KUNINGAN (MASS) – Liburan Ramadhan dan Idul Fitri telah selesai. Para santri kembali ke pondok untuk mengikuti proses pendidikan dan pembinaan. Pun, dengan Pondok Pesanten Husnul Khotimah Kuningan, ribuan santrinya pada hari Ahad 5 April 2026 kembali ke pondok.
Berkaitan hal tersebut, penulis sedikit memberikan tips praktis bagi santri khususnya dan siswa pada umumnya yang sekolah di non pesantren bahwa kunci belajar adalah BETAH. Apabila tidak betah, anak yang pintar pun akan kehilangan konsentrasi dalam belajar. Sebaliknya, anak yang ’pas-pasan’ tetapi betah di pondok maka akan bisa konsentrasi dan belajar dengan baik.
Pendek kata, orang tua mengirimkan anaknya ke pondok karena ingin anak pintar dan saleh. Bahkan jika diminta untuk memilih di antara keduanya, orang tua akan memilih anak yang saleh ketimbang pintar.
Hal yang bisa dilakukan orang tua saat anak belajar berjauhan adalah doa. Bila segala upaya sudah dilakukan, langkah berikutnya adalah menguatkan diri dengan doa. Sebab yang membolak-balikkan hati adalah Allah SWT.
Pada umumnya, orang tua memasukkan anak ke pondok, ingin memperoleh tempat aman dan nyaman bagi anak. Tempat yang sesuai dengan harapan orang tua. Banyak tempat hari ini mengkawatirkan orang tua. Pendek kata, orang tua menghendaki pendidikan yang diberikan menghasilkan anak saleh dan menjadi muslih.
Pola aktivitas keseharian juga berbeda. Di rumah anak banyak menonton televisi dan main HP, di pondok lebih banyak membaca dan menghafal Alquran. Hal sama terjadi juga dalam makan dan minum. Di rumah, makan, minum, dan mandi tidak harus antri, sedangkan di pondok mengantri. Sepintas tidak ada apa-apanya, tetapi di kemudian hari, bisa dirasakan sendiri hasilnya.
Kehidupan di pondok, mengantarkan anak pada kehidupan 24 jam bersama teman. Di rumah mengenal beberapa orang, di pondok mengenal banyak orang dengan belakang keluarga dan daerah yang berbeda-beda.
Di situlah terjadi kerukunan yang lintas batas, menanamkan dan menjalin ukhuwah. Di pondok ditanamkan saling menghargai dan menghormati, juga diajarkan akhlak kepada guru, orang tua, dan teman.
Di sekolah belajar sekitar 2-7 jam, di pondok 24 jam. Pondok menjadi laboratorium, tempat shalat berjamaah, puasa sunah bersama, makan dan mandi antri. Di situ terdapat ujian kesabaran dan berlatih mandiri. Lambat laun akan membentuk karakter. Oleh karena itu, doa tulus tidak hanya menguatkan anak (santri) tetapi juga guru (ustadz) sebagai pembimbing.
Mengapa belajar di pondok? Prof Nanat Fatah Natsir menyebutkan empat keunggulan pendidikan berbasis pondok. Keunggulan ini yang tidak dimiliki sekolah pada umumnya.
Pertama, pondok mengajarkan hakikat keimanan. Keimanan adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena iman menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukannya. Hanya amal yang dilandasi iman yang akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di akhirat nanti.
Keimanaan membentuk fikrah (pola pikir seseorang) menjadi seorang muslim yang bersih dan lurus aqidahnya (salimul aqidah). Itulah bekal asasi memasuki hari-hari yang paling menentukan di “…hari yang tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang lurus.” (QS asy-Syu’ara [26]: 88-89).
Kedua, santri menerima ilmu yang luas dari pendidikan di pondok. Santri tak cuma menerima ilmu menyangkut keagamaan, namun santri betul-betul beribadah kepada Allah. Sebab, selama 24 jam santri mendapat bimbingan dan pengawasan intens dari para ustadz.
Ketiga, di pondok diajarkan akhlak mulia. Dengan akhlak mulia, diharapkan santri menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakatnya. Karena itu, banyak lulusan pondok yang menjadi pemimpin di negeri ini.
Keempat, lulusan pondok dituntut untuk menjaga, mengamalkan, dan meningkatkan amal saleh. Islam menginginkan orang yang berilmu mengamalkan ilmunya demi kebaikan diri dan orang lain. Ilmu pada seseorang ibarat sebatang pohon dan amal sebagai buahnya.
Dengan semangat belajar dan terus berdoa diharapkan menghadirkan suasana aman, tenang dan nyaman sehingga pondok dapat melahirkan insan yang cerdas dan saleh. Amin.
Oleh: Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
















