KUNINGAN (MASS) – Panitia peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2026 tingkat Kecamatan Cipicung, baru saja menggelar kegiatan workshop untuk perangkat Jumatan, yakni Imam, Khatib dan Muroqqi, pada Senin (19/10/2026) kemarin.
Kegiatan yang digelar di aula KUA Kecamatan Cipicung itu, diikuti puluhan peserta dari berbagai desa se kecamatan. Workshop sendiri diampu oleh Dr KH Aang Asy’ari LC M Si, Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan.
Selain dihadiri puluhan peserta, nampak hadir langsung dalam kegiatan, Kepala KUA Kecamatan Cipicung beserta jajaran, juga perwakilan MWC Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Cipicung, dan perangkat desa.
Dalam kegiatan, nampak para peserta serius saat mengikuti workshop yang diisi KH Aang Asy’ari. Mantan Sekretaris PCNU Kuningan dan PCINU Mesir itu, menjelaskan berbagai aspek dalam praktik Jumatan, termasuk perbedaan madhab di dalamnya.
KH Aang Asy’ari sendiri merupakan sosok alim muda, yang aktif di kegiatan dan lembaga keagamaan. Lulusan Al Azhar Mesir itu, saat ini tercatat sebagai Direktur Aswaja Kuningan, Dosen Pascasarjana Unisa, juga salah satu Ketua MUI Kuningan dan Komisi Fatwa MUI Pusat.

Ketua Panitia HSN 2026, Aef Syaeful Millah S Sy, menjelaskan bahwa workshop ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan HSN tingkat Kecamatan Cipicung. Workshop menyasar laki-laki yang notabene perangkat Jumatan.
Sebelumnya, kata Ketua Panitia, rangkaian kegiatan peringatan HSN menggelar berbagai kegiatan dengan menyasar segmen lain. Ada liga santri untuk anak-anak, serta muhafadah yasin untuk kalangan ibu-ibu.
“Alhamdulillah (acara workshop perangkat Jumatan) selesai dengan lancar, banyak juga yang hadir,” ucapnya, pasca kegiatan.
Rangkaian peringatan Hari Santri Nasional ini, puncaknya akan digelar pada Kamis 22 Oktober 2026. Selain menggelar upacara sebagai kegiatan puncak, Panitia HSN Cipicung juga merencanakan kegiatan istighosah berkolaborasi dengan MWC NU Kecamatan Cipicung.
Dikatakan Aef, dalam istigosah itu nantinya juga akan berdoa bersama untuk memohon hujan. Kekeringan panjang ini tidak hanya berdampak pada kebutuhan harian, tapi juga menyebabkan tingginya potensi kebakaran, termasuk terjadi juga di beberapa wilayah Kecamatan Cipicung. (eki)
