KUNINGAN (MASS) – Tim Kuliah Pengabdian Masyarakat Transformatif (KPST) Institut Islam Kuningan Desa Susukan melakukan kunjungan edukatif ke Situs Purbakala Batu Cupu yang berada di Dusun Pahing, Desa Susukan, Kecamatan Cipicung.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk mengenal lebih dekat peninggalan sejarah yang berada di lingkungan masyarakat sekaligus mendorong kesadaran warga, khususnya generasi muda, agar ikut menjaga keberadaan situs tersebut.
Situs Batu Cupu memiliki peninggalan berupa struktur batu kuno yang disebut berpola yoni. Keberadaan situs tersebut juga memiliki hubungan dengan tradisi masyarakat setempat serta cerita rakyat mengenai Pangeran Arya Santang yang masih dikenal oleh warga hingga saat ini.
Bagi masyarakat Desa Susukan, keberadaan Batu Cupu bukan hanya menjadi peninggalan masa lalu. Situs tersebut juga menjadi bagian dari identitas dan kekayaan budaya lokal yang memiliki nilai sejarah serta cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam kunjungan tersebut, tim KPST tidak hanya melihat kondisi situs, tetapi juga menggali informasi mengenai sejarah, tradisi, dan cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkenalkan potensi sejarah lokal kepada generasi muda.
Perwakilan Tim KPST Desa Susukan Afdilah mengatakan pelestarian situs bersejarah harus dilakukan bersama dan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat dan generasi muda juga memiliki peran penting dalam menjaga peninggalan leluhur.
“Situs Batu Cupu bukan sekadar peninggalan batu kuno, melainkan identitas dan kekayaan budaya yang harus kita rawat bersama,” ujarnya kepada kuninganmass.com Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, edukasi dan publikasi menjadi salah satu cara untuk meningkatkan perhatian masyarakat terhadap keberadaan situs tersebut. Dengan semakin banyak masyarakat yang mengetahui nilai sejarahnya, diharapkan kepedulian untuk menjaga situs juga semakin kuat.
“Melalui publikasi dan edukasi secara berkelanjutan, kami berharap keberadaan cagar budaya di Desa Susukan ini semakin dikenal luas dan tetap terjaga kelestariannya,” tegasnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya KPST Desa Susukan dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat. Tidak hanya melalui kegiatan sosial, mahasiswa juga berupaya mengangkat potensi sejarah dan budaya yang ada di desa tempat mereka melaksanakan pengabdian.
Pelestarian Batu Cupu dinilai penting agar peninggalan tersebut tidak hilang atau rusak akibat perkembangan zaman. Perhatian terhadap situs juga diharapkan dapat membuka peluang pengembangan edukasi sejarah dan potensi wisata budaya secara tetap memperhatikan nilai serta kelestarian situs.
“Dengan kegiatan ini kami mengajak masyarakat untuk tidak melupakan sejarah yang ada di lingkungan sendiri. Warisan leluhur harus dikenali, dijaga, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya agar nilai sejarah dan budaya lokal tetap hidup,” pungkasnya. (raqib)