Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/kuninganmass/public_html/wp-content/themes/zoxpress/zoxpress/parts/post/post-img.php on line 35

Netizen Mass

Potret Mahasiswa Kuningan Setelah Lulus: Jutaan Mahasiswa Bahkan Tidak Menyadari

KUNINGAN (MASS) – Jutaan mahasiswa bahkan tidak menyadari bahwa setelah lulus kuliah mereka akan mendapatkan seribu USD masalah setiap hari tanpa harus keluar rumah. Masalah loh gan, sist, bukan penghasilan, gaji, apalagi passive income yang sering ditawarin sama trader professional di iklan youtube.

Ada topik yang cukup menarik untuk kita perbincangkan sebagai kaum yang katanya agent of change, yaitu topik mengenai masa depan mahasiswa Kuningan setelah lulus kuliah. Saya pernah berdiskusi dengan seorang adik—ketemu gede, yang diawali dengan pertanyaannya, “Kak kalo udah lulus kuliah, mau kerja dimana? Pulang ke Kuningan? Kuningan susah dapet kerja, loh, Ka.”

Saya jawab dengan balik bertanya dengan sedikit candaan, “Masa iya Kuningan susah dapet kerjaan? Sepertinya lebih susah lupain kenangan mantan! Haha,” timpal saya tertawa sambil teringat perkataan Pak Ridwan Kamil bahwa permasalahan millennial itu ada dua, masalah pekerjaan dan pasangan. “Serius, Kak,” jawab si adik—ketemu gede, dasar cewek mintanya diseriusin mulu, haha.

Oke kita kembali ke laptop, back to topic. Mari kita diskusikan bersama terkait masalah pekerjaan dan pasangan di Kuningan.

Kalau dari sisi para aktivis, sepertinya kalimat “sulit dapat kerja di Kuningan” akan mendapat respon kurang lebih seperti ini, “Loh, kamu nggak tau? Kerjaan di kuningan itu banyak. Permasalahannya pun tidak tanggung-tanggung, coba kamu lihat angka kemiskinan di Kuningan, juara 2 se-Jawa Barat. Kekeringan di berbagai tempat padahal banyak sumber mata air. Penyumbang stunting terbanyak padahal menang kategori Kabupaten Layak Anak (KLA). Nah, itu pekerjaan rumah kita sebagai mahasiswa agent of change.”

Dan si adik tiba-tiba menimpali, “Ah, mereka yang berteriak lantang turun ke jalan, pada akhirnya sering diundang senior untuk bagi-bagi proyekan, sering soan ke petinggi-petinggi untuk cari eksistensi, eh kepentingan organisasi, eh salah, yang benar adalah untuk mengawal pemerintah agar tetap fokus pada kepentingan rakyat.”

“Hus, jangan ngawur, haha, itu kan bagian dari perjuangan juga,” jawab saya sambil tertawa. Memang banyak benarnya juga perkataan itu. Pada kenyataannya, saat mahasiswa, idealisme menjadi harga mati, setelah selesai jadi mahasiswa kadang idealisme malah jadi mati, yang ada tinggal urusan gaji, eksistensi, instastory, dan pujaan hati.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Lalu coba kita lihat dari sisi para politisi yang sedang menduduki jabatan penting di kota ini. Jika kita berikan pertanyaan tentang bagaimana pendapatnya terhadap kesulitan mendapat pekerjaan di Kuningan ditambah UMR Kuningan yang menduduki ranking bawah di Jawa Barat, mungkin jawabannya tidak akan jauh dari jawaban ala-ala politisi Senayan sebagai kiblat persandiwaraan.

“Ya kita coba maksimalkan APBD semaksimal mungkin untuk program yang bisa membuka lapangan pekerjaan.” –padahal APBD-nya saja gak jelas dan sulit diakses.

“Untuk para anak muda, ya kita coba buatkan program pelatihan dan pengembangan anak muda agar siap kerja dan memiliki kreatifitas yang mumpuni.”–padahal gak ada creative corner, yang ada malah digusur pusat kegiatan pemuda. Ya begitulah mungkin kurang lebih.

Tidak perlu bicara idealisme terlalu jauh, tidak perlu bahas program yang tak tahu arah. Terlepas dari aktivis atau bukan, terlepas itu urusan politisi atau bukan, nampaknya setelah lulus kuliah masalah anak muda sama, yaitu pekerjaan dan pasangan.

Semisal lowongan CPNS di Kabupaten Kuningan, dari 184 formasi yang tersedia, terdapat 5488 orang yang mendaftar. Inilah salah satu potret bahwa tingkat ketimpangan antara ketersediaan lapangan kerja dengan jumlah angkatan kerja di Kabupten Kuningan begitu terasa.

Kalau melihat data Disnakertrans tercatat jumlah penduduk usia kerja pada tahun 2018 sebanyak 787.905 orang, dengan rincian 420.935 orang, penduduk bekerja 357.843 orang, dan pengangguran terbuka sebanyak 63.092 orang. Inilah potret keadaan Kuningan saat ini, ketersediaan peluang dan kesempatan kerja serta hidup sejahtera di Kota Kuda masih terbilang sulit.

Jumlah angkatan kerja yang setiap tahun terus meningkat ditambah banyaknya warga kuningan yang berada pada usia produktif adalah realitas yang nyata. Bisa jadi keuntungan atau malah bisa jadi petaka. keuntungan apabila dapat dikelola dengan tepat dan dengan tersedianya lapangan kerja. Petaka apabila ketersediaan lapangan kerja benar-benar tidak ada, apabila ketersediaan peluang usaha masih sebatas wacana.

Lulusan universitas luar kota/negeri atau kuliah di kota sendiri, pada kenyataannya kita adalah bagian dari 63.092 kaum pengangguran terbuka. Dan pada akhirnya kita pun sama, sama-sama bertarung dalam persaingan ketat pasar tenaga kerja. Akan ada alternatif-alternatif pilihan selain bekerja di kota sendiri atau memilih mengabdi untuk kota ini. Apapun pilihannya nanti, bekerjalah dengan kesungguhan hati dan tetap peduli dengan kondisi Kota Kuningan ini.***

Advertisement. Scroll to continue reading.

Fudzi Hanafi,
Mahasiswa Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
Founder Inspiring Generation (I-Gen)

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Bank Kuningan

You May Also Like

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Kemiskinan selalu menjadi pusat perhatian. Selalu jadi bahan pemberitaan bagi para jurnalis dengan frame berita yang dibuat dramatis lan tragis. Selalu...

Advertisement