Presma Unisa Soroti Jalan Berlubang, Mahasiswa Turun Pasang Tanda Bahaya, Sindir Pemerintah?

KUNINGAN (MASS) – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Al-Ihya (BEM UNISA) melakukan aksi penandaan jalan berlubang di sejumlah titik sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan pengguna jalan.

Ketua BEM UNISA, Muhamad Sayffulloh Rohman, menilai kondisi jalan rusak yang dibiarkan tanpa penanganan menunjukkan lemahnya perhatian pemerintah terhadap keselamatan masyarakat.

“Di tengah gencarnya slogan pembangunan dan janji pelayanan publik, jalan berlubang di sejumlah titik justru dibiarkan menjadi jebakan harian bagi masyarakat. Ironisnya, yang turun tangan memberi tanda peringatan bukan pemerintah daerah, melainkan mahasiswa,” ujar Eful sapaan akrabnya, Selasa (12/5/2026).

Ia menegaskan, kewajiban penanganan jalan rusak sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Dalam Pasal 24 ayat (1), kata Eful, disebutkan penyelenggara jalan wajib segera memperbaiki jalan rusak yang berpotensi menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Sementara pada Pasal 24 ayat (2) ditegaskan apabila perbaikan belum dapat dilakukan, maka penyelenggara jalan wajib memberikan tanda atau rambu pada jalan rusak guna mencegah kecelakaan.

Namun menurutnya, kondisi di lapangan justru berbeda. Banyak jalan berlubang dibiarkan tanpa penanda maupun perbaikan. “Kondisi ini bukan sekadar kelalaian teknis, tetapi bentuk kegagalan menghadirkan negara dalam urusan paling dasar, yakni keselamatan rakyat,” katanya.

Ia juga menyindir kondisi masyarakat yang dinilai lebih hafal lokasi jalan berlubang dibanding program pemerintah.

Aksi penandaan jalan rusak dilakukan di beberapa titik yang dinilai membahayakan pengendara, terutama pada malam hari. Meski belum mencakup seluruh lokasi, BEM UNISA menyebut gerakan tersebut akan terus dilakukan hingga ada langkah konkret dari pemerintah daerah.

Tak hanya itu, BEM UNISA juga menyindir pola kerja pemerintah yang dinilai lebih cepat memasang baliho dibanding memberikan tanda bahaya di jalan rusak.

“Lucu rasanya melihat jalan berlubang bertahun-tahun dibiarkan, tapi spanduk ucapan selamat pejabat bisa berdiri hanya dalam semalam,” sindirnya.

Mahasiswa bahkan mengancam akan melakukan aksi tambal jalan secara mandiri apabila pemerintah daerah tetap lamban menangani kerusakan jalan.

“Kalau pemerintah tidak juga bergerak, maka rakyat akan menambal sendiri jalan berlubang itu. Biar sejarah mencatat, mahasiswa bukan hanya mengkritik, tapi sampai harus menggantikan tugas pemerintah,” katanya.

BEM UNISA menegaskan, persoalan jalan rusak bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut keberpihakan terhadap keselamatan masyarakat. “Sebab di setiap lubang yang dibiarkan, ada risiko nyawa yang dipertaruhkan,” pungkasnya. (didin)