Kiara Anjar Candra Kirana Salah Satu Cahaya Muda di Langit Pajajaran

KUNINGAN (MASS) – Langit Bandung malam itu seolah memantulkan cahaya budaya yang begitu hidup. Di tengah megahnya pertunjukan Drama Musikal Pajajaran Gugat yang menjadi puncak perayaan Milangkala Tatar Sunda, sosok Kiara Anjar Candra Kirana hadir sebagai salah satu bintang muda di langit Pajajaran.

Acara budaya yang diselenggarakan dan diinisiasi oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi tersebut menghadirkan pertunjukan kolosal yang memadukan unsur teater, musik tradisional, tari, dan narasi sejarah Sunda dalam kemasan modern tanpa meninggalkan ruh budaya leluhur.

Ketika hujan mulai reda dan malam menyisakan suasana hening yang syahdu, suara Kiara perlahan mengalun dari panggung Gedung Sate. Lengkingan tembang Sunda yang dibawakannya menjelma seperti cahaya yang menembus langit malam. Suaranya bukan sekadar nyanyian, melainkan rasa, doa, dan denyut kebudayaan yang hidup dalam jiwa seorang gadis belia penjaga warisan Sunda.

Kiara, yang kerap tampil di berbagai panggung budaya Kang Dedi Mulyadi, malam itu benar-benar menjadi salah satu bintang di langit Pajajaran. Alunan suaranya menggetarkan ruang pertunjukan dan menyentuh hati para penonton yang larut dalam magisnya panggung budaya.

Penampilan Kiara semakin memukau dengan iringan petikan kecapi yang dimainkan apik oleh Ayunda Purwaningsih, penabuh kecapi cilik asal Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Jemari Ayunda menari lembut di atas dawai kecapi, menghadirkan harmoni yang menguatkan suasana syahdu dan sakral dalam pertunjukan tersebut.

Meski tampil di antara para maestro seni musik, nyanyi, dan seni peran Indonesia, Kiara dan Ayunda mampu menghadirkan pesona tersendiri. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa langit budaya Sunda tidak pernah kehilangan cahaya, sebab generasi mudanya terus hadir membawa nyala harapan dan kecintaan terhadap budaya leluhur.

Drama musikal Pajajaran Gugat turut diramaikan oleh sejumlah seniman dan budayawan ternama Indonesia, di antaranya Sujiwo Tejo, Trie Utami, Happy Salma, Dicky Chandra, Charly Van Houten, serta Hetty Koes Endang bersama banyak pegiat seni lainnya yang turut menyemarakkan panggung budaya tersebut.

Momentum Milangkala Tatar Sunda tahun ini juga menjadi tonggak penting dengan apresiasi atas penetapan resmi Hari Tatar Sunda melalui Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 13 Tahun 2026. Pada kesempatan tersebut turut diserahkan buku Ensiklopedia Ki Sunda yang disusun oleh tim pimpinan Prof. Bagus Muljadi kepada Gubernur Jawa Barat sebagai langkah nyata dalam penguatan literasi dan pelestarian budaya Sunda.

Bagi Kiara dan Ayunda, panggung ini bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan jalan pengabdian budaya. Seni bagi mereka bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan — media pépéling luhur yang menanamkan nilai, rasa, dan jati diri kepada generasi bangsa.

Malam itu, di tengah langit Pajajaran yang penuh cahaya budaya, Kiara Anjar Candra Kirana hadir sebagai salah satu bintang muda yang bersinar — menjaga nyala Sunda tetap hidup, mengalun, dan abadi dari generasi ke generasi. (eki/AB)