KUNINGAN (MASS) – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kabupaten Kuningan meminta agar puncak Bukit Mayana Desa Sindangjawa Kecamatan Kadugede tidak diusik sebagai kawasan penyangga ekologis yang sangat penting sehingga tidak layak dijadikan lokasi wisata massal.
Perwakilan LPBI NU Kabupaten Kuningan, El Shelon Caslan atau yang akrab disapa Bah Elon, mulanya mendengar dari media sosial soal kekhawatiran warga soal Bukit Mayana. Pihaknya kemudian melihat langsung lokasi tersebut. Dari hasil peninjauan, LPBI NU menemukan adanya perubahan bentang alam di kawasan Bukit Mayana.
Dimana, sejumlah vegetasi di lereng telah dibuka untuk pembangunan fasilitas wisata berupa jalan yang dibeton, area pandang (view deck), gazebo, titik swafoto, warung, serta fasilitas penunjang lainnya. Pada beberapa titik juga terlihat tanah terbuka yang dinilai rentan mengalami erosi saat musim hujan.
“Dari hasil peninjauan memang terdapat perubahan tutupan lahan yang cukup signifikan. Karena itu, LPBI NU berpandangan puncak Bukit Mayana sebaiknya tidak dibuka sebagai kawasan wisata komersial,” ujar Bah Elon, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, kawasan puncak merupakan daerah tangkapan hujan dan resapan air yang berfungsi menjaga keseimbangan hidrologi. Hilangnya vegetasi akan mengurangi kemampuan tanah menyerap air, meningkatkan limpasan permukaan, memicu erosi, dan memperbesar potensi longsor maupun banjir di wilayah hilir.
“Bukit Mayana bukan sekadar tempat menikmati pemandangan. Kawasan ini adalah benteng ekologis. Pepohonan di sana menyimpan air, mengikat tanah, menjaga kestabilan lereng, sekaligus menopang kehidupan masyarakat di desa-desa bawah. Kalau puncaknya terus dibuka dan dibeton, yang hilang bukan hanya pohonnya, tetapi juga fungsi alam yang selama ini melindungi masyarakat,” katanya.
Bah Elon menegaskan LPBI NU tidak menolak pengembangan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata. Namun, menurutnya, lokasi wisata sebaiknya dikembangkan di kawasan yang memiliki risiko lingkungan lebih rendah dan tidak berada di puncak bukit atau kawasan yang memiliki fungsi lindung.
“Kami bukan antiwisata. Wisata tetap bisa dikembangkan, tetapi jangan di kawasan yang menjadi jantung ekosistem. Masih banyak lokasi lain yang lebih layak untuk dikembangkan tanpa harus mengorbankan daerah resapan air. Jangan sampai keuntungan ekonomi hanya dinikmati beberapa tahun, tetapi kerusakan lingkungannya ditanggung masyarakat selama puluhan tahun,” tegasnya.
Ia menambahkan, pembangunan di kawasan perbukitan harus didasarkan pada kajian ilmiah yang memperhitungkan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Menurutnya, keberadaan jalan beton, bangunan permanen, hingga pembukaan lahan dalam skala luas berpotensi mengubah karakter alami Bukit Mayana.
LPBI NU juga mengingatkan bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari ajaran Islam. Bah Elon mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 41 sebagai pengingat bahwa kerusakan lingkungan merupakan akibat dari perbuatan manusia.
“Allah SWT berfirman, ‘Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar’ (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi yang berkewajiban menjaga alam. Jangan sampai atas nama pembangunan dan pariwisata, kita justru merusak ciptaan Allah yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat,” ujar Bah Elon.
LPBI NU mendorong Pemerintah Kabupaten Kuningan bersama instansi terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengembangan wisata di Bukit Mayana, termasuk meninjau kembali kesesuaian tata ruang, aspek konservasi, dan daya dukung lingkungan. Lembaga tersebut juga meminta agar pembukaan lahan di kawasan puncak dihentikan sampai terdapat kajian ilmiah yang memastikan aktivitas tersebut tidak mengancam fungsi ekologis kawasan.
Menurut Bah Elon, Kabupaten Kuningan selama ini dikenal sebagai daerah konservasi dengan kekayaan sumber daya air dan bentang alam pegunungan yang menjadi penopang kehidupan masyarakat. Karena itu, ia berharap setiap kebijakan pembangunan tetap menempatkan kelestarian lingkungan sebagai prioritas.
“Kalau hutan dan kawasan resapan air rusak, kita tidak hanya kehilangan keindahan alam, tetapi juga kehilangan perlindungan dari bencana. Menjaga Bukit Mayana tetap hijau adalah investasi bagi keselamatan generasi yang akan datang,” tutupnya. (eki)