Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Ilustrasi MBG.

Netizen Mass

MBG di Sekolah: Program Baik, Realitas Lapangan, dan Pertanyaan tentang Keadilan

KUNINGAN (MASS) – Di atas kertas, Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu program paling menjanjikan dalam dunia pendidikan. Gagasannya sederhana, tetapi kuat: memastikan setiap anak datang ke sekolah dengan perut terisi dan tubuh siap belajar. Tidak ada jargon rumit, tidak ada konsep abstrak. Hanya satu tujuan dasar, anak tidak boleh kalah sebelum pelajaran dimulai.

Dalam banyak kasus, MBG memang membawa perubahan nyata. Guru melihat kelas yang lebih tenang. Anak-anak lebih fokus. Kehadiran membaik. Bagi keluarga rentan, satu porsi makanan di sekolah berarti satu kekhawatiran berkurang di rumah. Dalam konteks ini, MBG bekerja sebagaimana mestinya: menjadi fondasi, bukan hiasan kebijakan.

Namun seperti banyak program besar lainnya, kekuatan MBG justru menuntut kejujuran yang lebih besar dalam pelaksanaannya. Karena di lapangan, realitas jarang sesederhana konsep.

Ketika Anak Lapar, Pendidikan Tidak Pernah Dimulai dari Garis yang Sama

Di banyak sekolah negeri, terutama di wilayah pinggiran, desa, atau kawasan padat penduduk, anak yang datang ke sekolah tanpa sarapan bukan pengecualian. Itu realitas harian. Bukan karena orang tua tidak peduli, tetapi karena keterbatasan ekonomi, jam kerja yang panjang, dan kondisi rumah tangga yang rapuh.

Dalam kondisi seperti ini, MBG benar-benar menjadi penentu. Anak yang lapar sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan cepat kehilangan minat belajar. Tidak ada metode pengajaran yang mampu menembus tubuh yang kekurangan energi.

Di sekolah-sekolah ini, MBG bukan sekadar tambahan. Ia adalah syarat minimal agar pendidikan bisa berjalan dengan masuk akal.

Dampak Nyata di Lapangan: Kecil, Tapi Konsisten

Sekolah yang sudah menjalankan program makan bersama atau program sejenis umumnya melihat perubahan yang cepat, meski tidak dramatis:

  • Anak lebih siap mengikuti pelajaran
  • Konflik kecil antar murid berkurang
  • Guru lebih mudah mengelola kelas
  • Anak lebih betah berada di sekolah

MBG tidak serta-merta mencetak prestasi akademik. Tetapi ia menciptakan prasyarat yang selama ini diabaikan: kesiapan fisik dan mental anak untuk belajar.

Namun Tidak Semua Sekolah Berangkat dari Titik yang Sama

Masalah mulai muncul ketika MBG diterapkan secara seragam, tanpa cukup mempertimbangkan kondisi tiap sekolah.

Di sejumlah sekolah swasta, terutama di perkotaan, kebutuhan gizi anak sebenarnya sudah terpenuhi. Beberapa sekolah bahkan memiliki dapur sendiri, menu terstandar, pengawasan ahli gizi, dan keterlibatan aktif orang tua. Bagi mereka, makan bersama bukan hal baru.

Dalam konteks ini, muncul pertanyaan yang wajar:
apakah MBG tetap harus diberikan di sekolah yang sudah mampu memenuhi kebutuhan gizinya sendiri?

Pertanyaan ini bukan bentuk penolakan terhadap MBG, melainkan kritik terhadap cara distribusinya. Karena ketika sumber daya publik yang terbatas digunakan untuk kebutuhan yang sebenarnya sudah terpenuhi, muncul risiko pemborosan dan ketidakadilan.

Penolakan Orang Tua: Tidak Selalu Bentuk Penentangan

Di beberapa sekolah, sebagian orang tua murid menyampaikan keberatan terhadap MBG. Alasannya beragam dan sering kali masuk akal:

  • Anak memiliki kebutuhan gizi khusus
  • Kekhawatiran soal kebersihan dan kualitas
  • Orang tua ingin tetap mengontrol asupan anak
  • Kekhawatiran program menggantikan peran keluarga

Penolakan ini sering dibaca sebagai sikap tidak mendukung program pemerintah. Padahal, dalam banyak kasus, penolakan justru lahir dari kepedulian. Orang tua merasa bertanggung jawab penuh atas kebutuhan anak dan tidak ingin peran itu diambil alih tanpa ruang dialog.

