para kandidat mendaftarkan diri sebagai bakal calon: Pertama, Hipotesis “Bukan Saya”; Kedua, Hipotesis “Panggilan Suci”; Ketiga, Hipotesis Kehormatan; Keempat, Hipotesis Puncak Karir; Kelima, Hipotesis Petugas Partai; Keenam, Hipotesis Kesempatan; dan Ketujuh Hipotesis “Rakyat Memanggil.

Magnet politik yang kencang dengan ragam motivasi. Padahal di depan sana ada resiko yang tidak kecil. Tengok saja data yang dirilis KPK, tahun 2019 saja tercatat dalam rentang waktu 2004-2019 sebanyak 119 kepala daerah telah ditangkap dengan kasus korupsi. Sepanjang 2004-2019, komisi anti-rasuah telah memproses pidana 114 kepala daerah, yakni 17 gubernur, 74 bupati, dan 23 wali kota.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Mayoritas mereka yang ditangkap KPK karena kasus Suap dan Gratifikasi. Jika diurai kasus lainnya meliputi pengadaan barang dan jasa, penyalahgunaan anggaran, perizinan, suap dan gratifikasi, tindak pidana pencucian uang dan pungutan. Penyalahgunaan anggaran mencapai 27 kasus dan suap/gratifikasi sebanyak 81 kasus.

Diantara berbagai kemungkinan, mengapa banyak yang terjerat di pusaran kasus seperti itu yakni PILKADA kita high cost, alias berbiaya tinggi. Selain soal nyali mencalonkan diri, menurut banyak tulisan; pilkada kita diikuti oleh mereka yang punya kapasitas finansial berlimpah. Entah bersumber dari kekayaan pribadi ataupun sumbangan dari berbagai pihak. Asumsi berbiaya tinggi diyakini sebagai sumber awal petaka dimulai. Berhadapan dengan lembaga anti rasuah.

Pilkada: Alternatif Pengabdian pada Masyarakat

Berbicara pengabdian pada masyarakat ada banyak jalan yang bisa ditempuh. Dan Pilkada hanyalah salah satu, bukan satu-satunya pintu pengabdian untuk berbuat maslahat bagi masyarakat. Taburkanlah kebermanfaatan untuk sekitar dalam posisi sebagai apapun kita hari ini.

Pilkada: Asa Legasi Masa Depan

Sebagai sebuah tata cara memilih pemimpin, pilkada sebenarnya kesempatan terbaik bagi kita untuk menentukan pilihan politik di TPS dengan prinsip LUBER JURDIL. Namun sayangnya, hal-hal normatif dalam dunia politik kita masih menghadapi tantangan besar yang tidak jauh dari pragmatisme.

Kita belum secara rigid melihat kapasitas dan kapabilitas sebagai dasar untuk memutuskan pilihan. Terlebih bicara soal kekuatan visi dan misi untuk masa depan daerah yang bersangkutan. Yah, variabel menentukan pilihan memang banyak termasuk unsur popularitas. Ada seloroh Kapasitas, Elektabilitas, dan Popularitas saja tidak cukup. Perlu Tas yang lainnya….

Lahirnya calon pemimpin masa depan melalui pilihan langsung oleh warga, sejuta asa disematkan kepada mereka yang siap berkhidmat. Memimpin dengan legasi. Mereka memainkan peran sebagai Pemimpin bukan PENGUASA.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Era disrupsi dan tantangan kedepan, pendekatan leadership yang dibutuhkan adalah mereka yang visioner untuk membangun daerah. Banyak sekali yang akan dihadapi kedepan mulai dari antisipasi bonus demografi, daya saing umkm, kesetaraan dan pemberdayaan gender, perlindungan anak dan perempuan, lapangan kerja, pelestarian lingkungan alam dan masih banyak lagi.

Visioner Leardership sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan di masa depan. Pemimpin yang berkarakater Servant Leadeship.

Digital Society akan memperkuat tuntutan publik soal layanan publik yang prima, transparansi dan akuntabilitas anggaran serta penerapan good governance yang didasarkan pada moralitas yang baik dari para pemimpin. Sungguh kita berada di era masyarakat akan semakin melek dan cerdas secara politik. Praktek dan pendekatan leadership zaman old akan segera usang dilindas zaman.

Pilkada: Teladani Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW

Belajar dari banyak kasus para pemimpin yang ditangkap lembaga anti rasuah, mari kita berhenti sejenak untuk merenungkan. Apa sebenarnya yang keliru dari motivasi para calon pemimpin masa depan? Bisa jadi jawabannya adalah karena motivasi memimpin kita kurang ruh keteladanan. Dan bicara keteladanan, kita mesti punya role model atau suri teladan.

Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini semoga menyadarkan kita semua tentang hakikat bermaslahat untuk masyarakat, hakikat pengabdian untuk masyarakat. Jikapun memiliki motivasi kuat untuk memimpin, maka mesti banyak belajar dari teladan kita, Nabi Muhammad SAW. Beliau memiliki managerial skills yang tinggi. Beliau mengedepankan keteladanan dalam memimpin, memiliki akhlaq mulia, dan memiliki empati yang tinggi. Dan kita belajar, beliau adalah pemimpin yang tegas dan bijak.

Nabi Muhammad SAW merupakan sosok pemimpin yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Hal ini diakui oleh Michael Hart seorang penulis Barat dalam bukunya “The 100, a Rangking of The Most Influential Persons in History”. Dengan sangat obyektif ia menempatkan Nabi SAW sebagai orang paling berpengaruh dalam sejarah.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.”

Advertisement. Scroll to continue reading.

Hj Heni Susilawati, S.Sos. M.M. (Akademisi Uniku)

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Bank Kuningan

You May Also Like

Netizen Mass

Kudu Nepi Memeh Indit, Kudu Nganjang ka Pageto Papagah kolot atau petuah orang tua yang menyebut kudu nepi memeh indit, kudu nganjang ka pageto...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Pilkada hakikatnya merupakan momentum sirkulasi elit politik lokal yang rutin digelar setiap lima tahun. Sejak 2005, diksi pilkada langsung telah dikenal...

Netizen Mass

Pendahuluan Pilkada melibatkan banyak stakeholder, satu diantaranya yakni pemilih. Siapa mereka? Setiap individu yang memenuhi syarat sebagai pemilih sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang...

Politics

KUNINGAN (MASS) – Belakangan, Hj Heni Susilawati MSi mulai lantang menyuarakan keinginannya maju di politik praktis. Mantan komisioner KPU dua periode Kabupaten Kuningan ini,...

Advertisement