JABAR (MASS) – Profesor Bagus Mulyadi, ilmuwan Indonesia yang kini menjadi profesor termuda di United Kingdom (UK), meluncurkan buku bertajuk Ensiklopedia Ki Sunda. Hal ini disampaikan melalui sebuah pidato video yang dirilis di akun Instagram Sekretaris Daerah Jawa Barat pada Senin (18/5/2026).
Bagus bertindak sebagai perwakilan dari puluhan ilmuwan gabungan asal Inggris, Australia, Indonesia, dan para pemikir dari Tanah Sunda. Buku setebal tiga jilid tersebut diserahkan sebagai bentuk kontribusi nyata dalam mendokumentasikan pemikiran dan kearifan lokal.
“Saya mewakili dari ilmuwan Inggris, dari Australia Indonesia dan beberapa dari Tanah Sunda untuk menyerahkan proyek ambisius 3 jilid ensiklopedia Ki Sunda. Dan pada hari ini kita bukan hanya akan menyaksikan penyerahan buku, kita akan menyaksikan pengembalian martabat dari orang-orang Sunda,” tuturnya dalam pidato.
Sebagai ilmuwan yang bergerak di bidang ilmu pasti (sains), Bagus mengakh merasa terhormat bisa terlibat langsung dalam tim penyusun. Menurutnya, tidak ada satu pun kebudayaan atau peradaban di dunia yang bisa maju tanpa menyadari dan mempelajari ilmu para leluhurnya.
“Bagi saya untuk terlibat dalam proses ini walaupun saya seorang ilmuwan ilmu pasti itu sangat-sangat terhormat tidak ada satupun kultur di dunia ini yang bisa maju tanpa menyadari ilmu dari leluhurnya,” tambahnya.
Karya besar ini tidak hanya akan berhenti dimasyarakat lokal atau nasional. Tim ilmuwan berkomitmen untuk menerjemahkan Ensiklopedia Ki Sunda ke dalam bahasa Inggris untuk disebarluaskan dan diperkenalkan kepada dunia internasional.
“Orang Sunda akan memperkenalkan karya pemikirannya kepada dunia, ensiklopedia Ki Sunda ini akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan akan didesiminasikan di seluruh dunia,” paparnya.
Dalam pidatonya, Bagus juga menyoroti kemajuan sebuah bangsa tidak boleh hanya diukur dari pembangunan fisik seperti jalanan, gedung, atau sistem hukum. Pembangunan kebudayaan yang sejati justru terletak pada kekuatan pola pikir, nilai-nilai moral, dan martabat manusianya.
“Pembangunan kebudayaan itu bukan hanya terukur dari jalanan dari sistem hukum dari bangunan tapi dari pola pikir dari mitos bahkan dari nilai dari martabat dunia sekarang sedang mencari permasalahan eksistensial,” tandasnya.
Melalui ensiklopedia ini, Ia berharap nantinya bisa membalikkan rujukan ilmu pengetahuan yang selama ini berkiblat ke luar negeri. Dirinya optimistis nanti para ilmuwan Amerika, Inggris, Cina, hingga India yang akan datang ke Indonesia untuk belajar kearifan lokal.
“Suatu hari nanti kita akan menyambut mereka bukan sebagai impor ilmu pengetahuan tapi mengundang ilmu-ilmuan dari Amerika Inggris Australia Cina India untuk datang kemari untuk belajar untuk mencari jawaban dan mendapatkannya,” pungkasnya. (raqib)