Di sinilah kebijakan publik diuji kedewasaannya. Program yang baik tidak memaksa keseragaman, tetapi membuka ruang penyesuaian.

Sama Rata Tidak Selalu Adil

Salah satu persoalan inti MBG adalah perbedaan antara “sama rata” dan “adil”. Memberikan perlakuan yang sama pada kondisi yang berbeda sering kali terasa adil di permukaan, tetapi tidak menyentuh akar masalah.

Anak yang setiap hari datang ke sekolah tanpa sarapan jelas membutuhkan intervensi berbeda dibanding anak yang membawa bekal bergizi dari rumah. Ketika keduanya diperlakukan sama, tujuan keadilan justru bisa meleset.

Dalam kebijakan sosial, keadilan sering kali berarti keberpihakan pada yang paling membutuhkan, bukan penyamaan perlakuan secara kaku.

Apakah MBG Lebih Efektif Jika Berbasis Kebutuhan?

Banyak pendidik dan pemerhati pendidikan mulai mengajukan pertanyaan yang lebih tajam:
apakah MBG seharusnya diprioritaskan untuk sekolah dan wilayah yang benar-benar membutuhkan?

Secara dampak, jawabannya cenderung ya. MBG paling terasa manfaatnya di sekolah dengan:

  • tingkat kemiskinan tinggi
  • masalah gizi dan stunting
  • keterbatasan akses pangan sehat
  • keluarga dengan ketahanan ekonomi rendah

Di wilayah-wilayah ini, MBG bukan sekadar layanan tambahan. Ia adalah penopang utama agar anak tidak tertinggal sejak awal.

Pendekatan berbasis kebutuhan juga membuka ruang fleksibilitas. Sekolah yang sudah mampu bisa diberi opsi lain: penguatan standar gizi, subsidi bahan pangan lokal, atau dukungan bagi sistem makan yang sudah berjalan baik.

Tujuan MBG Perlu Diluruskan

Jika MBG dipahami sebagai “memberi makan semua anak”, maka perdebatan akan terus berputar. Namun jika tujuan utamanya dipahami sebagai memastikan tidak ada anak yang gagal belajar karena lapar, maka arah kebijakan menjadi lebih jelas.

MBG bukan soal menyeragamkan semua sekolah. Ia soal menutup kesenjangan paling dasar yang selama ini menghambat pendidikan.

Karena itu, evaluasi dan penyesuaian bukan tanda kegagalan, melainkan tanda keseriusan.

Penutup

Makan Bergizi Gratis adalah program baik dengan potensi besar. Namun potensi itu hanya akan terwujud jika kebijakan ini dijalankan dengan kejujuran melihat lapangan, keberanian mengoreksi diri, dan kerendahan hati untuk mendengar suara orang tua dan sekolah.

MBG tidak perlu dipertahankan sebagai simbol. Ia perlu dijalankan sebagai solusi nyata, tepat sasaran, fleksibel, dan adil.

Karena pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak diukur dari berapa banyak piring yang dibagikan, tetapi dari berapa banyak anak yang akhirnya bisa belajar dengan layak, karena kebutuhannya benar-benar dipahami.

Oleh: Eka Sukmana, M.Pd, Pemerhati Pendidikan

Advertisement
Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Trending

You May Also Like

Olahraga

BANDUNG (MASS) – Persib Bandung berhasil mengamankan posisi puncak di klasemen setelah mengalahkan Maluku United dengan skor 2-0 dalam pertandingan yang digelar di Stadion...

Ragam

KUNINGAN (MASS) – Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Kuningan baru saja menggelar kegiatan “Sekolah Negarawan” yang bertempat di desa Gunungkeling kecamatan Cigugur, Sabtu (7/2/2026) ini. Kegiatan...

Ekonomi

KUNINGAN (MASS) – Dalam rangka memperkuat kemandirian dan kesejahteraan lembaga pendidikan keagamaan, Koperasi Diniyah Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Kuningan resmi dikukuhkan pada...

Headline

KUNINGAN (MASS) – Buntut polemik pengolahan air yang dilakukan PAM Tirta Kamuning Kabupaten Kuningan ke luar daerah, bahkan sampai ditegur dengan SP-3 oleh BBWS...

Ragam

KUNINGAN (MASS) – Dalam rangka meningkatkan keandalan sistem kelistrikan dan pelayanan kepada masyarakat, PT PLN (Persero) mengumumkan akan melakukan pemadaman listrik terencana di beberapa...

