Muhasabah dan Resolusi Momentum Pergantian Tahun Baru Hijriyah

KUNINGAN (MASS) – Kita kembali melewati pergantian tahun. Bagi sebagian orang, momentum ini identik dengan pesta pora yang menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Namun bagi seorang Mukmin, peristiwa pergantian tahun sejatinya adalah tadzkirah yang paling nyata: bahwa jatah hidup kita di dunia berkurang, meskipun secara matematika usia bertambah.

Imam Hasan Al-Basri pernah mengingatkan melalui ungkapannya: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Apabila satu hari berlalu, maka berlalu pulalah sebagian dari dirimu.” Artinya, setiap detik yang lewat bukan sekadar angka di kalender yang berganti. Ia adalah potongan tubuh kita, bagian dari nyawa kita, yang tidak akan pernah kembali.

Dengan pemaknaan seperti itu, semestinya setiap pergantian tahun baru hijriyah kita manfaatkan untuk melakukan muhasabah total: sejauh mana bekal yang sudah kita siapkan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian?

Audit Sebelum Diaudit

Khalifah Umar bin Khattab RA, pemimpin yang ditakuti setan dari jalan lain, ternyata punya kebiasaan yang membuat kita malu: rutin mengevaluasi dirinya sendiri. Beliau berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang. Bersiaplah untuk menghadapi hari yang amat dahsyat. Pada hari itu segala sesuatu yang ada pada diri kalian menjadi jelas, tidak ada yang tersembunyi. Umar yang dijamin surga saja takut dihisab, lalu bagaimana dengan kita?

Pergantian tahun adalah momentum audit tahunan. Bukan audit keuangan perusahaan, tapi audit amal. Rasulullah SAW sudah membocorkan empat pos yang pasti ditanya di Hari Kiamat: “Tidaklah melangkah kaki seorang anak Adam di hari kiamat sebelum ditanya tentang empat hal: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dihabiskan, dan tentang ilmunya untuk apa dimanfaatkan.” (HR. Tirmidzi).

Coba kita jujur pada diri sendiri. Dari 525.600 menit dalam setahun kemarin, umur: berapa menit untuk sujud? Berapa menit untuk scroll medsos tanpa arah?  Masa muda: dipakai untuk dakwah atau hanya untuk nongkrong sampai Subuh? Harta: berapa persen yang menjadi sedekah jariyah? Berapa persen habis untuk ganti HP demi gengsi?  Ilmu: sudah berapa majelis ilmu didatangi? Atau ilmu hanya jadi pajangan di status?

Terkait umur, Rasulullah SAW memberikan standar yang jelas: “Sebaik-baik manusia ialah yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya, tetapi buruk amal perbuatannya.” (HR. Tirmidzi).

Panjang umur tanpa amal saleh itu musibah. Sebab setiap tambahan nafas artinya tambahan peluang maksiat jika tidak diisi dengan kebaikan. Maka doa kita bukan “Ya Allah panjangkan umurku”, titik. Tapi “Ya Allah panjangkan umurku dalam ketaatan kepada-Mu”.

Lihatlah para salaf. Imam Nawawi wafat di usia 45 tahun, tapi karyanya Riyadhus Shalihin dan Arba’in Nawawi menghidupi umat 700 tahun lebih. Imam Syafi’i wafat 54 tahun, tapi mazhabnya menaungi jutaan Muslim. Mereka paham: bukan panjang pendeknya umur, tapi padat tidaknya amal.

Waktu adalah Kehidupan

Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan: “Siapa yang mengetahui arti waktu berarti mengetahui arti kehidupan. Sebab, waktu adalah kehidupan itu sendiri.” Kalimat ini mengubah cara pandang kita. Menyia-nyiakan 1 jam = membunuh 1 jam dari hidup kita. Begadang untuk hal sia-sia = bunuh diri pelan-pelan.

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya Al-Waqtu fi Hayatil Muslim merinci tiga karakter waktu yang harus kita pahami: Sari’ul murur: Cepat berlalu. Detik ini jadi masa lalu. Tak bisa di-pause. La ya’udu: Tidak akan kembali. Kesempatan shalat Subuh tadi yang terlewat karena main HP, tidak bisa diulang. Anfasul amwal: Harta paling mahal. Orang kaya bisa beli jam Rolex, tapi tidak bisa beli 1 detik yang sudah lewat.

