Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/kuninganmass/public_html/wp-content/themes/zoxpress/zoxpress/parts/post/post-img.php on line 35

Headline

Kisah Dua Pedagang Asongan yang Ketiban Untung Saat Demo

KUNINGAN (MASS) – Sampai kapan pun apa yang terjadi di aksi demo di depan Gedung DPRD, Jumat (9/10/2020) lalu tidak akan dilupakan oleh dua pedagang asongan.

Betapa tidak, disaat demo sedang berlangsung, mereka berdua di tarik ke tengah aksi pendemo.

Mungkin, dua pedagang asongan ini juga sama bingungnya, saat ditarik masa pendemo pada.

Orang pertama adalah pedagang asongan berupa mainan anak, serta makanan ringan seperti tahu, telur puyuh dan air mineral.

Saat tangannya ditarik kedepan oleh salah satu pendemo, terlihat perawakannya sedikit membungkuk dan ringkuh ketika berjalan di tengah kerumunan.

Lelaki tua yang ditarik pendemo itu, tetap menunjukan keengganannya, atau mungkin malu-malu mengikuti pendemo yang mengajaknya.

Sangat beralasan, karena saat itu, ratusan bahkan mungkin ribuan mata masa aksi demontransi dari mahasiswa, mengikutinya berjalan menuju panggung utama ‘sidang rakyat’.

Dengan sedikit terlihat tidak terlalu nyaman, pedagang asongan itu di dudukan di kursi. Tepat di tengah sidang rakyat.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Tentu pedagang asongan itu terlihat canggung, selain kursi depan saat itu diisi para ‘ketua’ dari mahasiswa, pedagang itupun terlihat lebih kikuk.

Ketika diperkenalkan, bahwa 8 orang yang duduk lesehan di aspal, tepat di hadapannya itu adalah anggota dewan yang terhormat.

Meski tetap terlihat canggung dan ragu, garis wajahnya menunjukan sumringah. Mungkin karena sorakan dan teriakan.

Serta riuhnya tepuk tangan mahasiswa membuatnya merasa utuh sebagai rakyat, pemegang kekuasaan tertinggi di negara ini.

Anggota dewan hanya wakilnya di parlemen, benar-benar memuliakannya sebagai rakyat.

Suasana semakin riuh dan meriah, apalagi orasi dari para ketua mahasiswa yang memegang toa itu terus menggema. Dan mungkin itu yang memberikannya semangat.

Orasi pun terus menjunjungnya lebih tinggi lagi secara harkat dan moral. Mungkin, saat itu si bapak bisa mengerti rasanya menjadi ‘raja’ di tanah air sendiri.

Orasi mahasiswa yang menggema ke seluruh penjuru, riuh tepuk tangan dan sorakan tak terlihat membuatnya terlalu berbangga. Hanya sanyum simpul tanda bahagia.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Lebih bahagia lagi, di tengah suasana haru seperti itu, dagangannya itu ‘dijajakan’ langsung di depan para dewan.

Mungkin pedagang itu tak pernah menyangka, niatnya mengais rezeki meski di tengah resiko tinggi kerumunan massa akan berbuah benar-benar manis.

Para anggota dewan, atas desakan dan orasi mahasiswa, membuat dagangan asongan itu harus dibeli, dengan harga yang setimpal.

Tinggi bagi pedagang, tapi tentu sangat murah jika dibandingkan intensif para anggota dewan.

Mungkin pedagang itu akan bersyukur, setidaknya, untuk satu hari itu saja, dia tak perlu memikirkan jualannya akan laku atau tidak. Tidak perlu berjualan sampai malam.

Setidaknya, hari itu, dia bisa pulang lebih cepat. Luar biasa, dagangan dalam tentengan kecilnya itu, laku dibeli Rp2 juta rupiah oleh dewan yang terhormat.

Lanjut pada pedagang berikutnya. Si ibu pedagang donat yang juga menarik riuhnya tepuk rangan massa.

Sidang rakyat kali ini, mungkin adalah demontransi paling menguntungkan baginya.

Dengan badan yang sedikit gempal, si ibu terpogoh-pogoh saat ditarik juga ke tengah kerumunan massa.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Benar saja, dagangan donat yang sedang dijajakannya itu, sama nasibnya dengan pedagang pertama. Berhasil dilelang dengan harga yang sama, Rp2 juta rupiah.

Sidang rakyat hari itu, memang bukan hanya jadi milik mahasiswa dan buruh yang suaranya terwakili.

Bukan juga hanya jadi panggung anggota dewan yang berani menghadapi para pendemo.

Bukan saja jadi panggung untuk aparat keamanan yang sabar dan ikut-ikutan diguyur hujan.

Tapi juga milik dua pedagang keliling yang tetap sopan, dan ringkuh menerima kehormatan yang luar biasa.

Mereka hanya cari makan, untuk pribadi dan keluarga. Tak pernah menuntut lebih. (eki)

Advertisement. Scroll to continue reading.
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Bank Kuningan

You May Also Like

Inspiration

KUNINGAN (MASS) – Nasib memang tidak ada yang tahu. Begitu juga dengan umur, jodoh, kebahagian, dan kematian adalah rahasia ilahi. Bedanya, bagaimana cara meresponnya....

Anything

KUNINGAN (Mass)- Disaat para PNS mendapatkan gaji ke 14 dan juga pegawai swasta mendapatkan THR. Bagaimana dengan para pegawai honorer. Ternyata banyak dari mereka...

Advertisement