Ekonomi

KUNINGAN (MASS) – Dalam era digital saat ini, anak muda dituntut untuk lebih melek terhadap investasi, terutama di bidang saham, cryptocurrency (krypto), dan forex....

Ekonomi

KUNINGAN (MASS) – Dalam beberapa waktu terakhir, Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Sindangagung diterpa isu tidak sedap. Pasalnya, kantor UPK Kecamatan Sindangagung dianggap vakum...

Insiden

KUNINGAN (MASS) – Banjir bandang melanda kawasan Kampus Pascasarjana dan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon pada...

Headline

KUNINGAN (MASS) – Satpol PP Kuningan bersama Relawan Peduli Masyarakat Kuningan (RPMK) melakukan kegiatan penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di lingkungan Karangasem, Kelurahan...

Mojang

KUNINGAN (MASS) – Salamah yang kini masih berusia 16 tahun, bersekolah di SMK Karya Nasional Kuningan. Usianya bisa dibilang masih remaja, tapi rasa lapar...

Politik

KUNINGAN (MASS) – Gerakan Rakyat Kabupaten Kuningan resmi mendaftarkan diri sebagai partai politik ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Kuningan, pada Selasa...

Pemerintahan

KUNINGAN (MASS) – Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan menerima kunjungan Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Akhmad Wiyagus, Jumat (6/2/2026). Kehadiran Wamendagri RI tersebut dalam...

Nasional

JAKARTA (MASS) – Timnas Futsal Indonesia berhasil mencetak sejarah pada Kamis (5/2/2026), pasca pukul mundur Jepang dengan skor 5-3 di semifinal AFC Futsal Asian...

Nasional

MALAYSIA (MASS) – Universitas Muhammadiyah Kuningan (UM Kuningan) terus memperkuat langkah strategis internasionalisasi dengan melakukan kunjungan resmi ke Universiti Putra Malaysia (UPM) dalam rangka...

Pemerintahan

KUNINGAN (MASS) – Sebanyak 80 pejabat administrator Eselon III A di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan mengikuti Retret Peningkatan Kapasitas Manajerial, Penguatan Integritas, dan...

Ekonomi

KUNINGAN (MASS) – Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) bersama Perum BULOG memperkuat sinergi dalam mengamankan penyerapan Gabah Kering Panen...

Pemerintahan

KUNINGAN (MASS) – Dari 20 kandidat pimpinan BAZNAS Kuningan, 1 diantaranya dianggap gugur atau mundur, karena tidak hadir dalam Test Kemampuan Dasar (TKD) metode...

Olahraga

KUNINGAN (MASS) – Turnamen Futsal Liga Fondation 2026 resmi ditutup setelah berlangsung selama 18 hari. Ajang ini diikuti oleh ratusan tim dari berbagai kategori...

Ekonomi

KUNINGAN (MASS) – Harha cabai rawit hijau dan rawit merah terpantau mengalami kenaikan harga per hari ini, Kamis (5/2/2026). Kenaikan harga cabai rawit ini...

Headline

KUNINGAN (MASS) – Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) menyebut tak pernah mengurus ijin pengelolaan air Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PAM) Kuningan di...

Headline

KUNINGAN (MASS) – Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Kuningan Ir I Putu Bagiasna MT, menyebut ada opsi untuk membongkar tutup...

Netizen Mass

“Di Berita: rakyat kita paling bahagiaDi Rumah: Bu, buku tulisku habisLalu ia mengambil tali, tepat saat negara sibuk memoles citra diri” Potongan narasi di...

Pemerintahan

KUNINGAN (MASS) – Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra, menghadiri kegiatan Pasamoan Agung yang digelar di Taman Kota Kuningan, Kamis (5/2/2026). Kehadiran Dicky Chandra...

Pemerintahan

KUNINGAN (MASS) – Sebanyak 186 ASN di lingkup Pemerintah Kabupaten Kuningan segera masuk masa pension. Penyerahan SK Pensiun kepada ASN yang mencapai Batas Usia...

Pemerintahan

KUNINGAN (MASS) – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan pentingnya menjaga stabilitas ekonomi, khususnya ketersediaan pangan dan stabilitas harga, menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari...

Bisnis

KUNINGAN (MASS) – Banyak manfaat dari batu yang diambil dari tambang tradisional CIleuleuy. Bahkkan diantaranya untuk program pembangunan dari pemerintah. Hal itulah yang disampaikan...