Pertanyaannya sangat mendalam: jika waktu cepat berlalu, tidak mungkin kembali, dan merupakan harta paling berharga, apakah pantas jika kita menyia-nyiakannya untuk hal yang tidak bernilai di sisi Allah?

Kaifiyah Resolusi

“Hisablah dirimu sebelum dihisab” (Umar bin Khaththab). Maka setiap profesi wajib melakukan muhasabah di setiap akhir tahun, kemudian menetapkan azam yang kokoh untuk perbaikan di tahun depannya. Dengan muhasabah dan resolusi ini, di setiap pergantian tahun kita akan menjadi manusia yang bernilai di hadapan Allah SWT dan terhormat di tengah umat.

Pertama, hijrah penggiat media: dari provokasi ke pencerahan. Muhasabah: sudah berapa konten kita yang memecah, bukan menyatukan? Resolusi: menyajikan informasi yang menyejukkan, mencerdaskan, dan menyatukan umat. Menjalankan tabayyun total sebelum menyebar berita. Stop hoaks, stop clickbait adu domba. Menjadikan media sebagai alat edukasi publik.

Kedua, hijrah pengusaha dan pemilik harta: dari menumpuk ke mengalirkan. Muhasabah: sudahkah bisnis kita 100% halal? Sudahkah hak karyawan ditunaikan? Resolusi: menjalankan bisnis yang halal, transparan, dan bebas riba-gharar-suap. Memberikan upah layak kepada karyawan sebelum keringatnya mengering.

Ketiga, hijrah orang tua dan anak: dari abai ke peduli. Muhasabah: rumah kita sudah menjadi madrasah, atau sekadar tempat singgah? Resolusi: orang Tua: menjadikan keluarga sebagai pusat penyiapan generasi berakhlakul karimah. Ada taklim rutin, keteladanan, dan dialog iman setiap pekan. Anak: berbakti kepada orang tua, mendoakan, membahagiakan, menjaga lisan, dan menjaga nama baik keluarga.

Keempat, hijrah guru dan siswa: dari mengajar ke membentuk peradaban. Muhasabah: kita mendidik untuk nilai rapor, atau untuk nilai akhirat? Resolusi: guru: mengerahkan seluruh potensi untuk membentuk siswa yang cerdas intelektual, matang emosional, dan kuat spiritual. Siswa: mengerahkan seluruh kesungguhan untuk menuntut ilmu, mengamalkannya, menghormati guru, menjaga nama almamater, dan menyiapkan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kelima, hijrah pemimpin dan rakyat: dari kuasa ke amanah. Muhasabah: kebijakan kita sudah pro rakyat, atau pro sekelompok orang? Resolusi: pemimpin: menunaikan hak rakyat, tidak menelantarkan, dan bekerja keras mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera. Jabatan adalah pelayan, bukan kekuasaan. Rakyat: mendukung penuh setiap program yang maslahat untuk umat. Berani mengingatkan dengan adab terhadap setiap penyimpangan kebijakan, dan menolak politik uang.

Keenam, hijrah politisi dan pejabat: dari memanfaatkan ke melayani. Muhasabah: amanah rakyat kita pakai untuk umat, atau untuk keluarga dan golongan? Resolusi: politisi/anggota legislatif: memeras pikiran dan tenaga untuk merumuskan regulasi yang berpihak pada kemaslahatan rakyat yang memberi mandat. Pejabat: memberikan pelayanan prima, cepat, dan tanpa pungli. Menyadari bahwa gaji berasal dari uang rakyat, sehingga haram meminta imbalan tambahan.

Dengan demikian, hijrah adalah kerja nyata, bukan wacana. Sebagai apa pun peran kita, mari pastikan di tahun depan menjadi tahun peningkatan manfaat untuk umat, bangsa, dan negara. Puncak kebaikan adalah ketika keberadaan kita dirasakan oleh orang banyak.

Semoga setiap berganti tahun kita tidak hanya menambah angka usia, tetapi menambah nilai di sisi Allah SWT. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.***

Penulis : Imam Nur Suharno / Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat